Monday, August 28, 2006

Berdarahkah Tuan Yang Duduk Di Belakang Meja? (Cerita-cerita dari Kereta, episode 11)

Kalau saya tidak salah mengingat tanggal (sekedar pengakuan, perkara tanggal dan waktu ini sebenarnya adalah salah satu kelemahan saya... dan itulah sebabnya mengapa saya tidak pernah ingat ulang tahun orang...), peristiwa ini terjadi pada tanggal 11 Mei 2006.

Pagi itu sebenarnya pagi yang cerah, bahkan menjurus panas. Pada bulan Mei tersebut saya sudah mulai terbiasa untuk naik KRL jurusan Jakarta Kota pemberangkatan pukul 7.44 WIB, dan mulai meninggalkan KRL jurusan Tanah Abang pemberangkatan pukul 7.20 WIB. Pada pagi hari tanggal 11 Mei 2006 itu, saya tidak terlalu terlambat. Sesuai perhitungan, saya tiba di stasiun besar Bogor sekitar pukul 7.18 lewat 4 detik (halah, sok ngitung!). Maka saya segera bergegas menuju peron untuk mengejar kereta tanah abang (seperti biasa, gerbong 3 jadi incaran). Akan tetapi, fenomena yang saya lihat di stasiun pagi itu sungguh tidak terduga...

Aneh... sudah jam segini, tapi wajah-wajah yang biasa mengisi gerbong 3 kereta tanah abang (pemberangkatan 7.20)maupun kereta ke kota (pemberangkatan jam 7.44) masih berkeliaran di peron stasiun. Lebih aneh lagi, dari 8 jalur rel di Stasiun Besar Bogor, ada 5 jalur yang terisi, semuanya KRL ekonomi, dan semuanya kosong. Bukannya mengisi gerbong-gerbong kereta, pagi itu, para calon penumpang bergerombol di peron-peron stasiun. Saya perkirakan berkisar beberapa ratus atau mungkin sampai angka 1000an orang yang memadati peron-peron stasiun. Jelas ada masalah...

Selidik punya selidik, dari beberapa calon penumbang yang berwajah familiar (atau famiLIEUR), saya memperoleh informasi bahwa KRL dari jam 6.30 tidak ada yang jalan, entah karena alasan apa. Kabarnya, ada alat (apa gitu saya tidak terlalu tahu) di pos pengendali stasiun yang mengalami gangguan. Akan tetapi, tetap aneh karena kereta ekspres pukul 7.00 dan 7.15 bisa tetap diberangkatkan. Kalau alat di stasiun ada yang rusak, kenapa cuma KRL ekonomi yang tidak diberangkatkan? Berita menjadi simpang siur karena tidak ada pengumuman resmi maupun informasi dari petugas stasiun.

Orang-orang semakin gelisah, gundah, marah.

Bagi siapapun yang mengetahui sedikit saja tentang manajemen massa, tentu paham bahwa berkumpulnya massa yang tidak terkoordinir dalam jumlah besar di satu titik pada satu waktu sangat potensial untuk berkembang menjadi kerusuhan, atau minimal keributan. Apalagi, ada kondisi yang menjadi ”musuh bersama”, yang dalam hal ini adalah kondisi tidak jalannya KRL ekonomi tanpa disertai info apapun.

Dan benar saja...

Dari sayap utara, segerombolan orang mulai terdengar berteriak-teriak menuntut penjelasan dari pihak petugas stasiun. Beberapa lama ditunggu, penjelasan yang dinanti tak kunjung datang. Suasana mulai bertambah panas. Sebagian calon penumpang memilih pergi dari stasiun, nampaknya ingin naik bus dari terminal baranang siang. Akan tetapi, sebagian besar memilih bertahan, entah untuk melampiaskan kemarahan atau karena tidak ada uang untuk naik bus. Di beberapa sudut mulai terdengar kata-kata yang paling berbahaya untuk diucapkan dalam suasana seperti itu : ”Ancurin!”, ”Bakar!”, dan kata-kata sejenisnya.

Beberapa orang mencoba memasuki kantor pengurus stasiun, mencoba mendapat penjelasan, mungkin dengan tujuan untuk menenangkan massa yang lain. Akan tetapi, orang-orang yang masuk ke kantor stasiun itu kemudian malah terlihat dikeluarkan dengan paksa dari kantor stasiun. Beberapa teriakan terdengar. Marah. Sebagian mulai menyerbu ke kantor stasiun, namun masih dapat dikendalikan. Sebagian orang yang awalnya duduk di dalam gerbong-gerbong kereta bermunculan keluar, menambah penuh peron-peron.

Tak lama kemudian, kira-kira pukul 7.30, terjadilah...

Sekelompok pria mengambil batu-batu dari rel, besar maupun kecil, lalu melemparkannya ke arah stasiun, kantor stasiun, jam gantung, dan... apa saja yang bisa dilempar.

Mereka bergerak menyisir dari sayap utara, ke sayap selatan, dan apa-apa yang terlihat di depan mereka, terkena lemparan batu.

Orang-orang (pria dan wanita) bersorak-sorak sambil bertepuk tangan : ”NAH! GITU! ANCURIN SEKALIAN!! BAKAAAAR!!!”.

Mereka yang di sayap selatan sibuk menyemangati (wow, provokator sekaleeee) dan melompat-lompat seperti habis minum ekstasi (sok berima, padahal ga nyambung). Yang lain cukup menonton saja.

Saya dan beberapa orang lain yang masih memakai kepala dingin (abis minum teh botol pake es), mengingatkan sekelompok ibu-ibu yang menonton di dekat kantor stasiun. Bukan apa-apa, mereka juga bisa kena lemparan batu. Seolah terjaga dari mimpi, mereka lalu bergegas mengungsi ke sayap selatan stasiun, dekat WC umum dan mushola.

Seorang bapak-bapak bertindak heroik. Lemparan batu mulai tidak terkendali, mulai mengarah ke toko dunkin donut dan warung-warung di stasiun (yang tentu tidak ada sangkut pautnya dengan mandegnya kereta). Si bapak tadi, tanpa mempedulikan batu-batu yang bisa saja mengenainya, berdiri di depan dunkin donut sambil mengangkat kedua tangan, menyetop lemparan batu supaya tidak mengenai mereka yang tidak bersalah. Ya, bisa jadi si bapak itu pemberani, tapi saya lebih menyebutnya ”gegabah”.

Penyisiran berhenti, pelemparan batu terus berlanjut, mengarah ke kantor stasiun, meskipun kaca-kaca dunkin donut sudah terlanjur pecah. Tak lama kemudian, barang-barang yang melayang makin mengagetkan. Bangku-bangku panjang dari warung mulai ikut melayang, memecahkan kaca-kaca. Setelah itu, TONG SAMPAH (berupa drum perukuran pendek) pun mulai lepas landas, dan mendarat sembarangan. Luar biasa kacau beliau (balau)....

Para petugas stasiun berhamburan entah kemana. Beberapa petugas yang saya kenali wajahnya ternyata telah berganti baju, menyamar, dan... ikut tepuk tangan.

Sebagian massa mulai meninggalkan stasiun.

Tak lama kemudian, polisi datang (tidak banyak, jumlah dibawah 10 orang, beberapa diantaranya pejabat polres). Melihat kondisi massa, mereka mengambil langkah simpatik untuk menenangkan massa. Seorang pejabat polres berbicara melalui corong resmi stasiun, dan mengatakan bahwa KRL-KRL akan segera diberangkatkan, dengan terlebih dahulu mengucapkan salam dan permohonan maaf. Salut! Tanpa kekerasan, kerusuhan dapat dikendalikan.

Memang, tak lama kemudian, sekitar pukul 8.00, 4 kereta langsung diberangkatkan berturut-turut. Para calon penumpang langsung menyerbu kereta-kereta, dan diberangkatkan. Menyisakan kerusakan, kerusuhan berakhir... tanpa ada yang sibuk mencari kambing hitam.

-----

Terjadinya kerusuhan itu menurut saya cukup patut disesali...

Bagaimanapun, kemarahan para calon penumpang tadi cukup bisa dimengerti. Terkadang memang banyak yang tidak memikirkan, kalau ketepatan jadwal kereta kadang sangat berarti bagi para pengguna KRL. Banyak alasannya. Selain menghindari kemarahan bos, ada juga perusahaan-perusahaan (dan instansi) yang misalnya hanya memberi jatah uang makan siang pada karyawan yang datang tepat waktu. Ada yang janjian sama orang, ada yang mau cepat-cepat jualan di pasar, ada yang mau ini, ada yang mau itu. Apapun alasannya, memang tidak manusiawi untuk membiarkan para calon penumpang yang memiliki sejuta mimpi dan rencana itu dalam kebimbangan dan ketidakjelasan jadwal kereta (halah, bahasanya...).

Tapi...

Para pelaku kerusuhan itu, para calon penumpang yang marah itu, bisa dibilang salah sasaran. Kalau ada satu jenis konflik dalam masyarakat yang paling saya sesalkan, itu adalah konflik horizontal. Konflik antar sesama kelompok masyarakat yang senasib.

- mmm... maksud lu apaan sih wan? -

Maksud saya, walau bagaimanapun, kondisi sosial ekonomi yang menyelimuti para karyawan, para pekerja, juga dipengaruhi oleh kebijakan yang diambil oleh para bos. Demikian juga dengan kebijakan-kebijakan teknis, seringkali para karyawan hanyalah orang yang melaksanakan kebijakan, bukan membuat. Maka, kalaupun ada kemarahan terhadap suatu sistem, semestinya tidak dialamatkan pada para petugas stasiun yang hanya menjalankan perintah atasan. Semestinya justru dialamatkan pada para pembuat kebijakan itu! Lebih jauh lagi, kekecewaan terhadap sistem perkereta-apian di Indonesia semestinya dialamatkan pada para petinggi PT KAI, dan Menteri Perhubungan!! Bukan pada para petugas stasiun, penjaga langsiran, penjaga pintu perlintasan, dan kawan-kawannya.

Lha wong sama-sama RBT kok... (Keterangan : RBT = Rakyat Banting Tulang)

Tentu, kerusuhan tersebut sebenarnya hanyalah puncak-puncak kecil dari sebuah gunung es permasalahan di dunia perhubungan dan transportasi di Indonesia. Ia bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan hanya gejala-gejalanya. Meski begitu, menyelidiki gejala adalah salah satu pendekatan dalam menemu-kenali penyakit.

Permasalahan dalam manajemen perkereta-apian di Indonesia, sayangnya, memang hanya banyak dibahas apabila terjadi letupan-letupan seperti ini saja, termasuk bila terjadi kecelakaan kereta. Itu pun, biasanya hanya terhenti pada sebab-sebab klise seperti kelalaian petugas persinyalan, kelalaian penjaga pintu perlintasan, kereta yang terlalu padat, sampai terlalu banyaknya penumpang yang naik di atap (pada kasus ambruknya atap kereta beberapa waktu lalu). Setelah itu ditutup dengan permintaan maaf dan ucapan belasungkawa dari para petinggi dephub atau PT KAI. Kadang ada juga isu-isu mundur-tidaknya pejabat, yang kemudian lebih sering berujung pada : tidak jadi mundur. Tentu dengan alasan bahwa mundur tidaknya satu orang belum tentu bisa menyelesaikan permasalahan.

Alasan tersebut, secara jujur bisa kita katakan benar. Memang belum tentu. Tapi bukan berarti lantas berhenti melakukan langkah-langkah perbaikan. Mundur atau tidak semestinya merupakan sebuah perwujudan pertanggungjawaban. Kalaupun tidak mundur, pertanggungjawaban itu harus terwujud dalam perbaikan secara signifikan.

Apakah akan dipakai alasan waktu (dalam pengertian, tidak mungkin ada perbaikan signifikan dalam waktu singkat) ? Kalau ya, maka bisa saya katakan bahwa alasan seperti itu sama sekali TIDAK RELEVAN. Mengapa? Karena permasalahan seperti itu bukan barang baru, dan alasan-alasan yang dikemukakan juga bukan barang baru. Coba lihat, sejak kapan ada kecelakaan kereta ekonomi? Sejak dulu bukan? Sejak kapan ada orang naik di atap? Sejak dulu bukan? Sejak kapan petugas persinyalan atau penjaga pelintasan dipersalahkan? SEJAK DULU JUGA BUKAN? LANTAS KENAPA SETELAH INDONESIA (KATANYA) MERDEKA SELAMA 61 TAHUN INI MASALAH YANG SAMA MASIH BERULANG??

--- tenang wan.. tenang... jangan emosi... ---

Lho, JELAS DONG SAYA EMOSI !!! tapi kepala tetap dingin (semoga).

Berapa sih dari kita, dan berapa sih dari para pejabat kereta dan dephub yang pernah memikirkan, bahwa orang-orang yang menjadi ujung tombak dunia perhubungan di negeri ini justru menjadi kalangan yang paling kecil gajinya di dephub atau PT KAI??

Berapa sih yang memikirkan kalau seorang penjaga pintu perlintasan kereta masih perlu mencicil 3 bulan sebelum lunas membeli sebuah termos? (beritanya pernah saya tonton di sebuah liputan tipi, yang saya lupa judulnya apa, dan stasiun tipinya juga)

Padahal keselamatan banyak orang berkorelasi langsung dengan ketekunannya menjalankan tugas.

Terkadang, kita lebih sering (dan lebih mudah) mencerca seorang petugas pemeriksa karcis yang mengutip uang barang seribu dua ribu dari penumpang yang tidak memiliki karcis, tapi kita luput memperhatikan korupsi besar-besaran di dephub yang memaksa kondisi itu terjadi (kondisi dimana korupsi menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka yang tidak berjabatan).

TIDAK! Saya tidak sedang membenarkan alasan terjadinya korupsi. Hanya saja, saya membagi korupsi menjadi dua golongan besar, yaitu corruption by need (korupsi karena kebutuhan) dan corruption by greed (korupsi karena keserakahan). Keduanya patut ditumpas habis. Tetapi, saya memandang bahaya korupsi karena keserakahan jauh lebih berbahaya, lebih busuk, lebih jahat, dan lebih patut ditumpas terlebih dahulu. Mengapa? Karena ia menciptakan sebuah sistem. Sebuah sistem yang kemudian membuahkan korupsi karena kebutuhan bagi kelas di bawahnya.

- Hmmm... kok jadi teori kelas sosial ya? Mulai ngelantur nih... -

ya...

kadang suka aneh juga, dari sekian banyak kecelakaan kereta yang terjadi di Indonesia, kenapa sebagian besar melibatkan kereta ekonomi ya? Kereta rakyat kecil... apakah golongan masyarakat terbesar di Indonesia ini tak punya hak untuk mendapat jaminan keamanan yang sama dengan para penumpang argo?

Kereta bangsa Indonesia... bangsa yang belum lagi lepas dari budaya keterjajahan. Bangsa yang anak-anaknya yang kaya kemudian menjelma menjadi penjajah bagi saudara-saudaranya yang lebih miskin.

Saat menuliskan ini... saya sedang mendengar lagu ini :

1910

- Iwan Fals –

Apa kabar kereta yang terkapar di Senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah

Air mata...air mata....

Belum usai peluit... belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi cacatan sejarah

Air mata...air mata

Berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja
Atau cukup hanya ucapan bela sungkawa
Aku bosan....

Lalu terangkat semua beban di pundak
Semudah itukah luka-luka terobati

Nusantara...tangismu terdengar lagi
Nusantara....derita bila berhenti

Bilakah...bilakah.....

Sembilan belas Oktober...tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah

Air mata...air mata

Nusantara....langitmu saksi kelabu
Nusantara....terdengar lagi tangismu
Nusantara....kau simpan kisah kereta
Nusantara....kabarkan marah sang duka

Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab luka sudah tak lagi panjang
Saudaraku pergilah dengan tenang

NB : Buat yang bingung kenapa judul postingan ini terkesan ”angker” sekali, sy cuma mengutip dari syair lagu ini...

No comments: