Tuesday, March 27, 2007

Mendikte (Kehendak) Tuhan (?)

Sejak kapan sebenarnya kita menjadi akrab dengan bencana?

Ya, sebenarnya kalau mau lebih obyektif dalam melihat sejarah bencana alam dan “bencana non-alam” (seperti kecelakaan kereta dan sebagainya), bangsa Indonesia seharusnya memang tidak asing dengan bencana. Tapi memang, sepertinya akhir-akhir ini (sejak bencana tsunami di Aceh pada akhir tahun 2004 lalu), bencana yang silih berganti datang nampaknya memaksa kita untuk lebih mengakrabkan diri dengan kesedihan.

Dan tentu saja, tawaran “hikmah yang dapat diambil” dari semua kejadian tersebut juga bermunculan. Saya sebut “tawaran” karena walau bagaimanapun, hikmah itu saya rasa bersifat sangat pribadi, dan sangat unik tergantung dari setiap individu manusia. Maksudnya, kalau ada seseorang yang berkata hikmah dibalik semua ini adalah bahwa seluruh bangsa Indonesia harus melakukan tobat nasional misalnya, bisa jadi Anda sependapat, dan bisa jadi juga Anda menganggapnya absurd.

Betul?

Kalau Anda bilang “salah”, maka itu membuktikan bahwa tidak semua orang sama dalam memaknai hikmah.... (inilah yang disebut ngeles atau mencari pembenaran dari semua kemungkinan jawaban =p )

Tapi memang menarik untuk memperhatikan bagaimana sebuah masyarakat atau sebuah bangsa menyikapi apa-apa yang sedang terjadi pada dirinya. Karena sebuah bangsa dalam skala luas dapat dipandang sebagai satu individu juga. Maka yang sedang kita lakukan mungkin sama dengan memperhatikan sikap seseorang yang baru saja kecopetan. Ada yang mengucap sumpah serapah, ada yang mengejar copetnya, ada yang ikhlas dan berkata bahwa mungkin memang kurang sedekah atau mungkin si copetnya lagi butuh uang, dan sebagainya. Sama juga dengan memperhatikan sikap seseorang yang baru saja mendapatkan rezeki. Ada yang bersyukur dan mengucap alhamdulillah, ada yang lupa bersyukur dan tidak berucap apa-apa, ada yang menggerutu karena merasa rezeki itu masih kurang banyak, ada yang langsung menyedekahkan sebagian rezekinya itu, dsb.

Singkatnya, sikap satu individu ketika mendapat rezeki dan musibah bisa jadi mencerminkan kepribadiannya, dan mungkin juga bahkan mencerminkan bagaimana kedekatannya dengan Tuhannya. Tentu itu dengan asumsi bahwa individu itu percaya ada Tuhan.

Lantas bagaimana bangsa Indonesia menyikapi semua musibah yang silih berganti menyapa seperti sekarang ini??

Tawaran yang paling banyak beredar sekarang di telinga saya adalah seputar bahwa ini merupakan teguran dari Allah, ujian dari Allah, bahkan ada yang bilang bahwa ini azab atau peringatan dari Allah, dan sebagai turunannya tentu solusi yang ditawarkan berkisar pada “pertobatan” secara nasional. Cukup menggelitik untuk kita bertanya, apakah semua musibah akan berhenti kalau bangsa ini memang, sebutlah, bertobat? Atau pertobatan itu bertujuan untuk menyiapkan masing-masing kita kalau tiba-tiba nanti malaikat maut menjemput? Kemungkinan jawaban yang kedua ini, nampaknya masih agak jarang dipikirkan.

Dengan sendirinya, analisis pemikiran dangkal saya mengatakan, premis yang dipakai adalah: “karena bangsa Indonesia sudah demikian buruknya, maka Allah mengazab bangsa ini. Maka kalau mau negeri ini terhindar dari bencana, bertobatlah!” Begitu bukan? Menurut Anda bagaimana? Atau sayanya yang terlalu dangkal?

Kalau analisis pemikiran dangkal itu benar, saya hanya berpikir... alangkah hebatnya manusia? Seolah manusia bisa mengendalikan kapan Allah harus mengizinkan terjadinya “bencana”. Kalau mau Allah menurunkan bencana, manusia tinggal berbuat kebejatan beramai-ramai. Kalau tidak mau, ya tinggal berbuat kebajikan beramai-ramai. Padahal kita perlu bersama-sama memikirkan juga, apakah “bencana” itu?

Gunung meletus? Apakah itu bencana? Bukankah tanah di Indonesia subur karena banyak gunung berapi juga? Bukankah letusan gunung berapi itu dalam jangka waktu beberapa lama akan menumbuhkan kesuburan di sekitarnya? Ini sekedar contoh saja. Banyak juga contoh-contoh lain siklus alam (baik yang menguntungkan kita maupun tidak) yang salah satu bagiannya merupakan “bencana” bagi kita. Bukankah kita menganggap sebuah peristiwa sebagai bencana hanya karena peristiwa itu merugikan kita (manusia)? Menurut Ada bagaimana?

Maksud saya apa?

Maksud saya adalah... kalau untuk tobat nasional, tidak perlu menunggu bencana atau “azab” datang. Bukankah Al Qur’an telah diturunkan sejak “lama” (karena waktu juga relatif) sebagai pembawa kabar gembira sekaligus peringatan? Mengapa manusia perlu menunggu bencana kalau sejak lama sudah ada peringatan yang nyata di tangannya? Yang kandungannya dibaca dalam setiap sholatnya?

Atau mungkin, kita memang masih menganggap kehendak Allah itu seperti ilmu eksakta. Kalau 2 ditambah 2, ya hasilnya 4. Kalau 4 dikali 5, ya 20. Jadi, kalau manusia berbuat baik, maka nasibnya di dunia juga akan baik. Dan sebaliknya, kalau jahat, ya siap-siaplah diazab di dunia. Benarkah kehendak Allah bekerja seperti itu? Bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untuk ummatNya?

Maka, mohon maaf untuk yang berpendapat lain, saya lebih memandang bahwa “bencana” yang terjadi di Indonesia sebagai siklus alam saja. Kalaupun manusia ada yang dirugikan karenanya, saya rasa untung atau rugi itu tergantung dilihat dari perspektif siapa. Toh Allah maha-adil. Saking maha-adilnya, kadang kita juga dibuat bingung, adil itu apa.

Beda lagi kalau urusannya dengan bencana yang dibuat manusia sendiri. Banjir misalnya... hmmmm.... saya rasa sudah banyak saya singgung dalam postingan di sini.

Flu burung? Nah... ini juga kasus yang cukup menarik. Bagi saya agak absurd sebenarnya mempertanyakan apakah flu burung itu sebuah “azab” juga atau bukan (karena banyak juga yang bilang begitu di koran-koran murahan di kereta). Karena, mohon maaf sebelumnya, tanpa bermaksud menganggap nyawa manusia sebagai sederetan angka semata, jumlah korban yang meninggal karena demam berdarah atau AIDS setiap tahunnya masih jauh lebih banyak dibanding korban flu burung. Lantas mengapa yang jadi pusat berita itu flu burung ya? Karena baru?

Lantas kalau kecelakaan-kecelakaan transportasi bagaimana?

Saya rasa, tidak adil bagi kita menyalahkan “azab” atau kesalahan-kesalahan manajerial manusia dalam mengurus hajat hidupnya. Sama seperti banjir juga, kesalahan manajerial dalam mengurus transportasi di mata saya adalah kesalahan turun-temurun yang mencapai akumulasinya di masa sekarang.

Disaat orang ramai meributkan reshuffle kabinet untuk mendepak menteri perhubungan, dalam perspektif lain saya justru merasa agak kasihan dengan pak menhub yang sekarang ini. Dalam sebuah perbincangan dengan salah seorang rekan kerja yang duduk di sebelah saya setiap hari di kantor, kami sepakat bahwa menteri yang sekarang ini sekedar... “menjabat di waktu yang salah”. Dengan kata lain, dia sedang apes.

Mengapa?

Karena pesawat-pesawat tua yang menjadi andalan semua maskapai di Indonesia ini tidak dibeli pada zaman dia menjabat. Perawatan yang buruk pada kapal-kapal macam Levina tidak hanya terjadi pada tahun ini. Perkara kereta api ekonomi yang bobrok dan selalu kelebihan penumpang sudah terjadi sejak zaman kereta api ekonomi itu sendiri mulai beroperasi. Tapi sejak dulu pula, siapapun yang menjabat menterinya, tidak ada yang sanggup membenahi sistem manajemen yang buruk itu. Mengapa? Karena sebelumnya memang kecelakaan itu belum banyak terjadi, atau setidaknya belum disorot seperti sekarang (karena kita baru sadar ada masalah kalau sudah ada yang celaka). Toh pasca terbakarnya kapal Tampomas dan kecelakaan kereta di Bintaro yang merenggut ratusan nyawa pada pertengahan tahun 1980-an, media belum segiat sekarang dalam mencari berita, dan tidak ada juga yang berani menyuarakan perlunya perbaikan manajemen.

Sekarang, ketika semua alat transportasi telah mencapai usia uzurnya (bahkan seharusnya sudah menjadi fosil), kecelakaan merupakan sesuatu yang “wajar”. Tidak ada yang abadi. Suatu saat atap kereta akan ambruk kalau penumpang menumpuk di atap. Suatu saat kapal akan tenggelam kalau tidak dirawat. Kalau tidak, justru itu yang tidak “wajar” bukan? Dan untuk Menhub sekarang maupun Menhub berikutnya (kalau jadi reshuffle), mohon maaf, sepertinya agak mustahil bagi Anda untuk memeriksa SEMUA kapal, SEMUA gerbong kereta, dan SEMUA pesawat dari Sabang sampai Merauke sekarang, dan melarang yang tidak laik jalan untuk beroperasi. Karena walau bagaimanapun, masyarakat masih membutuhkan kendaraan-kendaraan yang tidak laik jalan itu. Contohnya, akan dikemanakan ribuan pengguna kereta ekonomi jabotabek kalau semua kereta ekonomi itu tidak dioperasikan? Padahal sepertinya hampir semua kereta ekonomi jabotabek itu sudah tidak laik jalan dan potensial menimbulkan kecelakaan kapanpun juga.

Perlu diketahui, ini bukan karena saya mendukung Menhub yang sekarang ataupun terlibat pro-kontra reshuffle. Saya tidak peduli siapapun yang menjabat (toh jabatan menteri lebih banyak pertimbangan politisnya). Yang paling optimal bisa dilakukan sekarang ini adalah memperbaiki manajemen, melengkapi infrastruktur, menetapkan standar tinggi kelaikan moda, dan... yah... silakan yang bekerja di Dephub melengkapi.

Demikian...

Kembali pada soal awal, saya rasa keadilan Allah memang bukan kuasa manusia. Kalaupun ada yang bilang bahwa “di zaman presiden yang dulu bencana jarang terjadi, kenapa di masa presiden sekarang bencana sering terjadi?” Maaf, buat saya opini semacam ini lebih absurd lagi. Apalagi kalau disambungkan dengan sesuatu yang bersifat klenik seperti “ini karena presiden sekarang butuh tumbal untuk bisa naik jadi presiden” atau “karena presiden dulu jin-nya kuat”. MasyaAllah... sepertinya tidak perlu saya elaborasi lagi. Apakah sekarang presiden dan jin yang mengendalikan kehendak Allah? Yang bisa saya katakan hanya: kalau anda mempercayai pemikiran semacam ini, mungkin Tuhan kita tidak sama.

Jadi, bagaimana menyikapi bencana-bencana di Indonesia sekarang ini?

Yah, silakan bertanya, bagaimana orang Jepang menyikapi gempa 7,1 SR yang kemarin menerpanya? Bagaimana AS menyikapi badai katrina? Bagaimana India menyikapi banjirnya? Mari lakukan perbaikan yang bisa kita lakukan, dan berhenti menyalahkan “kehendak Allah”, karena Allah maha mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Lantas bagaimana dengan tobat nasional? Sadarilah, perintah bertobat sudah datang sejak dulu. Karena kalau tobat hanya dilakukan setelah bencana, jangan-jangan kebejatan bakal muncul lagi setelah bencana tidak ada. Toh pertobatan itu lebih baik bertujuan untuk mempersiapkan diri kita sendiri, karena dengan atau tanpa bencana, maut memang bisa datang kapan saja.

Wallahu’alam bish-showab...


Keterangan:
Gambar dari www.safecom.org.au/images/tsunami-aceh.jpg

Wednesday, February 21, 2007

Banjir Jakarta dan Mitos "Banjir Kiriman dari Bogor"



Awal Februari lalu, Jakarta (kembali) diterjang banjir yang, katanya, lebih besar dari banjir pada tahun 2002 yang lalu. Tentu saja, apabila saya teruskan tulisan ini seperti tulisan-tulisan lain di media massa atau bernuansa laporan kejadian pada saat banjir, maka sepertinya sudah terlalu banyak tulisan semacam itu ya?

Saya lebih suka menyoroti ucapan yang SELALU terulang SETIAP kali ibukota Indonesia tercinta ini terkena banjir, dan dalam setiap pemunculannya, ucapan itu selalu membuat kuping saya panas. Ucapan “banjir kiriman dari bogor”. Mengapa kuping saya panas? Apakah semata karena saya termasuk salah satu penduduk Bogor yang tidak mau dikambinghitamkan atas bencana di Jakarta? Atau karena ucapan itu murni salah? Atau karena ada hal lain yang menjadi penyebab utama banjir di ibukota?

Tentu saja, pada tahap ini akan ada teman-teman yang mungkin berkata, tidak ada gunanya saya mempertanyakan atau mempermasalahkan ucapan itu. Tidak ada juga mungkin gunanya menyalahkan pihak manapun saat ini, apalagi segala macam analisis mengenai seluk beluk banjir jakarta. Bukankah yang penting sekarang adalah penanganan korban bencana?

Yah, saya berencana memberi ulasan yang bisa menjawab semua pertanyaan itu sebenarnya... kalau bisa.

Pertama, mari kita analisis ungkapan “banjir kiriman dari Bogor”. Benarkah bahwa memang ada banjir yang dikirim dari Bogor?

Satu hal yang pasti adalah adanya AIR. Ya, air adalah penyebab utama banjir bukan? Sekarang perkaranya, apakah yang dikirim dari Bogor itu? Banjir atau air?

Ya! Tepat! Yang dikirim dari Bogor bukan banjir, melainkan air. Apakah kemudian ada masalah dengan itu? Tentu tidak, karena kalau ada masalah dengan kenyataan bahwa air bergerak dari Bogor (yang topografinya lebih tinggi dari Jakarta), maka sama saja kita mempermasalahkan hukum alam. Hukum alam sejak pertama penciptaan adalah bahwa air akan bergerak dari dataran yang lebih tinggi ke dataran yang lebih rendah. Dan itulah sebabnya dari sumber air di pegunungan, air akan mengalir melalui sungai-sungai yang semuanya mengarah ke laut. Benar?

Lantas darimana banjirnya?

Banjirnya ya dari Jakarta, dan terjadi di Jakarta.

Air mengalir dari Bogor menuju ke laut dengan melintasi Jakarta memang sudah sifatnya begitu. Permasalahannya sekarang adalah APA yang ada di Jakarta sehingga menyebabkan air itu tidak bisa mengalir dengan lancar ke laut. Terhambatnya aliran inilah yang menyebabkan tergenangnya air dan kemudian menjadi banjir. Ditambah lagi, hujan juga tidak HANYA terjadi di Bogor. Jakarta juga hujan deras. Maka konsentrasi air selain yang datang dari Bogor juga terjadi di Jakarta sendiri.

Jadi, secara ringkas saya hanya ingin mengatakan bahwa yang mengalir dari Bogor itu adalah “air”, sementara “banjir” terjadi karena ada sesuatu yang salah di Jakarta. Apa yang salah itu?

Tentu saya rasa anda semua sudah punya 1001 jawaban dan kemungkinan ada 1001 kebenaran didalamnya.

Selokan mampet karena sampah? Sungai mampet karena sampah? Tidak ada kanal banjir yang berfungsi dengan baik? Kawasan hijau yang makin hilang sehingga air hujan tidak terserap ke tanah dan langsung menggenang? Kawasan rawa-rawa di kawasan Jakarta Utara yang secara alami berfungsi sebagai tandon air sudah menjelma menjadi perumahan mewah? Saluran drainase dan gorong-gorong kota yang mampet karena sampah juga? Banyaknya rumah-rumah liar di bantaran sungai yang secara alami sebenarnya berfungsi sebagai tanggul? Kawasan Jakarta Raya yang memang dataran rendah sehingga banjir adalah sebuah keniscayaan di beberapa lokasi?

Apa lagi?

Anda punya jawaban lain lagi?
Apakah semuanya benar?

Ya, semuanya benar.

Sekarang mari kita analisis satu persatu. Siapa yang membuang sampah sembarangan di selokan-selokan, sungai, gorong-gorong, kanal, dan sebagainya yang menyebabkan semua mampet? Siapa yang membangun (dan tinggal di) perumahan-perumahan mewah di bekas rawa-rawa Jakarta? Siapa yang punya kuasa membangun kanal banjir tapi tidak melakukannya? Siapa yang membangun rumah-rumah liar di bantaran sungai dan menolak apabila ditertibkan? Siapa yang menggusur lahan-lahan hijau dan pepohonan di Jakarta?

Penduduk Lampung kah? Penduduk Makassar kah? Penduduk Surabaya kah? Penduduk Bogor kah? Atau Penduduk Jakarta sendiri?

Benar bahwa air mengalir dari Bogor menuju Jakarta. Tapi banjir Jakarta disebabkan terutama oleh... Jakarta sendiri. Siapa menanam benih, dia menuai hasil. Sesederhana itu. Saya rasa sangat menyakitkan membaca paragraf ini, terutama saat derita akibat banjir belum sepenuhnya hilang. Tapi itulah faktanya. Dan kalau selamanya kita mengingkari fakta ini, maka selamanya juga masalah itu akan tetap ada.

Perkaranya, ketika bencana itu terjadi, yang terkena bukan hanya mereka yang sedikit banyak “berdosa” (yang membuang sampah, developer yang membangun rawa-rawa menjadi perumahan, pemda DKI yang tidak membangun tanggul banjir, dll), tapi SEMUANYA jadi ikut merasakan. Sama seperti apabila di sebuah kapal ada satu orang yang iseng melobangi kapal, maka yang tenggelam adalah seluruh penumpang, bukan cuma orang yang iseng tadi saja. Kenyataan yang menyebalkan memang.

Lantas apakah ada sedikit kebenaran dalam ungkapan “banjir kiriman dari Bogor”? Ya, kita tentu akan dapat mengkaitkan dengan kawasan puncak yang kenyataannya sekarang semakin gundul. Kawasan puncak secara alami berfungsi sebagai tandon air sehingga apabila terjadi hujan lebat di kawasan ini, arus air yang mengaliri Sungai Ciliwung tidak akan terlalu besar.

Saat ini, pertumbuhan di kawasan Puncak memang sudah sangat tidak terkendali. Vila, restoran, dan sebagainya begitu mendominasi. Dan ini berpengaruh signifikan dalam menyebabkan besarnya arus air Ciliwung ketika terjadi hujan lebat di Puncak.

Kita tentu akan berteriak, HENTIKAN PEMBANGUNAN DI PUNCAK!!! Berteriak pada siapa? Pemda Bogor dan Cianjur? Ya, mereka adalah pihak yang bertanggung jawab dalam mengeluarkan perizinan untuk vila dan restoran di puncak. Perizinan bagi siapa? Bagi orang-orang yang ingin membangun vila. Siapa orang-orang yang ingin membangun vila itu?? Orang Bogor kah? Atau orang-orang Jakarta juga? (btw, vilanya Pak Sutiyoso di Puncak sudah dibongkar belum ya???)

Menyedihkan memang, Pemda Bogor dan Cianjur menjadikan perizinan di Puncak ini sebagai salah satu sumber pendapatan daerahnya. Tapi menyedihkan juga kalau Jakarta tidak menasihati penduduknya yang terus menerus ingin membangun vila disana. Dan apabila Jakarta ingin Puncak tetap terjaga kelestariannya, mengapa Jakarta tidak memberi kompensasi bagi Bogor dan Cianjur untuk pelestarian lingkungan itu? Berapa besar kompensasinya? Tentu harus sebanding dengan pendapatan yang didapat Bogor dari urusan perizinan pembangunan di Puncak itu. Bagaimanapun, itu untuk kepentingan Jakarta juga. Karena pada era otonomi daerah seperti sekarang ini, Pemda Jakarta tidak mungkin terus menerus mengharapkan “kemurahan hati” Pemda Bogor dan Cianjur dalam mengurus Puncak tanpa memberi insentif yang seimbang.

.......

Pada tahap ini, tentu akan ada yang bertanya-tanya, apa sih gunanya mempermasalahkan ungkapan “banjir kiriman dari Bogor” itu? Apa sih gunanya mempersalahkan penduduk Jakarta atas bencana yang menimpa diri mereka itu?

Yang saya harapkan tidak lebih dari perubahan pola pikir. Dengan selalu menggunakan ungkapan “banjir kiriman dari Bogor”, maka secara bawah sadar, penduduk Jakarta akan selalu menganggap bahwa banjir adalah sesuatu yang antisipasinya diluar kuasa mereka. Dengan kata lain, selalu beranggapan bahwa banjir tidak disebabkan (sedikit atau banyak) oleh perilaku Jakarta sendiri. Akibatnya apa? Akibatnya adalah SETELAH BANJIR BERLALU, penduduk Jakarta akan kembali membuang sampah ke sungai (oke, dalam hal membuang sampah ini, penduduk Bogor juga bersalah, karena penduduk Bogor juga suka membuang sampah ke Ciliwung), kembali membangun rumah di bantaran sungai, kembali mengeluarkan perizinan untuk menggusur ruang terbuka hijau dan rawa-rawa, serta kembali menempatkan pembangunan kanal banjir sebagai prioritas terakhir. Karena Jakarta beranggapan, “mau bagaimana lagi, orang banjirnya dikirim dari Bogor kok...” Dan paradigma ini, saya anggap lebih berbahaya dibanding banjirnya itu sendiri.

Sebagai gambaran, saya beri perbandingan berikut:

Pada pertengahan tahun 1960-an, dan 1970-an, terjadi banjir bandang (besar) di Sungai Ciliwung yang melintasi Bogor menuju ke Jakarta. Pada saat itu, air di Ciliwung sangat tinggi sekali. Berdasarkan informasi dari ibu dan nenek saya (karena pada saat itu saya belum lahir), ketinggian air Ciliwung yang melintasi kawasan Merdeka konon sampai menyentuh dan menggenangi jembatan merdeka (yang menghubungkan kawasan merdeka menuju daerah Ciomas, Gunung Batu dan Bubulak sampai Dramaga). Untuk yang pernah ke kawasan ini, tentu tahu jembatan ini. Yang belum pernah, ya terpaksa harus puas dengan imajinasi masing-masing. Itulah saat dimana penduduk Bogor merasa takut ketika melihat Ciliwung. Pada tahun 1960-an itu, bahkan kawasan Sempur (waktu itu belum diisi perumahan) kebanjiran dan Presiden Soekarno sempat berniat menjadikan kawasan sempur itu sebagai danau buatan (karena genangan airnya memang sudah seperti danau).

Tapi ketika banjir tahun 2002 dan Februari 2007 lalu, ketinggian air Ciliwung sama sekali TIDAK seperti itu. Walaupun debit air terhitung besar, tapi permukaan airnya masih sangat jauh dibawah banjir bandang pertengahan 1960 dan 1970-an.

Tentu anda membayangkan bahwa pada pertengahan 1960 dan 1970-an itu Jakarta sudah seperti tenggelam bukan? Kenyataannya, banjir hanya terjadi di beberapa kawasan di Jakarta, dan rata-rata hanya sampai sebatas betis orang dewasa.

Lantas mengapa dengan debit air Ciliwung yang jauh dibawah banjir bandang dahulu itu, sekarang Jakarta mengalami banjir yang parah? Saya rasa kita sudah tahu jawabannya bukan?

..........

Sesuai dengan trend dalam dunia perencanaan di Indonesia, kalangan perencana dan produk-produk perencanaan baru akan ditanya dan dipermasalahkan apabila terjadi bencana. Maksud saya, seberapa sering media massa dan masyarakat (sampai orang-orang yang berdemonstrasi) meributkan Rencana Tata Ruang Kawasan Puncak sebelum terjadinya banjir di Jakarta? Tentu, mengingat sifat reaktif masyarakat Indonesia (dan sakit hati saya serta rekan-rekan sejawat perencana yang tidak pernah dianggap ada sebelum terjadinya bencana), fenomena seperti ini sudah berulang kali terjadi di Indonesia.

Sekarang mari kita analisis, apakah Rencana Tata Ruang untuk kawasan Puncak dan Sekitarnya itu memang ada? Kalau tidak ada, mengapa tidak ada? Dan kalau ada, mengapa tidak dilaksanakan? Apa artinya “mitigasi bencana”?

Perkara ini, akan kita bahas lain waktu, insya Allah (berhubung tulisan ini sudah TERLALU panjang).

Keterangan, sumber gambar dari :

- www.indonesiaseoul.org

- www.tempo.co.id

- www.jasaraharja.com

Wednesday, February 07, 2007

Daripada Sakit Gigi, Lebih Baik Sakit... Hati ini... (episode 2)

Holaaaa!!!!!

Bagi anda yang sudah membaca pengalaman saya seputar gigi geligi, tentu menanti-nantikan sekuelnya ini bukan? (aaah, sifat narsistik saya belum berkurang nampaknya).

Jadi, setelah kurang lebih 18 tahun tidak pernah ke dokter gigi, akhirnya gigi saya mulai rewel. Sebenarnya sudah berbulan-bulan rasa sakit ini muncul, khususnya apabila mengunyah dengan gigi kiri bagian bawah. Akan tetapi, tentu saja, saya abaikan.

Sampai akhirnya, rasa sakit itu mulai menjadi-jadi. Berbuntut pada bengkaknya kelenjar tiroid saya karena terlalu sering menahan nyeri. Kakak saya, tentu saja, adalah seorang motivator ulung dalam mendorong orang untuk ke dokter gigi. Motivasi diberikan dengan menakut-nakuti saya bahwa kalau saya tidak segera memeriksakan gigi ke dokter gigi, maka ada resiko gigi saya semakin parah, lalu bolongnya mencapai saraf, lalu bisa radang, lalu harus dioperasi, lalu begini lalu begitu lalu begini dan begitu, intinya: MENYERAMKAN.

Maka pada suatu hari sabtu yang mendung disertai hujan gerimis, saya mulai mencari info dimana dokter gigi di Bogor yang bagus.

Info yang cukup banyak saya dapatkan. Tapi nahasnya, hampir semuanya tutup. Sangat jarang ada dokter gigi yang buka pada sekitar pukul 12 siang sampai 4 sore, pada hari sabtu. Meski begitu, ada satu klinik di Bogor yang baru dibuka di Bogor, yang buka pada hari sabtu, dan ada dokter giginya. Inisialnya : BMC (halah, kalo kaya gini sih tetep aja ketauan ya?)

Maka, pergilah saya bersama kakak saya ke dokter gigi itu. Misinya satu, menservis gigi, apapun yang diperlukan.

Saya agak jiper (ciut, red.) ketika melihat penampakan klinik ini. Mengapa? Karena terlihat bersih, baru, dan bonafide (do you know what bonafide means?). lantas kenapa jiper? Karena bonafide berarti satu... MAHAL.

Tapi toh saya dengan gagah berani tetap masuk juga ke klinik itu, menyelesaikan administrasi, dan mengambil sikap duduk manis sambil menunggu bu dokter gigi. Akhirnya tiba giliran saya. Saya cukup canggung berada di dalam ruangan dokter gigi, berhubung tidak ada satupun alat-alat kedokteran yang saya kenal di ruangan itu. Termasuk kursi dokter gigi yang mirip dengan kursi santai di pinggir pantai itu. Meski begitu, hanya satu hal yang ada dalam pikiran saya: “Tetap tenang, jangan keliatan baru pertama ke dokter gigi, dan (pura-pura) bersikap profesional!”

Setelah duduk, disuruh kumur-kumur.

Ha?Kumur-kumur? Aaah, ada gelas berisi air di sebelah kiri. Tentu kumur pake air ini..

Kumur-kumur selesai. Saya bingung harus dibuang kemana. Aaah, ada wadah alumunium berbentuk seperti mangkuk yang terpasang di sebelah kiri kursi ini... tentu dibuang kesini. Air sisa kumur saya buang ke tempat itu. Tidak ada protes dari dokter dan asistennya. Berarti memang benar kesini. Sikap saya masih cukup profesional. Perjuangan selanjutnya adalah tetap bersikap tenang, berlagak tidak takut, dan jangan gentar melihat (atau mendengar) alat-alat yang digunakan untuk mengorek-ngorek gigi saya. Gigi mulai diperiksa, dan ternyata tiga gigi menimbulkan rasa ngilu ketika diketuk.

Hasil analisis : gigi saya bolong 3 buah, yaitu geraham depan di bagian kiri bawah, geraham belakang pojok di bagian kiri bawah, dan leher gigi seri di bagian kanan atas. Sip! Kanan-kiri oke! (dibaca: baik di sebelah kanan maupun kiri ada gigi yang sakit, dan itu sebabnya saya merasa ngilu ketika makan dengan menggunakan sisi manapun dari mulut saya).

Keputusan dibuat. Gigi saya perlu ditambal sementara sebelum diberi tambalan permanen. Saya memilih untuk menambal yang dua di sebelah kiri bawah terlebih dahulu, dan membiarkan yang kanan. Alasannya sederhana. Dengan tambalan sementara, gigi itu tidak bisa digunakan (secara bebas) untuk makan. Maka, kalau semua gigi saya ditambal sekaligus, artinya saya tidak bisa menggunakan baik sisi kanan maupun kiri dari mulut saya untuk makan. Apakah lantas saya harus makan dengan cara diemut?

Selesai...

Saya melangkah keluar dengan tegap. Tapi langkah tegap itu berubah menjadi lemah lesu tak bertenaga setelah saya keluar dari ruangan kasir. 180 ribu rupiah untuk tambal sementara 2 gigi, biaya administrasi, dan pembuatan kartu (yang menurut saya tidak penting). Mengingat saya harus beberapa kali lagi kembali ke tempat ini, jumlah 180 ribu membuat cukup lemas, khususnya ketika keadaan keuangan sedang morat-marit.

Setelah itu, pada pertemuan kedua, gigi geraham bawah bagian kiri depan itu diberi tambalan permanen. 230 Ribu melayang... Saya mulai berpikir untuk ganti dokter, karena saya mulai mendapat info mengenai dokter-dokter lain yang lebih murah.

Lalu... bencana itu datang...

Pada suatu hari ketika sedang makan malam, entah karena saya menggigit terlalu semangat (inilah mengapa anda tidak boleh terlalu bernafsu ketika makan, seenak apapun makanan itu) atau sebab lain, saya merasakan ada satu bagian yang terlepas dari gigi saya yang baru diberi tambalan permanen itu. Saya merasakan lubang yang cukup besar ditinggalkan oleh komponen yang terlepas itu. Untungnya, komponen tadi tidak tertelan. Saya keluarkan, dan setelah dilihat-lihat, saya mengambil kesimpulan bahwa tambalan permanen saya telah terlepas.

Hal pertama yang membuat saya sedih adalah bayangan bahwa saya harus mengeluarkan 230 ribu lagi untuk menambal ulang. Baru setelah itu, makanan yang saya santap jadi tidak terasa enak lagi, dan minuman yang saya minum hanya memiliki satu rasa: NGILU. Dua menit kemudian, saya selesai mengucapkan sumpah serapah dalam 7 bahasa, yang semuanya ditujukan pada gigi saya.... dan sumpah serapah dalam 2 bahasa untuk dokter gigi saya.

Hari berikutnya, kekecewaan saya sedikit terobati karena keluarga dan teman-teman saya menginformasikan bahwa kalau tambalan terlepas, SEHARUSNYA diganti secara GRATIS oleh dokter gigi bersangkutan sebagai bentuk garansi. Maka saya putuskan untuk menelpon dokter gigi saya dan memberitahukan apa yang terjadi.

Di telpon, dokter gigi saya bereaksi dengan: “Beneran pak awan? Mungkin itu yang gigi belakang yang baru ditambal sementara? Masa iya tambalannya sudah terlepas secepat itu? Anda makan apa sih?”

Aaaaaaah.... resistensi? Menolak memberi garansi rupanya? Ckckckck....

Maka saya putuskan untuk tidak menyinggung-nyinggung soal uang, dan cukup sebatas keluhan rasa ngilu di gigi saya (yang memang sangat nyata adanya).

Janji ditetapkan, saya diminta datang Rabu malam untuk melihat kondisi sebenarnya. Akan tetapi, pada hari minggu malam, ada sebuah kejadian yang sebelumnya tidak saya sangka-sangka.

Waktu itu, saya baru saja selesai sikat gigi di malam hari. Ini buat saya adalah sebuah kemajuan, karena sebelumnya saya memang hanya sikat gigi sekali dalam sehari (pagi hari). Baru setelah ada masalah dengan gigi inilah saya menuruti nasihat kakak saya untuk sikat gigi 2 kali sehari.

Selesai sikat gigi, tentu saya kumur-kumur. Setelah itu, ketika saya melangkah keluar kamar mandi, tiba-tiba saya merasakan sakit yang LUAR BIASA pada gigi yang saya kira tambalannya terlepas itu. Tak kuasa menahan sakit, saya jongkok, berdiri, jongkok lagi, berdiri lagi, dan kemudian kembali masuk ke kamar mandi. Saya meludah, dan yang keluar adalah cairan berwarna merah. DARAH? Tidak percaya dengan apa yang terjadi, saya mengambil air untuk berkumur. Air buangan setelah berkumur itu ternyata berwarna merah pekat. Memang benar darah. Saya merasakan gusi saya berdenyut dengan KERAS, dan merasakan darah mulai menggenangi lidah saya. Sambil menahan sakit, saya beberapa kali berkumur lagi sampai air buangannya agak berwarna jernih, meskipun tidak sepenuhnya jernih. Setelah itu, saya jongkok di kamar mandi, menahan sakit sampai mata berkaca-kaca. Selanjutnya, saya menghabiskan 2 jam di kamar saya dengan berguling-guling di tempat tidur untuk menahan sakit karena gusi tidak berhenti berdenyut. Ini bukan ngilu. Ini SAKIT. Setelah kelelahan, saya baru dapat tertidur. Untunglah, pendarahan berhenti pada esok paginya.

Akhirnya saya memutuskan untuk memajukan jadwal ke dokter gigi. Saya kembali ke dokter gigi pada hari selasa siang (dengan izin tidak masuk kerja tentunya. HOREE!!). Setelah tiba giliran saya, saya menghabiskan waktu lima menit untuk menceritakan semua kisah tadi pada sang dokter. Baru kemudian saya diperiksa. Tentu, dalam hati saya tetap tenang karena saya masih berpikiran bahwa kali ini penggantian tambalan SEHARUSNYA gratis.

Setelah memeriksa, sang dokter tersenyum... senyum yang membuat saya curiga.

“Oooooh, ini sih bukan lepas tambalannya pak awan... ini tambalannya masih ada kok.” (saya kurang suka dipanggil dengan sebutan “pak” sebenarnya, tapi nampaknya tampang saya memang mendukung).

Saya mulai ciut...

“Lantas, gigi saya kenapa dok?”

“Ini, gigi yang kemarin ditambal permanen itu, ternyata giginya PECAH sampai ke gusi.”

APA?!?! Saya tidak terlalu percaya apa yang saya dengar. Saya belum mau percaya. Alasan kenapa saya tidak mau percaya adalah.... karena kalau bukan tambalannya yang rusak, artinya saya harus membayar lagi.... (mengeluh dalam hati)

“Giginya atau tambalannya dok?”

“GIGINYA PAK! Ini tambalannya masih ada kok. Ini gigi pecahnya sampai ke gusi. Makanya kemarin berdarah. Mungkin waktu sikat gigi, ini gusinya terkoyak.”

“Ooooo... gitu ya dok?” (menyerah)

“Iya”

“Jadi gimana dong dok?”

“Ini harus dirawat dulu pak. Mungkin harus 4-5 kali balik kesini baru bisa dibenerin giginya...”

lemas.... 4-5 kali balik... 4-5 kali bayar lagi.... mengeluh lagi...

“Tapi... mmmm... dok.... saya sekarang ga bawa uang banyak lho.”

“mmm... yaudah deh, gini aja. Ini tambalan yang permanen kemaren saya bongkar lagi, terus dikasih tambalan sementara. Gigi yang belakang juga saya tambal sementara lagi, soalnya ini udah mau lepas. Gigi yang belakang ga usah bayar deh. Pak awan bayar buat yang gigi bagian depan ini aja... gimana?”

“yaudadeh... gimana baiknya aja” (ya habis harus bagaimana lagi coba?)

Perawatan dilakukan.

Hasilnya, 220 ribu melayang lagi untuk bongkar tambalan permanen, perawatan, dan membeli antibiotik serta obat penahan nyeri (diminum kalau sakit katanya). Yah, setidaknya gigi yang belakang tidak perlu bayar.

Bagaimana kelanjutannya?

Apakah gigi saya bisa dibetulkan?

Nantikan episode berikutnya... =D (haiyah, masih bersambung juga ternyata...)

Monday, January 22, 2007

Daripada Sakit Gigi, Lebih Baik Sakit... Hati ini... (episode 1)

Kapan terakhir Anda pergi ke dokter gigi?

Minggu lalu? Bulan lalu? Tahun lalu??

Sejauh ingatan saya bisa berkelana, terakhir kali saya ke dokter gigi adalah ketika saya akan mencabut salah satu gigi susu saya di klinik gigi Rumah Sakit Ciawi. Dalam kenangan saya, saya keluar dengan mulut agak mati rasa dan gigi ditekan kapas, tapi masih tersenyum ceria karena diberi permen oleh sang dokter yang berpesan baru boleh dimakan setelah gigi saya berkurang nyerinya. Ucapan dokter gigi yang paling saya ingat adalah... ”anak pinteeeer....”

Terkesan lama sekali?

Ya memang sudah lama sekali.

Sejak itu, seingat saya, saya memang tak pernah lagi ke dokter gigi.

Takut? Yaa, mungkin sedikit takut. Tapi alasan utama saya rasa lebih karena malas (inilah alasan utama yang melatarbelakangi semua pengalaman buruk saya sepertinya), dan karena memang saya hampir tidak pernah bermasalah dengan gigi saya. Kalaupun sedikit bermasalah, biasanya didiamkan saja dan tiba-tiba hilang dengan sendirinya. Dan sejak kecil gigi saya ini memang cukup terpercaya, dan dapat digunakan mulai dari untuk menyantap bubur sampai membuka botol minuman ringan (terkesan barbarik?).

Meski begitu, saya memiliki beberapa pengalaman seputar dunia gigi geligi ini.

Pertama, saya mengetahui bahwa gigi saya ini termasuk renggang. Tidak rapat sebagaimana normalnya. Selain karena memang letak gigi-giginya yang memang agak renggang, ukuran juga berpengaruh (size DOES matters). Memang terhitung kecil. Terutama gigi-gigi seri dan geraham depan.

Ini saya ketahui ketika SMP, sewaktu guru biologi saya menerangkan tentang isi dalam mulut. Beliau memerintahkan setiap anak menyelipkan selembar kertas diantara giginya (masing-masing). Apabila kertas itu dapat terselip dengan mudah, berarti gigi si anak terhitung renggang, tapi masih dalam batas normal. Nah, dalam kasus saya, saya menyelipkan sebilah mistar (penggaris) plastik. Dan masuk!

Kedua, adalah pengalaman ketika SD kelas 4. Pengalaman ini sampai sekarang membekas pada gigi saya.

Ketika itu, di kampung (halah, kampung... wong ndeso!) saya sedang dilanda demam sepeda. Maka sebagai salah seorang bocah ceria yang suka berkelana, juga mulai mengembara kemana-mana dengan sepeda, atau sekedar balapan dengan anak tetangga.

Kejadiannya berlangsung pada sebuah minggu pagi (atau lebih tepatnya, pagi-pagi buta / subuh) di lahan parkir sebuah bioskop yang beralaskan paving-block. Pukul 5 pagi, Saya bersama beberapa teman masa kecil sudah bersiap di lahan parkir itu untuk balapan. Maklum anak muda, track-track-an. Ketika tiba giliran saya dengan seorang teman, maka meluncurlah kami dengan menentang angin dan mengadu nyali (pada pagi buta, sebenarnya kami hampir tidak bisa melihat apa yang ada di depan kami), untuk bertaruh siapa yang lebih cepat.

Saya menang (horeee!!!), dan dengan skill bersepeda yang baru saja dipelajari, saya mengangkat kedua tangan sebagai tanda perayaan. Malang bagi saya, ada sebuah paving-block yang tidak terpasang dengan sempurna sehingga posisinya agak menyembul dibanding yang lain. Ban depan sepeda saya terantuk paving-block itu, dan dengan posisi tangan sedang meninju angkasa, saya kehilangan keseimbangan.

Maka jatuhlah saya dengan posisi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Karena masih berada dalam kecepatan yang cukup tinggi, terantuknya roda depan menyebabkan roda belakang sepeda saya terangkat. Dan yang saya perkirakan selanjutnya, sepeda saya terjatuh dengan sebelumnya melakukan jungkir balik hampir sempurna. Saya sendiri? Saya sepertinya terjatuh dengan kepala terlebih dahulu menyentuh tanah.

Nahasnya, ketika itu saya sedang berteriak karena gembira menang lomba. Tentu saja, teriakan itu berubah menjadi teriakan kepanikan. Mulut saya terbuka lebar, dan alhasil saya jatuh dengan posisi gigi terantuk paving-block. Waktu terasa berhenti.

Sebagai seorang anak jagoan (dan baru menang lomba), saya berdiri tanpa menangis dengan rasa ngilu di mulut. Beberapa saat kemudian, matahari mulai muncul ketika kawan-kawan saya memandang dengan aneh ke mulut saya. Apa pasal?

Secuil bagian dari dua gigi seri atas bagian depan nampaknya telah hilang. Dua gigi seri bagian atas depan itu nampaknya telah patah. Mungkin sekitar seperempat bagiannya. Ketika kami menyelidiki lokasi mendaratnya saya tadi, kami menemukan dua potongan berwarna putih (yang tadinya merupakan bagian dari gigi saya) menancap di paving block. Pandangan saya mulai berkunang-kunang, dan air mata mulai meleleh.

Apakah anda merasa ngilu ketika membaca cerita ini? Percayalah, aslinya jauh lebih ngilu.

Nahasnya (lagi), gigi seri bagian depan itu bukan lagi gigi susu. Mereka sudah gigi tetap. Alhamdulillah, sepertinya potongan itu tidak mencapai saraf gigi, sehingga gigi saya (yang tinggal ¾ itu) masih bisa berfungsi sampai sekarang, meskipun penampakannya tidak seindah dulu lagi.

Saat itupun, saya tidak ke dokter gigi.

Ketiga, kakak saya adalah seorang sarjana kedokteran gigi dari.... sebuah universitas swasta terkemuka di Jakarta yang melahirkan pahlawan-pahlawan reformasi (tidak termasuk kakak saya). Beliau tetap dengan status kesarjanaannya itu, tanpa pernah memperoleh gelar dokter gigi, karena berhenti pada tahun pertama koass. Mengapa berhenti? Karena dia tidak tega ketika harus mencabut gigi pasien.

WHAT?!?!!?

Ya. Itulah kenyataannya. Meskipun saya sudah berusaha mendorong semangatnya dengan mengatakan bahwa ”kalo lu nyabut gigi orang, yang sakit kan si orang itu, bukan elu! Santai laaaah!!!”, tapi tetap saja, rasa ketidaktegaan membuatnya selalu bergetar tak karuan saat memegang alat. Dan itu berbahaya. Maka, ditambah beberapa alasan pribadi lain yang tidak layak dipaparkan di sini, berhentilah dia, meninggalkan IPK 3,7 di S-1 kedokteran giginya nyaris sia-sia.

Tentu anda bertanya-tanya, kalau tidak tegaan, lantas mengapa awalnya kakak saya memilih jurusan kedokteran gigi yang mahal biayanya sehingga membuat saya tidak boleh memiliki cadangan di universitas swasta ketika hendak kuliah dan terancam harus ikut KURSUS JAHIT satu tahun kalau tidak lulus UMPTN (SPMB) itu???? (curhat colongan yang dipaksakan)

Dendam!

Ya... dendam saya rasa adalah motif utama kakak saya. Dendam pada dokter gigi (yang akhirnya tidak terlampiaskan karena dia ternyata tidak tega).

Ceritanya begini...

Waktu itu, ada gigi kakak saya yang harus diservis. Dan kebetulan, ada seorang dokter gigi yang praktiknya tidak jauh dari kampung saya. Maka pergilah saya mengantarkan kakak saya dengan sepeda motor (waktu itu, saya masih punya motor).

Di ruang tunggu dokter gigi, yang terjadi adalah fenomenda yang biasa dipamerkan di film-film komedi Warkop DKI (Dono-Kasino-Indro). Ketika kami di ruang tunggu itu, terdengar jerit ketakutan (atau kesakitan?) dari ruang praktik, dan beberapa saat kemudian terlihat seorang pasien berjalan keluar dengan menahan tangis. Kakak saya mulai ciut nyalinya. Saya tenangkan dia dengan berkata... ”tenang... itu sih orangnya aja, takut sebelom bertanding. Pasti jarang ke dokter gigi!”. Kakak saya mulai tenang. Karena agak bosan menunggu, saya putuskan untuk pulang dengan sebelumnya berjanji untuk menjemput kakak saya sekitar satu jam lagi.

Seperti bisa ditebak, saya akhirnya TIDAK menjemput kakak saya, karena asyik menonton televisi dan saya anggap tempat praktik dokter itu cukup dekat. Naik angkot juga paling lama 10 menit.

Kakak saya pulang sekitar satu setengah jam kemudian. Matanya merah. Tangan memegang pipi yang bengkak. Dan kata-katanya tidak jelas. Setelah sebelumnya melempar saya dengan sendal dan marah-marah karena tidak saya jemput, akhirnya dia mulai bercerita apa yang sesungguhnya terjadi.

Karena kakak saya ternyata masih takut setelah mendengar teriakan di ruang tunggu itu, dia meminta sang dokter gigi membiusnya cukup banyak. Akan tetapi, itu tidak membantu banyak. Servis yang dilakukan dokter gigi itu ternyata tetap menyakitkan. Maka kakak saya tetap keluar dengan menahan sakit dan tidak bisa melepaskan tangan dari pipinya.

Karena saya tidak kunjung menjemput, dan kakak saya mulai tak sabar menahan nyeri, dia memutuskan untuk naik angkot. Nahas, angkotnya penuh dan tidak ada penumpang yang rela bergeser. Karena tidak bisa berdebat (dengan mulut habis dibius), kakak saya duduk di pojok belakang.

Tentu saja, bius itu, selain mengakibatkan mati rasa, juga menyebabkan kakak saya sulit sekali bicara. Ditambah dengan gigi yang nyeri. Maka, ketika sudah mendekati rumah, kakak saya kesulitan untuk berkata ”KIRI BANG!” yang menjadi sinyal untuk turun bagi pak supir. Dengan menahan sakit (dan tangis), kakak saya hanya berkata lirih...”kiwi bang... kiwwwiiii... kiww....”

Seorang bapak baik hati yang duduk di depan kakak saya itu bingung. ”Mau turun ya dek?” katanya. Kakak saya mengangguk lemah. Bapak itu kemudian berteriak pada supir angkot ”woy! Kiri bang! Ni orang sakit gigi nih! Mau turun!! Kiri-kiri!!!”. Kakak saya turun dengan pandangan simpatik dari seluruh penumpang angkot, ditambah perasaan bersalah karena sebelumnya enggan bergeser ketika kakak saya akan naik.

Tentu saja, ketika masuk rumah, alih-alih mengucap salam, kakak saya melempar sendal pada saya seraya berkata... ”HOY! Ahek maham afa luh?? Hahanya mo hemput hua?!?? Hrengsek!! Hahit hau hua!!!” (terjemahan : ”Woy! Adek macam apa luh?? Katanya mo jemput gua?!?! Brengsek!! Sakit tau gua!!!”) sambil menahan air mata..

Dan setelah itu, dia menyimpan dendam dalam hatinya, sehingga memutuskan untuk sekolah kedokteran gigi. Melampiaskan dendam pada pasiennya kelak adalah impiannya. Tentu, kita tahu bagaimana akhirnya kemudian... Ketidak-tegaan melihat derita orang lain memang menjadi ciri khas keluarga kami.

Yah... kira-kira itulah pengalaman saya seputar gigi geligi, dimana saya memang jarang sekali ke dokter gigi (gak nyambung).

Akan tetapi....

Beberapa BULAN terakhir ini, nampaknya gigi saya mulai tidak bisa didiamkan begitu saja. Ada sedikit rasa sakit dan ngilu di gigi bagian kiri bawah dan kanan atas (lengkap sudah). Maka, setelah dipertimbangkan dengan cukup mendalam, ditambah perkiraan akan kesanggupan finansial, saya memutuskan bahwa saya harus ke dokter gigi.

Bagaimana ceritanya?
Apakah kesalahan saya ketika saya tidak menjemput kakak saya itu menjadi karma tersendiri?

Nantikan di episode selanjutnya =))

Friday, January 05, 2007

Selingan... Kereta Numpang Lewat Doang...


Beberapa hari yang lalu tiga orang teman melalui fasilitas YM meminta untuk saya melist postingan-postingan cerita-cerita dari kereta, mulai episode 1 sampai terakhir. Ini karena tiga orang ini merupakan "pelanggan baru" (haiyah... kesannya dagangan... laku pula... terlalu memuji diri sendiri nampaknya), yang tertarik dengan cerita kereta, tapi AGAK MALAS untuk mengaduk-aduk postingan lama saya untuk mencari postingan-postingan tersebut.

Mengingat blog "cerita kereta" di blogdrive yang khusus memuat cerita-cerita dari kereta ini sudah saya hapus, saya rasa ada gunanya juga mereview postingan-postingan tersebut...
kalau tidak ada gunanya bagi anda, maka selingan ini silahkan tidak dibaca saja (walaupun kalau sudah sampai sini, berarti anda sudah terlanjur membacanya bukan?).

jadi...
inilah dia...
rangkaian cerita-cerita dari kereta...

1. Naik Kereta Api... Tut tut tuuuut (episode 1)

2. Kalau ada yang bilang bangsa kita bangsa pemalas, saya jitak! (episode 2)

3. Ketika Sholat Maghrib pun Menjadi Sebuah Kemewahan (episode 3)

4. Cakap Punya Cakap (episode 4)

5. Kuingin Slalu Dekat Di Sampingmu (episode 5)

6. Absolutely the Best Place to Shop (episode 6)

7. Komunitas Gerbong (episode 7)

8. It is an art... (episode 8)

9. Kereta Meleduk (episode 9)

10. Doktrinasi !!! (episode 10)

11. Berdarahkah Tuan yang Duduk di Belakang Meja? (episode 11)

12. SEMEX (episode 12)

13. Lha?! Ada toh yang Beginian?? (episode 13)


demikian rangkaian postingannya...

Setelah saya amat-amati (sendiri), ternyata ada perubahan pola, gaya dan topik penulisan mulai dari episode 11... kenapa ya?? kok kesannya tiba-tiba jadi serius gitu ya?? (nulis sendiri nanya sendiri, sepertinya juga punya jawaban sendiri). yah, mungkin memang tiba-tiba kereta mulai serius... atau saya sekedar kehabisan topik (ini yang bahaya!)

eniwey, cerita kereta episode 14 (kalau jadi), akan mengetengahkan "cakap punya cakap, updated!", yang mengambil pola dan bentuk mirip "cakap punya cakap (episode 4)".
tunggu tanggal mainnya!! =D