Tuesday, February 21, 2006

Absolutely The Best Place to Shop (Cerita-cerita dari Kereta, Episode 6)

Satu hal yang jelas, karena ini termasuk seri cerita-cerita dari kereta, jadi yang saya maksudkan dengan “absolutely the best place to shop” itu ya… kereta… atau lebih spesifik, tentunya, KRL Ekonomi Jakarta-Bogor.

Tidak, kita tidak bicara standar belanja kapitalis seperti di Orchard Road, Singapore, atau mungkin butik-butik di Milan. Kita bicara mengenai harga, tawar menawar, dan perjuangan hidup.

Kereta ekonomi sebenarnya bisa kita anggap sebagai sebuah toko serba-ada berjalan. Dan ketika saya bilang “serba ada”, maka saya maksudkan benar-benar SERBA ada.

Berikut adalah daftar beberapa barang yang bisa dijumpai di kereta berikut harganya. O iya, masalah harga ini, sebenarnya cukup fleksibel dan kontekstual, terutama dalam konteks waktu. Pada pagi hari, biasanya, harga-harga masih cukup wajar (sesuai harga pasar pada umumnya). Tapi semakin sore, atau malam, harga mulai terjun bebas,

1. Tahu sumedang.
Ini merupakan salah satu jajanan favorit penumpang kereta. Memang tidak terlalu bergizi, mengingat tahu ini bagian dalamnya “kopong” (ciri khas tahu sumedang memang begitu). Mengenai formalin yang bisa saja menjadi salah satu bahan bakunya...mmm...yaa... kalau sudah lapar dan tidak punya uang, formalin pun gapapa lah buat ganjal perut. Tapi belum pernah ada berita kalo tahu ini berformalin sih.... Mengenyangkan??? Sebenarnya tidak juga... lho? Katanya buat ganjal perut? Kok gak mengenyangkan? Ya sebenarnya kenyang juga kok, kalau makannya 5 atau 10 biji. Memang tidak akan sampai sendawa, tapi lumayanlah untuk bertahan sampai rumah.

Harganya tidak terlalu mahal. Yang besar-besar, pada pagi hari dijual dengan harga 1000 untuk 4 atau 5 tahu. Kalau mau untung, sebenarnya bisa pakai taktik begini, beli 500 perak dapat 3 biji, lalu tunggu penjual tahu lain yang biasanya muncul setiap 5-10 menit, beli lagi 500 perak, dapat 3 biji juga. Jadi dengan 1000 rupiah, sebenarnya bisa dapat 6 tahu. Menjelang malam, biasanya harga mulai disesuaikan, seiring dengan mulai basinya si tahu. Pada kereta malam diatas jam 7, terutama setelah kereta melalui stasiun Depok Baru, biasanya dengan 1000 rupiah, kita bisa dapat 7 biji. Semakin malam, biasanya semua tukang tahu sepakat untuk bertransaksi dengan standar harga MINIMAL 10 biji untuk 1000 perak. Yaa... tapi kalau rasanya agak asam-asam sepet sedikit, ya maklum lah, tahunya dari pagi belum diganti. Pernah juga ada beberapa tukang tahu yang frustasi karena dagangannya belum laku, sehingga bertransaksi dengan standar 15-20 biji untuk 1000 perak. Asem?? Tentu saja... Biasanya banyak juga bapak2 yang membeli tahu asam ini cukup banyak (borongan), misalnya 5000 perak (dapat minimal 50 biji), untuk dibawa ke rumahnya sebagai oleh-oleh buat anaknya, dan sebelum dihidangkan dikukus lagi untuk mengurangi keasamannya. Selain dikukus, bisa juga di rumah digoreng lagi, tapi kalau digoreng ini kulit tahunya akan jadi keras. Ah sudahlah, murah kok minta enak...

Tapi kalau anda tidak mau makan yang agak asam, walau sudah malam sekalipun, tips dalam memilih adalah, cari pedagang yang plastik penutup tahunya masih seperti berembun. Ini adalah tanda kalau si tahu itu baru, atau minimal baru dihangatkan. Tidak asam, tapi harganya tentu juga bukan standar harga frustasi. Supaya lebih menarik, cukup banyak yang meneriakkan slogan “BELI TAHU HADIAH CABE NIH!”

2. Rokok, korek api, tisu, aneka permen, tolak angin cair, dll.
Ini adalah penjualan terlaku kedua di kereta. Harga relatif stabil, karena barang-barang yang dijual tidak cepat busuk, dan setiap waktu ada pembelinya. Dijual dengan harga pasar seperti di luar kereta, dan untuk rokok, biasanya untuk semua merek dijual ketengan (per batang), mengingat cukup jarang pembeli bungkusan. Pembelian rokok ketengan mulai ramai, lagi-lagi, setelah kereta sore memasuki stasiun Depok Baru.

Ada beberapa alasan mengapa rokok paling laku setelah Depok. Pertama, mulai berlakunya perda larangan merokok di Jakarta, sehingga menghisap rokok di kereta beresiko masuk bui atau minimal berurusan dengan pak pulisi. Mengingat status larangan itu adalah Perda DKI Jakarta, maka hanya mengikat di Jakarta. Depok kan sudah bukan Jakarta, jadi tidak perlu masuk bui kalau berasap di Depok sampai Bogor. Kedua, kereta sudah mulai kosong, mengingat hampir setengah kereta turun di Depok. Pusingnya kepala karena berkeringat ga jelas sebelum Depok mendorong para lelaki di kereta untuk berasap. Sebenarnya rokok tidak mengurangi pusing, tapi setidaknya memberi ketenangan semu dan perasaan santai.

Adapun untuk korek api, tersedia berbagai macam dan bentuk, dengan harga bervariasi dan biasanya tidak bisa ditawar, mulai dari merek tidak jelas seharga 500 rupiah sampai model zippo yang tentu saja palsu seharga 5000 rupiah. Tersedia juga korek api gas yang disertai senter kecil di bagian bawahnya, seharga 3000 rupiah, yang biasanya dibeli oleh para pemulung di kereta yang mencari botol atau gelas plastik bekas air mineral. Senter kecil itu sangat berguna kalau lampu kereta mati, mengingat tentu sulit untuk mencari gelas plastik dalam kegelapan.

Karena banyaknya penjual rokok ini, cukup banyak yang mengembangkan metode alternatif untuk menarik perhatian. Salah satunya adalah seorang tukang rokok yang biasa naik kereta dari bogor jam setengah 8 atau 8 kurang 15 pagi. Si abang ini biasanya begitu masuk satu gerbong langsung berjalan cepat ke sisi lain gerbong sambil berteriak-teriak.. “YA, JANGAN BEREBUT, JANGAN BEREBUT!! Semua pasti kebagian, masih banyak, jangan berebut, yang belom dapet, ngacung!!” Setelah semua orang menengok, barulah dia berkeliling di gerbong, menjajakan rokok. Ya, tidak perlu berebut membelinya, pasti kebagian...

3. Jepit rambut, bando, sisir, aksesoris rambut lain, cotton bud, korek kuping berbahan logam, gunting kuku, sabut cuci piring, gunting, washlap untuk mandi, sikat WC, lem tikus, gantungan kunci, racun tikus, kamper, kapur ajaib, gemuk (grease), dan sebagainya yang cukup banyak macamnya, dibawa sekaligus.
Harga biasanya bervariasi dari 1000 rupiah sampai 5000 rupiah. Meski begitu, orang-orang yang tertarik biasanya menawar barang APAPUN dengan 1000 rupiah, tak peduli barangnya apa dan berapa harga yang disebutkan si pedagang, teteeep aja ditawar 1000 perak. Akhir dari peristiwa tawar-menawar ini bisa dua kemungkinan. Pertama, karena si pedagang frustasi, dari pagi sudah berat-berat bawa barang dan sedikit yang laku tanpa ditawar, akhirnya si barang dilepas dengan harga 1000 atau 1500, ditambah muka asam dan kurang bergairah. Kedua, barang tidak jadi dibeli karena si calon pembeli tak mau mengalah, dan si pedagang pergi, sama juga, dengan muka asam dan kurang bergairah. Intinya, ini bisnis yang kurang menggairahkan.

4. Buah-buahan.
Jeruk medan, jeruk mandarin lokam, jeruk bali yang gede-gede, alpukat, salak, lengkeng, sukun, rambutan, duku, apel malang, apel puji (fuji, red.), pir, nangka, dan buah-buahan lain, dijual dengan harga yang miring, dibanding swalayan. Selain harga yang ditawarkan sudah miring, semakin malam masih bisa semakin murah.

Jeruk medan sebesar kepalan tangan anak kecil pada waktu normal biasa dijual 10 per 5000 rupiah, semakin sore mulai 15 per 5000 rupiah, lalu pada kereta malam biasanya sampai depok si penjual masih bertahan pada level 15 per 5000, tapi memasuki citayam dan bojong gede, nampaknya si pedagang mulai ketar-ketir tidak laku dan buahnya busuk, sehingga mulai memasuki level 15-20 buah per 5000 rupiah, tergantung kekuatan kita dalam tawar menawar dan tergantung apakah kita merasa iba ke si pedagang atau tidak. Kalau anda beruntung, anda bisa menemukan pedagang-pedagang yang sudah kelelahan, frustasi, jeruknya masih tersisa sekitar 30-an biji, dan tiba-tiba mengeluarkan kebijakan fenomenal...”NGABISIN...NGABISIN, 5000 DAPET 17 DEH! KAGAK MAU? 18 DAH! 20 DEH, NGABISIN NIH!!.....” penumpang masih belum bereaksi sampai akhirnya si abang berteriak “AMBIL SEMUA DAH!!! 5000 DAPET SEMUA!!” Karena melihat jumlah jeruknya yang masih ada sekitar 25-30an, kontan para ibu2 dan bapak2 berebut beli... si Abang tampak menyesal mengeluarkan kebijakan itu... tapi daripada berat-berat dibawa pulang, dimakan sendiri juga bosan (karena tentu dia tiap hari makan jeruk), kebijakan itu nampaknya cukup logis. Biasanya tiap hari ada saja yang seperti ini, baik jeruk, salak maupun duku.

Kalau jeruk mandarin lokam yang biasa saya beli, sebesar kepalan tangan anak remaja, rasanya manis, tapi harganya memang lebih mahal. Normalnya, 5000 dapat 5. Tapi biasanya saya baru beli kalau harganya sudah mencapai 7 biji untuk 5000 rupiah, saya beli 10.000, dapat 14. Percayalah, untuk jenis jeruk serupa, di swalayan manapun lebih mahal!

Salak lumayan murah. Pedagang frustasi bisa jual sampai 100 perak per salak. Yap, benar, dengan 10 ribu pada malam hari anda bisa mabuk salak, karena bisa dapat 100 biji! Cara jualnya pun cukup menarik... “SALAK NIH, CEPEK-AN (100an) !! beli sekarung dapet karungnya!!” Tapi tenang, “karung” disini maksudnya kantung kresek. Meskipun kalau anda beli 10 ribu rupiah, kresek anda tentu akan sebesar karung. Duku atau lengkeng pun biasa dijual dengan metode yang kurang lebih sama

Mangga, apel, pir, alpukat lumayan mahal. Standarnya, 5000 dapat 5. Tapi tetap, masih bisa bermetamorfosis, mangga manalagi bisa 7 untuk 5000, apel fuji juga bisa 10 biji untuk 5000. Tentu ini diiringi dengan ucapan2 memohon iba dari si pedagang. Seorang tukang apel pernah kecewa karena apel fuji dibanting harganya sampai 10 per 5000 pernah mengeluh... “set dah, 5000 dapet 10 aja masih kagak ada yang mau?? Kalo mau dapet 20 mah apel malang bu, KECIL-KECIL RASANYA KAYAK UBI! Ni apel manis nih!! Pusing ntar kalo makan apel ginian tapi murah sih!!”

Persaingan antar tukang mangga pun cukup keras. Seorang tukang mangga pernah berhenti di depan saya dengan tampang sudah ingin menangis, dengan mengatakan “7 pak! Lima rebu! Udah malem nih, ngabisin, semua juga segini pak harganya”, ketika tiba-tiba di ujung gerbong seorang pedagang lain masuk dan meneriakkan harga kompetitif.. “5000 DAPET 10 NIH !! DIMANA LAGI (kata tanya) ADA MANALAGI (jenis mangga) GOPEK-AN (500 rupiah) nih BU???!!!”. Spontan, tukang mangga yang didepan saya bergumam keras.. “SETAN!!” Berikut perbincangan diantara mereka yang terjadi setelahnya...

TM (Tukang Mangga) 1 : “Woy, lu kalo prustasi jangan deket2 gua dong! Banting harga seenaknya aja lu! Kagak dapet untung g**lok!!
TM 2 : “set dah, udah malem ini, lu masih nyari untung aje! Udah obral aja daripada lu bawa pulang, bini lu juga udah bosen ma mangga!!”
TM 1 : (akhirnya menyerah) “ya udalah, ni juga 5000 dapet 10 dah!! Ni siapa yang mau nih!! Gila, segini juga masih kagak ada yang mau!!”
TM 2 : (berkata pada para penumpang sambil membungkusi mangga yang dibeli) “Ini mah jarang-jarang bu.. berhubung saya mau kondangan (ke ondangan/pesta) aja nih ntar malem, butuh pulang cepet ama duit buat diamplopin!”
TM 1 : “Eh, iya, tadi lu dicariin istri lu di Bogor, disuruh pulang cepet!”
TM 2 : “Tuh, kan! Emang saya mau kondangan bu! (ke ibu2 yang membeli mangganya). Mangkanya nih siapa lagi ni yang mau, cepetan!!”

Apapun buahnya... para pedagang frustasi dan ucapan “5000 ambil SEMUA dah!!” memang selalu ditunggu...

5. Koran dan media massa lain
Dijual dengan selisih harga 500 dibanding di kios koran biasa, tentu lebih murah di kereta. Koran dan majalahnya cukup banyak jenisnya, mulai dari kompas sampai koran2 murah yang kebenaran beritanya tidak terjamin (dan headlinenya selalu tentang perkosaan atau minimal sesuatu yang berhubungan dengan wanita), tabloid bola, tabloid pulsa (isinya tentang HP semua), griya (perumahan di jabodetabek), dsb. Tentu dengan metode pemasaran yang juga inovatif. Griya misalnya, biasa dijual dengan teriakan ..”ya GRIYAnya nih, yang pengen tau harga2 rumah, siapa tau ibunya anak2 lagi pengen beli rumah, bisa diliat disini!! GRIYA GRIYA!!!” Teriakan ini malah membuat kisut kaum bapak yang tadinya berniat membeli...berhubung kalo bener ibunya anak2 jadi pengen beli rumah gara-gara GRIYA, bisa repot...

6. Minuman Ringan
Seperti biasa, menjual air mineral gelas, prutang (frutang), kopi, teh botol, temulawak, coca cola, dsb. Menarik diperhatikan fenomena pada bulan Ramadhan dimana semua pedagang seperti beralih dagangan ke sektor minuman ini, sehingga di satu gerbong bisa sampai ada 5 pedagang minuman yang lalu lalang menjajakan dagangan yang persis sama.

7. Lain-lain : pupuk tanaman, daster, kaos kaki, peci, sejadah, anak kodok bernyanyi, jangkrik yang bisa bunyi (tenang, semua dari plastik), bajaj, bus trans jakarta, helikopter, pesawat jet, truk, sedan (semua miniatur tentunya), buku mewarnai Dora dan Spongbob (Dora the Explorer dan Spongebob Squarepants), TTS, dan sebagainya yang dijual dengan satu prinsip : “diatas 5 rebu, ga akan ada yang beli!”. Sempat juga ada yang menjual satu set peralatan minum teh (teko, cangkir dsb) yang berwarna emas sepuhan. 10 ribu satu set, dan karena tidak ada yang beli dia bertanya dengan sedikit sarkastik pada semua penumpang... “ni kagak ada yang mau nih? Kenapa? Belom pada gajian ya? Kapan gajian? Besok? Ni 10 rebu doang nih, buat bini di rumah!!”.. tetap ga ada yang beli...

Dunia memang seolah terbagi 2. Dunia mimpi, biasa diisi dengan sinetron-sinetron yang menampilkan kekayaan dan masalah-masalah ecek-ecek seperti putus cinta, perebutan kekuasaan, berebut cowok, perselisihan antar cowok yang berebut cewek, dsb. Adapun dunia perjuangan hidup diisi dengan frustasi dan hikmah yang didapat darinya. Semua hanya untuk mengantarkan diri pada sebuah kondisi yang mengingatkan para pejuang untuk berkata...”alhamdulillah”

Bagaimanapun, kita hidup di sebuah sistem perekonomian yang aneh. Sebuah sistem dimana orang-orang yang bekerja paling keras, berkeringat hingga paling lelah, adalah orang-orang yang mendapat penghasilan terendah. Sementara orang-orang yang mengandalkan kapasitas relasional, menjilat dan menyerah pada kemunafikan, adalah mereka yang paling berpotensi untuk menjadi penguasa.

Shopping, everyone??

No comments: