Showing posts with label Penting ya?. Show all posts
Showing posts with label Penting ya?. Show all posts

Thursday, December 29, 2011

Tempat Bagus, Harga Gak Bagus, Pelayanan Buruk

Wuhuuuw... setahun hiatus.


Luar biasa.

Pertama kali aktif blogging, bisa 2 postingan sehari, lalu 1 postingan per 2 hari.
Kalau hiatus juga paling 2 minggu sudah ga tahan.

Tapi yah... karena satu dan lain hal (terutama rasa malas), akhirnya jadi juga hiatus 1 tahun.

Saya pikir ga masalah juga, toh yang bacanya juga tidak banyak. Dan sepertinya, yang dulu suka pada baca juga sudah lupa dengan blog ini :))
(berharap ada komentar yang menyangkal pernyataan ini)


Jadi...
Bismillah... mari kita mulai lagi.
Mungkin jangan yang berat-berat dulu.
Yang ringan-ringan saja.

keluhan misalnya.


Ini adalah sebuah kisah mengenai sebuah tempat makan. "Kafe" kalau kata anak gaul.
Ini tempat makan bukanlah tempat makan yang baru berdiri.
Sejak saya pertama datang ke ibukota ini juga tempat ini sudah ada.
Dan sejak tahun pertama itu pula, saya sudah berkunjung beberapa kali ke tempat ini.
Memang, niatnya biasanya bukan untuk makan dengan puas. Kebanyakan untuk berkumpul bersama teman-teman. Main, ngobrol, kerja, internet gratis, dan sebagainya.
Sederhana sebenarnya saya punya alasan. Mahal betul dia punya harga makanan.
Konon sewaktu dulu saya pertama di Jakarta, tidaklah mungkin dompet saya mengizinkan kaki saya melangkah masuk ke pintunya. Ya tapi sebulan sekali kalau sedang ada rezeki, bolehlah...

Letaknya di seputaran Cikini. Di daerah yang dulu kata supir-supir taxi yang sudah tua-tua itu adalah daerah bandar narkoba. "Banyak sudah yang tewas ditembak mati polisi", kata para supir taxi menakut-nakuti.
Tapi kini sudah berubah menjadi salah satu basis ormas Islam di Jakarta, yang sayangnya terkenal karena aksi lempar-lempar dan bakar-bakar.

Kembali pada cerita,
Ada dua kejadian dalam tempo kurang dari 1 bulan yang membuat saya enggan untuk ke tempat itu lagi.


Pertama, pertengahan Desember 2011.


Saya bersama seorang kawan yang berkaca mata dan berperut buncit. Mirip seperti saya. Hanya saja saya jauh lebih tampan, dan dia jauh lebih buncit.
saat itu, kami mencari tempat yang bisa untuk bekerja menatap laptop sampai malam, internet gratis, dan makan... tentunya.

Tidaklah saya makan siang di hari itu, sehingga ketika tiba di tempat itu pukul 8 malam, cacing-cacing dalam perut hanya punya 1 permintaan. Makan cepat!

Duduklah kami di tempat yang mengizinkan kami untuk merokok.

Paha-paha dari wanita-wanita muda yang kadang cantik kadang tidak berlalu lalang di depan kami (O ya, saya lupa, ini juga jadi alasan mengapa kami suka kesini, tapi tolong jangan disebarkan ke banyak orang, terima kasih).
Cacing-cacing di perut saya diam.
Tapi setelah kami terbiasa dengan pemandangan itu, mereka mulai bernyanyi lagi minta makan.

5 menit duduk. Tak ada yang datang menagih pesanan.
7 menit, saya tak tahan.
berjalanlah saya ke kasirnya, minta dilayani.

"sebentar mas", kata wanita muda di balik kasir.

5 menit...

"sebentar mas", kata dia kedua kalinya.

Tentunya ada hal yang menarik sekali di balik meja kasir itu, sehingga 3 orang pelayannya lebih memilih untuk bercengkrama disana dibanding mengasihani kami yang berwajah lapar ini.
Mungkin sudah jamak bagi mereka, kalau para pengunjung disana sebenarnya bukan orang lapar. Mereka tidak tahu, bahwa kami adalah pengecualian.

Pada akhirnya, datanglah juga seorang wanita muda membawa menu. Menanyakan "sudah pesan mas?".
Heranlah saya dibuatnya. Tentunya dia tahu kalau sedari tadi belum juga kami dilayani. Bagaimana mungkin kami sudah pesan?

Tanpa pikir panjang, soto betawi jadi pilihan saya, ditambah kopi panas.
Pikir saya, selain salah satu menu paling murah, apalah lamanya menuang soto kedalam mangkuk?

"Cepat ya mbak. Saya sudah lapar", kata saya.
kawan saya hanya pesan kopi. Tidak makan. Tentunya dia sedang berusaha mengurangi berat badannya, atau sekedar tidak ada uang. Entahlah mana yang benar.
Lalu kami mulai bekerja sembari menunggu pesanan kami datang. Diskusi dan mencari apa-apa yang sepertinya diperlukan di internet.

----

10 menit berlalu, kopi datang.

30 menit berlalu, soto tak kunjung kelihatan.

45 menit berlalu, habis sudah kesabaran.

Ada pelayan lain melintas, saya tanyakan apa nasib pesanan saya.

"Oh, belum datang ya mas? Sebentar saya tanyakan. Pesan apa tadi?"
"Soto betawi", kata saya singkat. Banyak kata akan menghabiskan banyak energi, sementara cadangan energi dari perut sudah hampir habis. Sedikit senyum masih saya paksakan, supaya tidak terkesan mengenaskan.


Entahlah saat itu dia benar tanya ke dapur atau tidak, tapi yang jelas tidak juga dia kembali ke meja kami untuk memberi kabar.


30 menit kemudian... hampir pingsan saya jadinya.
Kawan saya yang mungkin kasihan, panggil pelayan lagi.
"Sebentar mas, saya tanyakan."

5 menit kemudian, dia datang kembali...

"Maaf mas, soto betawinya habis. Mau pesan yang lain?"

Saya dan kawan saya saling berpandangan. Seolah tidak percaya dengan apa yang kami dengar.
Dan saya, dengan sifat kritis bawaan dari lahir, tak bisa menahan diri untuk bertanya...

"Kenapa tidak bilang dari tadi mbak? Ini saya sudah tunggu 1 jam lebih..."

"Loh? kan mas pesannya barusan bukan? 30 menit lalu?"
"Bagaimana mungkin? Coba tadi tanya mbak-mbak yang catat pesanan saya, saya pesan bersamaan dengan kopi ini (yang sekarang sudah dingin)"
Sebenarnya saat itu saya sedikit berbohong, karena pelayan yang pertama tanya pesanan saya itu sebenarnya tidak saya lihat mencatat. Tentu dia punya daya ingat yang bagus.

"Oh? Gitu ya pak? Sebentar coba saya tanyakan.." (Entah apa gunanya lagi dipertanyakan ke dapur kalau dia bilang itu makanan sudah habis).

1 menit kemudian, dia kembali.

"Benar mas, sudah habis. Maaf ya" (padahal waktu dia bilang sebelumnya juga tak ada saya mengira dia tidak mengatakan kebenaran).

"Yasudah mbak, begini saja... mbak tanyakan ke orang dapur itu, makanan berat apa yang sedang dia bikin sekarang. Jangan makanan ringan, ini saya sudah lapar berat. Nah, apapun yang sedang dia buat itu, kalau sudah jadi, kasihkan pada saya. Nanti untuk yang pesan itu makanan dibuatkan saja lagi. Tolong ya mbak, kecuali mbak ingin ada orang pingsan di tempat ini dan besok masuk koran."

Si mbak nampaknya bingung dengan arahan yang saya berikan.

"Jadi... mas pesan apa?"
"Ya apapun yang sekarang sedang dibuat"
"Oh... ok mas".
"Cepet lho mbak. Mas ini kalau sudah lapar bawaannya bisa bakar-bakar", kata kawan saya berusaha meyakinkan sambil sedikit mengancam.

10 menit kemudian, datanglah seporsi makanan yang nampaknya bernama nasi bakar. Ukurannya sepinggan kecil saja.
Tidak mengenyangkan, tapi setidaknya bisa hilang lapar.

Selesai pekerjaan, selesai makan, rokok dinyalakan lagi. Lalu melangkah pulang.
Mengenai harga... yah... sudahlah, tak perlu kita bahas. Yang jelas saya pergi dengan muka masam.


Kejadian kedua... Akhir Desember 2011.


Kali ini seorang diri saya datang. Pukul 8 malam.
Saya meyakinkan diri saya, kejadian yang saya alami sebelumnya itu, mungkin sekedar nasib sial saja. Mana mungkin itu tempat bisa berdiri sedemikian lama kalau kejadian serupa terjadi berulang kali pada banyak orang, bukan?


Kembali saya duduk di tempat yang mengizinkan merokok.
Kali ini tidak ada paha bertebaran.
Meski beberapa wanita cantik tetap ada.
Sudahlah, saya lapar. Mari pesan makanan.

5 menit duduk, laptop sudah menyala. Tidak ada yang datang menagih pesanan.
de ja vu?

Saya datang ke kasir, dimana 3 orang pelayan sedang bercengkrama.
"Mbak, boleh pesan?" Kata saya sambil tersenyum.
"Ya, sebentar mas." Jawabnya.

Datanglah seorang pelayan membawa menu. Bersiaplah saya menyambutnya.

Ternyata salah, karena dia mendatangi meja sebelah.

"aaah...", pikir saya, "tentunya mereka ini sudah lebih lama datang dibanding saya, tapi belum pesan juga..."

5 menit kemudian, saya kembali ke kasir.
"Mbak, bisa pesan?"
Kali ini saya tidak mau tertipu lagi. Saya tunggu itu di kasir sampai ada pelayan yang pegang menu, baru kemudian kami sama-sama ke meja saya.

"Soto betawi mbak, sama cappucino panas 1"
de ja vu?

"ya mas", katanya. Tanpa mencatat. Tentu dia juga daya ingatnya bagus.

5 menit berselang.

Datang lagi pelayan itu.

"Mas, nasinya habis tuh. kalau dibikin dulu, kata dapurnya lama"

Dalam saya punya pikiran, tidak sah sebuah tempat makan di Indonesia kalau tidak punya nasi putih. Jadi saya pikir kalaupun habis, tentu itu dapur sekarang sedang masak nasi, karena tidak mungkin juga pelanggan makan masih dalam bentuk beras.

"Berapa lama masaknya?", tanya saya.
"Wah, gatau tuh mas, kayanya lama...", jawabnya.

Sepengalaman saya dalam memasak nasi, biasanya tidak lebih dari 1 jam.

Entah kenapa, si mbak pelayan ini punya mata melihat kemana-mana, tidak fokus pada saya. Mungkin dia sedang pikirkan kekasihnya yang entah dimana, atau menahan diri ingin ke kamar kecil. Entahlah.

"Yasudah, ditunggu deh", jawab saya, karena apalah artinya soto betawi tanpa nasi, bukan?

"Oh, oke mas" kata si pelayan, tanpa mencatat, tanpa melihat, lalu pergi ke dapur, entah apa yang dia katakan pada orang dapur.


Sambil menunggu dan bekerja, rokok dinyalakan.

5 menit kemudian, kopinya datang.

15 menit kemudian, rokoknya habis.

15 menit kemudian, sotonya datang seorang diri, tanpa ditemani nasi.

"Aaah, sudah 35 menit, tentu 25 menit lagi si nasi datang", pikir saya.

25 menit kemudian, perut sudah tidak tahan.


Melintaslah seorang pelayan pria.

"Mas, boleh tanya, itu nasi putih sudah matang belum ya?"

Meliriklah dia pada semangkuk soto betawi yang belum saya jamah. Mungkin dia berpikir "apalah artinya soto betawi tanpa nasi?", dan dia segera mengerti.
"Sebentar mas, saya tanya dulu".

Pergilah dia ke dapur.

Kembali dia dari dapur.


"Mas, emang mas tadi pesan nasi putih? Kata orang dapurnya mas pesan soto saja tanpa nasi..."
Ada keraguan dalam mata sang pelayan pria, karena tentunya dia pun merasa aneh dengan pertanyaannya sendiri.

"Lha? Tadi katanya kan dimasak dulu? Jadi saya bilang yasudah saya tunggu. Memangnya dapurnya masak nasi hanya untuk saya?"

"Oh? gitu ya mas? sebentar ya..."

Dia pergi.
Sepertinya itu pelayan yang agak senior. Mungkin tingkat manajer, karena saya lihat dia bertanya ke pelayan wanita yang tadi mengambil pesanan saya. Sepertinya agak dimarahi juga. Saya jadi agak kasihan pada pelayan wanita itu. "Agak".


Datanglah si pelayan wanita itu.

"Maaf mas, saya kira tadi tidak pakai nasi."
"Jadi nasinya tidak sedang dibikin?"
"Nggak mas. Kalau sekarang dipesan juga tentu masih lama sekali jadinya. Belum tentu dapurnya bikin juga."

Sejujurnya... itu adalah ucapan teraneh yang pernah saya dengar di sebuah rumah makan. Ini nasi putih, demi Tuhan. Nasi putih !!!
Apakah memakan waktu 2 minggu untuk memasak nasi putih sehingga dia harus bilang "lama sekali"?? Kalaupun dia bilang 1 jam, saya akan lebih bisa menerima.


"Yasudah..." Saya berkata dengan masih berusaha sedikit tersenyum.
Saya menggunakan seluruh kebijaksanaan dan kecerdasan saya, lalu berkata: "boleh minta tolong?"
"Apa tuh mas?"
"Boleh minta tolong siapa gitu belikan nasi diluar? Ada warung di dekat sana, atau rumah makan lain di sebelah kan? Tolong beli 1 porsi, bungkus, lalu saya pinjam piring dan saya makan disini."

Solusi cerdas bukan?

lalu..

"Aduh... gimana ya mas... kami cuma bertiga, kalau blablabla aa ii uu oo dst dst"

Saya membuat isyarat dengan tangan, memotong omongannya, menahan emosi. Sedikit tersenyum.

"Tolong bungkus saja itu soto."

"Gimana mas?"

"B-U-NG = Bung, K-U-S = Kus. Bungkus. Ada plastiknya? Atau habis juga itu plastik?"

"Oh, plastik ada mas." (jawaban datar, padahal sebenarnya pertanyaan saya itu lebih berupa sindiran yang tidak mengharapkan jawaban).

Dibawanya itu soto.

Saya nyalakan rokok lagi.
Kembali bekerja sambil menghabiskan kopi yang sudah dingin.

15 menit kemudian, saya bereskan laptop, ambil bungkusan soto, lalu ke kasir.

Rp. 69.300,00, untuk kapucino dan soto betawi tanpa emping dan tak bernasi.

Mau mengeluh tapi nanti malah dibilang sebagai orang pemarah yang tidak punya uang.

Jaga gengsi, saya kasih 70 ribu. Tidak tunggu kembalian.

Pergi dengan muka masam.


Saya tidak akan kesana lagi...


Dalam perjalanan pulang, saya mampir di Warteg yang masih buka. Beli nasi putih dibungkus. 2 ribu rupiah.
Saya makan soto dingin di rumah.
Setidaknya rasanya lumayan.
Bukan yang terenak yang pernah saya makan, tapi masih bisa mencapai standar.



NB: Nama tempat tidak saya tulis, karena khawatir kena pasal pencemaran nama baik dan dituntut di pengadilan. Mohon jangan ditanyakan, saya tidak akan menjawab.

Monday, December 27, 2010

Syukurlah Saya Ganteng...

Kalo cowok ganteng pendiam
cewek2 bilang: woow, cool banget…
kalo cowok jelek pendiam
cewek2 bilang: ih kuper…

Kalo cowok ganteng banyak omong
cewek2 bilang: supel... ramah... perfect!
Kalo cowok jelek banyak omong
cewek2 bilang: bawel amat kaya bukan cowok!

kalo cowok ganteng jomblo
cewek2 bilang: pasti dia perfeksionis
kalo cowok jelek jomblo
cewek2 bilang: udah jelas…kagak laku…

kalo cowok ganteng berbuat jahat
cewek2 bilang: nobody’s perfect
kalo cowok jelek berbuat jahat
cewek2 bilang: pantes…tampangnya kriminal

kalo cowok ganteng nolongin cewe yang diganggu preman
cewek2 bilang: wuih jantan…kayak di filem2
kalo cowok jelek nolongin cewe yang diganggu preman
cewek2 bilang: pasti premannya temennya dia…

kalo cowok ganteng dapet cewek cantik
cewek2 bilang: klop…serasi banget…
kalo cowok jelek dapet cewek cantik
cewek2 bilang: pasti main dukun…

kalo cowok ganteng ngaku indo
cewek2 bilang: emang mirip-mirip bule sih…
kalo cowok jelek ngaku indo
cewek2 bilang: pasti ibunya Jawa bapaknya robot…

kalo cowok ganteng penyayang binatang
cewek2 bilang: perasaannya halus…penuh cinta kasih
kalo cowok jelek penyayang binatang
cewek2 bilang: sesama keluarga emang harus menyayangi…

kalo cowok ganteng bawa BMW
cewek2 bilang: matching…keren luar dalem
kalo cowok jelek bawa BMW
cewek2 bilang: mas majikannya mana?…

kalo cowok ganteng males difoto
cewek2 bilang: pasti takut fotonya kesebar-sebar
kalo cowok jelek males difoto
cewek2 bilang: nggak tega ngeliat hasil cetakannya ya?…

kalo cowok ganteng naek motor gede
cewek2 bilang: wah kayak lorenzo lamas…bikin lemas…
kalo cowok jelek naek motor gede
cewek2 bilang: awas!! mandragade lewat…

kalo cowok ganteng nuangin air ke gelas cewek
cewek2 bilang: ini baru cowok gentlemen
kalo cowok jelek nuangin air ke gelas cewek
cewek2 bilang: naluri pembantu, emang gitu…

kalo cowok ganteng bersedih hati
cewek2 bilang: let me be your shoulder to cry on
kalo cowok2 jelek bersedih hati
cewek2 bilang: cengeng amat!!…laki-laki bukan sih?

Untunglah saya ganteng. Saya amat bersyukur...

Thursday, April 08, 2010

Be Train Go On



Sebuah plang pengumuman yang saaaaaaaaangat menarik di Stasiun Besar Bandung.

Sumber foto: Difoto sendiri dengan HP pribadi.

Wednesday, March 17, 2010

Tips Untuk Bahagia (episode 1)


Apa itu manusia?
Apakah kepintaran saya atau anda cukup untuk menjawab pertanyaan itu?

Kini saya sadari... bahwa kepintaran saya itu hanya ada di masa lalu. Sekarang ternyata saya hanya orang bodoh. Orang bodoh yang menikmati kebodohannya... dan itu membuatnya jadi lebih buruk bukan? :))

Adalah hebat bahwa kita kadang merasa mengenal diri sendiri, dan dengan berbekal itu kita juga merasa bisa mengenal orang lain (lebih parah lagi, merasa mengenal Tuhan). Hebat karena kerumitan manusia itu kita anggap bisa dirangkum dalam beberapa patah kata yang muncul dari benak kita sendiri. Maka ilmu psikologi semestinya adalah ilmu yang hebat. Ilmunya orang-orang pintar. Dan mungkin memang begitu kenyataannya.

Ah, sudahlah, rasanya tak perlu saya memanjang-manjangkan pembukaan yang tak juga penting ini. Yang ingin saya tulis, niatnya, dan yang saya harap bisa membawa manfaat bagi Anda pembaca sekalian, adalah TIPS untuk bahagia, ketika berhubungan dengan orang lain.

Janganlah kiranya “tips” di tulisan hina ini sebagai beberapa lembar uang pecahan mungil yang anda taruh di meja untuk para pelayan setelah anda bersantap di sebuah restoran ternama. Mungkin tidak juga ternama, tapi sekedar untuk menambah gengsi anda saja, bahwa anda berlebih dalam hal keuangan.

Tentunya baik kalau anda memandang “tips” di sini sebagai “kiat-kiat”, “petunjuk”, atau... yah... “saran” saja. Bagaimana anda mengaplikasikannya, tentu tak ada seorang pun, terlebih saya, yang punya kuasa untuk memaksa. Jadi baiklah juga kiranya kalau Anda tidak memandang tips-tips ini sedemikian SERIUS, sampai-sampai anda memandang bahwa saya ini tak ada salahnya (karena kemungkinannya justru adalah bahwa tulisan ini tak ada benarnya, dan sedikit pula faedahnya). Bisa jadi, membaca tulisan ini akan hanya membunuh waktu anda yang berharga itu. Apalagi kalau anda sedang di kantor, motor ojeg, becak, angkot, atau lapak dagang anda, pada saat jam kerja.

Tips yang akan saya berikan adalah mengenai “bagaimana anda harus memandang dan memperlakukan orang lain, supaya anda bahagia”.

Mengapa hanya anda yang perlu dibuat bahagia? Apakah saya memandang bahwa anda sama tidak bahagianya dengan saya? Apalah pula dasar anda mengira bahwa saya tidak bahagia? Siapa yang bergosip tentang saya di telinga anda? Hehe..

Tidak, saudara... Sebenarnya semua tak lebih karena memang anda itu cuma bisa bikin diri anda sendiri bahagia. Tak usahlah jauh-jauh ingin membuat orang lain bahagia. Mereka bisa cari itu bahagia sendiri. Kalau anda memang ingin bermurah hati membuat orang lain bahagia, maka tirulah strategi saya ini, buatlah TIPS untuk orang lain. Biar mereka ikuti, kalau mereka mau percaya.


Tips 1: Jangan cepat adili orang atas satu perbuatan.

Ada pepatah kuno yang bilang bahwa “kemarau satu tahun dapat dihapus hujan sehari”. Apa ini artinya? Bisa jadi (dan bisa jadi tidak), ada 2 pengertian besar. Pertama, seorang manusia yang dikenal selalu berlaku “tidak baik” tiba-tiba mendapat penilaian yang berubah 180 derajat dari orang lain karena melakukan satu perbuatan yang dinilai masyarakat sebagai “baik. Pengertian yang kedua tentu saja sebaliknya, seorang manusia yang selalu berusaha berbuat “baik” tiba-tiba dinilai buruk oleh orang lain karena kedapatan melakukan satu perbuatan yang “tidak baik”. Anda bisa pilih Anda tipe penilai yang seperti apa, walau saya tentu akan lebih menyarankan Anda untuk menjadi tipe yang “tidak terlalu cepat menilai”. Tapi itu terserah Anda.

Percaya atau tidak (karena tentunya belum pernah ada pengangguran yang usil betul meneliti ini), banyak orang yang (menurut saya) memilih pengertian kedua. Sebuah pepatah kuno lain dari negeri 1001 malam (dan siang tentunya, karena siang dan malam itu bergantian) mengatakan bahwa “manusia itu adalah 10 kebaikan dan 1 kesalahan”. Jadilah manusia itu berusaha melakukan 10 kebaikan, supaya 1 kesalahan itu tidak terlalu dipedulikan orang lain. Konsep yang ternyata sangat sulit dipraktikkan, karena pada kenyataannya, yang 1 itu biasanya lebih menarik dan lebih diingat orang lain dibanding yang 10.

Kalau Anda berbuat 1 kebaikan yang kebetulan diketahui oleh orang lain, orang akan berkata “memang sudah begitu seharusnya”. Kalau 2, 3, 4 atau 5 perbuatan, maka orang akan mengira Anda akan punya maksud lain dibalik kebaikan-kebaikan itu. Kalau sudah 6 – 10, orang akan mulai menganalisis mengapa Anda bisa sebaik itu. Tapi kalau yang 1 keburukan itu muncul, Anda bisa ucapkan selamat tinggal pada 10 kebaikan Anda. Orang akan lupakan itu semua, dan yang 1 itu akan jadi hal pertama yang orang ingat dari Anda.

Itulah mungkin yang jadi asal muasal mengapa orang lain akan dapat menyebutkan daftar kekurangan Anda secara rinci, bahkan sedikit dilebih-lebihkan kalau ada dengki. Tapi ketika diminta menyebutkan soal kebaikan, tiba-tiba kata-kata yang tersembur dari itu orang punya mulut biasanya jadi umum-umum saja sifatnya. Maksud saya, kata-kata seperti “baik, perhatian, rajin, setia kawan”, dan sebagainya. Tapi kalau soal kekurangan, itu orang bisa sebut anda “pelit” sambil kasih contoh apa yang Anda “pernah” lakukan sehingga Anda dianggap layak mendapat predikat itu.

Ya tak perlu juga kemudian anda sebut daftar peminta-minta yang pernah mendapat sedekah dari Anda barang 50 atau 100 ribu. Nanti jadi bertambahlah alasan buat orang sebut anda “sudah pelit, riya pula. Manusia gila pujian, pamrih saja yang diincarnya”.

Nah, maka tips pertama dari saya adalah: “JANGAN seperti itu!
Mudah bukan? Maksud saya bukannya jangan pelit dan jangan riya. Cukuplah kitab-kitab suci saja yang melarang anda untuk itu. Maksud saya adalah, janganlah kiranya anda adili seseorang karena satu perbuatan yang anda tahu saja. Karena bisa terkejut anda kalau tahu apa saja yang orang itu perbuat tapi anda tidak tahu. Janganlah nilai orang itu baik atau buruk, karena biasanya orang itu punya dua-duanya. Kalau hanya baik, berarti malaikatlah dia. Kalau hanya buruk, berarti setanlah dia. Kita bicara manusia, dan tak layaklah kita ini mengadili sesama kita (kecuali berdasarkan hukum pidana/perdata yang sudah jelas kata orang-orang pintar harus diikuti supaya tertib dan teratur kehidupan ini).

Sekarang, bagaimana kalau ada orang yang menilai kita buruk? Langkah terbaik menghadapi penilaian orang lain terhadap kita yang seperti ini adalah diam, dan menanyakan pada diri Anda sendiri, “apakah memang betul kata itu orang?” Kalau kita rasa-rasa betul, ya kita bikin lebih baik lagi diri kita, tapi diam-diam saja. Biar saja itu orang nilai kita buruk. Nanti kalau kita sudah jadi baik, baru tahu rasa dia. Tapi kalau rasa-rasanya penilaian tadi salah, yasudah, toh dia yang salah, bukan kita. Biar nanti Tuhan yang urus.

Lantas bagaimana kalau ada orang menilai kita baik? Langkah terbaik adalah tertawa dalam hati, karena berarti orang itu bisa jadi telah TERTIPU oleh beberapa kebaikan yang Anda lakukan (dan dia tahu), padahal niatan Anda saat melakukannya mungkin tidak semulia itu. Toh kalau ternyata itu membawa kebaikan, kita bisa berucap alhamdulillah. Segala puji untuk Allah. Bukan untuk anda. Karena kalau tidak ada Allah, tidaklah bisa juga anda berbuat itu kebaikan. Bahkan mungkin anda juga tidak bisa ada di kehidupan ini.  Tak perlulah anda bilang bahwa dia salah menilai anda. Sudah dinilai baik kok malah mau dinilai buruk...
Tapi ya tentunya, hati-hati juga dengan penyakit yang namanya sombong. Bisa celaka nanti anda, dan tak bisa masuk surga.


Tips 2: JANGAN membuat-buat alasan, dan jangan paksa orang mengerti anda

Sama seperti kita yang terlalu malas untuk mau mengerti orang lain, orang lain pun sebenarnya sama. Pandangan tentang anda yang sudah terbentuk di benak seseorang sangat sulit untuk bisa diubah hanya dengan usaha Anda memberikan alasan mengenai apa yang Anda pernah lakukan.

Bagaimana sebenarnya orang lain itu menilai kita?
Tidak lain, berdasarkan pemahaman mereka sendiri, berdasarkan sudut pandang MEREKA terhadap apa yang KITA lakukan. Orang lain tidak peduli pada niat Anda, atau pada alasan Anda, atau pada latar belakang yang menyebabkan Anda berlaku seperti itu. Orang lain hanya peduli pada apa yang mereka lihat, karena memang hanya itu yang bisa mereka mengerti.

Maka sebenarnya kegiatan penyampaian alasan pada orang lain itu hanya akan sia-sia belaka saja. Mereka bisa seolah mendengarkan Anda, tapi sebenarnya penghakiman sudah diberikan dan kemungkinan untuk merubahnya bisa jadi lebih kecil dari ujung rotring. Karena apapun alasan Anda, untuk mereka itu tidak menarik, dan justru akan menimbulkan anggapan bahwa Anda hanya membual saja, supaya Anda tidak terlihat terlalu buruk di mata mereka. Tambah buruklah kita jadinya. Sudah buruk, suka membual pula.

Jadi kalau Anda ada salah, yasudah, akui saja. Kalau memang Anda punya alasan, ungkapkan saja, tapi jangan dipaksa-paksa orang lain percaya. Kita jujur saja pada diri sendiri. Perkara orang akan percaya pada alasan itu, ya itu terserah dia. Yang penting kita sudah ungkapkan, tanpa ada paksaan.

Bisa saja kita melakukan... atau tidak melakukan... sesuatu itu tanpa alasan sama sekali. Murni karena Anda usil saja, atau karena malas. Tidak belajar atau tidak mengerjakan tugas dari guru misalnya. Yakin betul saya, bahwa kalau guru anda tanya kenapa itu PR tidak dibuat dan anda jawab karena malas, 100% dia akan langsung percaya. Hebat kan?

Tapi kalau anda bilang karena mati lampu, karena anda cari uang buat makan, karena pulpen anda raib, dan lain-lain sebagainya, yakin betul saya, guru anda akan bantah dan bilang kalau itu semua alasan klasik sejak zaman kuda masih jadi alat angkut satu-satunya, yang semestinya sudah bisa diantisipasi oleh seorang yang terpelajar. Disebutnya pula kita tukang bual. Atau bahkan... disebutnya kita itu memang PEMALAS.

Lihat kan? Sama saja kan hasilnya?

Karena apapun alasannya, kejadiannya ya memang hanya satu itu, bahwa PR-nya tidak anda rampungkan. Jadi ya tidak perlulah alasan-alasan itu. Bilang saja anda tidak buat. Titik tanpa koma. Kalau guru anda tanya “kenapa?”, barulah anda jawab yang sejujurnya. Jangan dibuat-buat.
Tapi kalau hasilnya anda disuruh berdiri di muka kelas, jangan coba-coba salahkan saya atau tulisan ini. Saya tak akan peduli.

Begitu juga kalau Anda sudah punya pasangan, lalu jalan dengan orang lain (yang berjenis kelamin berbeda dengan anda tentunya). Besar kemungkinan pasangan Anda sudah menilai anda tukang serong, sebelum dia bertanya apa alasan Anda (kalau memang dia masih mau ajak anda bicara). Maka jawaban-jawaban semacam “Ah, itu teman kerja saja”, “eh, kebetulan saja searah”, “itu teman dekat saya, bahkan sebelum kenal kamu. Tak ada kenapa-kenapa kok” itu tidak akan ada gunanya.

Prinsipnya adalah... “lebih mudah Anda berusaha mengerti orang lain, daripada Anda berusaha membuat orang lain mengerti Anda”. Jadi, kegiatan berusaha membuat orang lain mengerti itu tidak akan membuat anda bahagia. Orang tetap akan kasih anda cap seperti yang dia pikirkan saja, dan bertindak berdasarkan pemahaman dasarnya itu.

Misalnya anda ada salah, terus coba-coba jelaskan bahwa maksud anda tidak begitu, dia tetap akan bilang sakit dia punya hati, bahwa alasan anda itu kadang-kadang saja dia percaya, tapi sakit hatinya itu lebih besar, jadi dia tetap akan meninggalkan anda. Peduli amat perasaan anda bagaimana.

Jadi anda akan lebih bahagia kalau sejak awal anda sudah berusaha mengerti bahwa karena kesalahan anda itu dia meninggalkan anda, lalu berteman dengan orang lain. Terimalah saja bahwa anda itu orang buangan. Toh menjadi buangan juga tak buruk-buruk amat, selama anda tahu dan yakin bahwa kebenarannya tidak seperti itu. Itu akan selamatkan anda (setidaknya) dari kekecewaan merasa dibuang karena tidak dipercaya.


TIPS 3: JANGAN berharap pada manusia, dan JANGAN pegang teguh janji atau omongan orang

Itu juga akan bikin anda selamat dari kecewa. Berbahagialah pada yang anda dengar pada saat itu diucapkan oleh itu orang, tapi berbahagialah di hari depan dengan bersiap-siap kalau saja itu orang ingkar.

Kata seorang bijak di jaman dulu (perkaranya, konon ini orang bijak kemudian menjadi Nabi, sehingga tambah besarlah alasan untuk saya percaya, tidak bisa tidak): “jangan berharap pada manusia, engkau pasti akan kecewa. Tapi berharaplah pada Allah saja, dan engkau pasti tidak kecewa”.

Itu kata-kata bijak ternyata memang bijak betul, 100%. Soalnya, kalau manusia itu mudah sekali tidak punya itu yang kata orang pintar namanya konsistensi. Sudah begitu, selalu punya pula dia alasan untuk kita harus mengerti.

Kasih contoh saja supaya anda lebih mengerti kata-kata orang bodoh ini. Tapi ingat! Ini contoh saja. Bisa jadi tidak ada yang nyata-nyata seperti ini. Kalau ada, itu kebetulan saja yang akan saya bilang tidak disengaja. Hanya dibuat-buat saja.

Kita ambil contoh perkara cinta, karena itu juga tema yang katanya universal dan jadi tema sekira 83% dari film-film yang ada di jagat dunia ini.

Sebut saja anda dulu punya cinta dengan lawan jenis. Anda bilanglah cinta dia selamanya (walaupun anda tidak tahu berapa lama selamanya itu sebenarnya), dan disebutlah oleh dia kalau dia juga cinta anda selamanya, karena tidak lebih waktu itu dia ingin jadi cermin saja.

Beberapa tahun kemudian, pada satu kesempatan, anda bilanglah lagi perkara cinta-cintaan itu. Anda tidak ajak dia untuk kawin, tapi sekedar ingin tahu saja bagaimana nasib itu cinta. Tapi dia bilang mungkin sekarang dia sudah tidak seperti dulu. Heranlah anda. Jatuh sakit hati anda. Patah bungkuk tulang punggung anda.

Disebutnyalah beberapa pertimbangan. Katanya mungkin dulu itu dia begitu karena emosi saja, dan dia pikir kita juga waktu itu sedang emosional saja (meskipun anda selalu merasa bahwa waktu itu anda serius, dan tidak pernah lebih serius dari itu), karena situasinya sedang emosional seperti di sinetron-sinetron di TV swasta. Atau disebutnya bahwa cinta anak muda itu kata orang namanya cinta monyet saja. Makin besar dia merasa jadi manusia seutuhnya.

Nah! Lihat itu contoh!
Tidak saja anda diingkari, tapi disebutnya juga kalau anda emosional dan tidak serius. Lebih parah lagi, disebutnya juga anda itu monyet. Disalahkannya anda karena belum juga anda menjadi manusia, karena manusia itu harusnya bisa mengerti keadaan dunia.

Atau kita ambil contoh tukang jahit, yang janji pada anda untuk ambil anda punya celana dalam 5 hari setelah anda taruh kain di dia. Maka datanglah anda 5 hari kemudian, tapi ternyata itu kain belum juga berbentuk celana, masih bentuk sarung.

Si tukang jahit tak kalah sengit. Disebutnya anda mestinya telpon dulu pada hari ke-4, kabari anda akan datang. Disebutnya tiba-tiba dia jadi banyak pesanan, rezekinya sedang lancar, tapi waktu pengerjaan jadi lebih lama. Anda tetap heran karena pada intinya anda pesan celana itu untuk 5 hari, karena pada hari ke-6 anda harus ke rumah teman yang sedang pesta khitanan. Tidak mungkin teman anda yang dikhitan tapi anda yang tidak pakai celana.

Nah! Ini contoh baik juga! Celaka anda!
Tidak hanya celana anda belum jadi, tapi disebutnya juga anda itu salah karena tidak telpon. Dia ungkit-ungkit pula kenapa orang berpenghasilan lebih seperti anda bisa tidak punya pulsa (karena telpon itu harus pakai pulsa, tidak hanya pakai telpon). Lebih parah, disebutnya anda dengki karena tidak bisa terima kalau dia sedang berbahagia atas dasar rezekinya dalam 5 hari terakhir jadi lebih lancar. Ini parah betul, karena setelah keterlambatan itu, anda tetap harus bayar harga sama setelah jadi itu celana.

Itu contoh untuk orang-orang yang anda sudah kenal ya. Kalau yang belum bagaimana? ya bisa jadi lebih parah lagi. Saya hampir tidak bisa berhenti berpikir (kecuali kalau saya sedang memikirkan hal lain, karena manusia seperti saya ini memang selalu banyak pikiran sampai botak, supaya terlihat pintar, padahal tidak penting juga pikiran-pikiran itu) mengenai Obama yang katanya presiden amerika itu. Kok banyak betul orang yang berharap sama dia ya? Banyak yang sudah kenal baik rupanya? Memang dia siapa sih? Saya lebih percaya pada tukang pangkas rambut saya bahwa dia akan bikin betul rambut saya yang rancung ini, dibanding percaya pada obama. Tapi lucunya, jauh lebih banyak orang yang jilat-jilat itu Obama daripada jilat tukang cukur saya. Aneh.
Mungkin dia pakai susuk ya? Dukunnya tentu tokcer betul. Nah... ini dia contoh omongan orang tidak terpelajar. Saya cuma dengar-dengar saja. Itu bukan omongan saya ya.

Nah, kalau soal percaya pada Allah... nampaknya itu urusan ahli-ahli agama saja yang bisa jelaskan pada Anda. Atau bisa jadi kemungkinan besarnya adalah Anda lebih ahli dari saya.

Jadi prinsip dari tips kali ini supaya anda bahagia adalah: "jangan anda ingkar dari omongan anda (supaya anda tidak bikin orang jadi tidak bahagia, karena bikin orang bahagia itu mestinya jadi sumber bahagia anda juga), dan jangan terlalu pegang teguh omongan orang lain." Ya pegang saja, tapi jangan teguh-teguh. Percaya boleh, tapi jangan lebih dari percaya anda pada Tuhan, karena yang janji itu hanya manusia. Perkaranya, kecil juga kemungkinan itu orang peduli kebahagiaan anda kalau dia ingkar janji. Dikiranya anda manusia yang selalu mengerti. Kalau tidak mengerti, ya itu urusan anda, dan jadi kesalahan anda.


Tips berikutnya adalah....

Eh... aduh... kok sudah panjang betul ini tulisan ya?

YA! Anda benar! Ini artinya tidak lebih daripada bahwa kemampuan saya membual sudah sedemikian hebatnya. Tapi tidak mengapa. Anda harus coba sekali-sekali. Membual itu menyenangkan. Percayalah!

Sebetulnya (dan memang sebetul-betulnya), tips-tips dari saya masih banyak. Tapi untuk menghemat waktu anda, baiklah kiranya saya batasi sampai di sini dulu. Ya, saya tau, tulisan-tulisan saya banyak yang bersambung, tapi sedikit juga yang akhirnya dibuat sambungannya itu. Kalau anda merasa begitu, silakan dilihat tips nomor 3 itu tadi. Meski begitu, untuk yang ini, sepertinya akan saya sambungkan, karena saya begitu berhasrat untuk memberi tips-tips ini... seolah akan ada yang percaya.




Baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi.


NB: Gambar diambil dari (tanpa izin, maaf):
1. http://www.abc.net.au/news/stories/2008/05/29/2258813.htm?site=news
2. http://kingstonyouthgroup.blogspot.com/2009/03/judge-judy-aint-got-nothing-on-me.html
3. http://portalbugis.wordpress.com/2009/06/17/alasan-berbohon/
4. http://forums.walesonline.co.uk/viewtopic.php?f=8&t=7474&start=150

Monday, December 07, 2009

Singkat Padat

Beberapa ini adalah beberapa obrolan singkat saya dengan beberapa orang, tentang beberapa hal...

Sengaja dituliskan singkat dan padat saja, karena entah kenapa, sedang malas sok mencari "hikmah" dari omongan orang (maupun omongan diri sendiri). Singkat dan Padat. "Sintal" kalau dulu seorang teman saya yang jadi ketua OS pernah bilang.

Jadi, selamat menikmati saja.


Kami ini Benda Mati!
Sebuah obrolan antara saya dengan seorang rekan kerja, yang kebetulan PNS
Saya: "Pak, yang rapat di Bogor nanti, Bapak ikut gak?"
Pak X: "Inginnya sih ikut. Pak Y ikut tidak?"
Saya: "Sepertinya tidak Pak. Gimana?"
Pak X: "Lho? Jadi, ga ada yang organik dong?"
Saya: "Gak ada Pak. Benda mati (anorganik) semua."


Kami ini Hanya Setengah Manusia.
Sebuah obrolan di taxi dengan seorang rekan kerja, sesama non-PNS. Kebetulan sehabis rapat kami mendapatkan honorarium rapat yang tertutup rapat dalam amplop.
Saya: "Alhamdulillah..."
T: "Alhamdulillah... walaupun yang didapat ternyata beda dengan kuitansi yang ditandatangan' (sambil buka amplopnya)
Saya: "He? Emang berapa di kuitansi? Di amplop berapa?"
T: "Di kuitansi Rp xxxxxx (jumlah disensor). Di amplop Rp xxxxxxx (jumlah disensor, tapi setengah dari jumlah yang di kuitansi itu)"
Saya: "ooooo... kacrut juga"
T: "Tapi gw dah nanya mas P sih. Katanya memang kita setengah aja. Kalo yang PNS dapat full"
S: "Ooooo... jadi kita memang hanya setengah manusia. Kalau mau jadi manusia seutuhnya... jadilah PNS"


Over-Under.
Alkisah, saya bermaksud untuk mengambil sebuah pekerjaan secara part-time, yang kebetulan juga dibawah kendali project yang saat ini sedang saya tangani. Berikut perbincangan saya via YM dengan si Pimpro proyek, yang kebetulan orang Spanyol.
Saya: "So, what do you think, Bu? Do you think I can take the task? Or is there any objection from you, Bu?"
Bu Z: "Personally I have no objection..."
Saya: "But....?"
Bu Z: "I'm just worried that you'll be overworked. You have more than enough work even now."
Saya: "Don't worry, Bu. I don't think I'm overworked.
Bu Z: "But....?"
Saya: "I'm underpaid."


Teman Sejati
Seorang teman bercerita pada saya tentang seorang temannya yang lain. Alkisah, dia sedang perlu pertolongan, dan temannya itu membantunya.
A: "Eh, wan, kemaren tu gw kan lagi kesusahan banget ya (sambil kemudian menceritakan masalahnya). Untung banget deh, ga gw sangka-sangka, si B... yang udah lama ga kontak-kontakan sama gw... ternyata mau bantuin gw. Gak nyangka gw..."
Saya: "Oooo... B memang orang baik..."
A: "Sekarang gw paham, peribahasanya orang bule itu..."
Saya: "Yang mana?"
A: "A friend in need... is a friend indeed"
Saya: "Ooo... Apa emang artinya?"
A: "Ya jelas dong, teman sejati itu adalah yang bantuin kita pas lagi susah. Emang ada pengertian apa lagi?"
Saya: "Gw kira artinya kayak elu..."
A: "Ha? Kenapa emang?"
Saya: "Giliran lu lagi butuh aja (dan setelah B mau bantu)... baru deh si B lu anggep temen..."


Nanti diupdate lagi deh. Sementara segini dulu. Mendadak ada tugas.

Friday, November 20, 2009

Manusia itu Kontekstual, Gender itu Berpengaruh, Tampang Bagus itu Sebuah Keuntungan

Teringat waktu Agus Ringgo dulu pernah diwawancara di salah satu acara gosip.... (bukan berarti saya suka nonton acara gosip. Sebutlah waktu itu cuma saluran itu yang bisa ditangkap dengan baik. Saluran lain banyak semutnya)

Waktu itu dia ditanya soal Christian Sugiono yang merupakan teman baiknya. Kata Agus Ringgo kira-kira seperti ini:

"Susah tau jadi orang jelek yang temenan sama orang ganteng. Gua kan pernah tuh, pengen jatohin namanya si Ian (C. Sugiono). Gw bilang aja ke cewek-cewek kalo si Ian tu takut kecoak. Eeeeh, kata mereka malah "ooooo, co cweeeet (so sweeet), lucu yah, ternyata takut kecoak. Hihi. Nanti gw lindungin deh", sambil pada senyum-senyum. Nah, tau gitu, gw bilang aja, gw jg takut kecoak loh. Eeeh.. kata mereka malah "ih, pengecut! cowok apaan luh? udah jelek, sama kecoak aja takut! dasar cowok lemah!". Nah, itulah bedanya orang ganteng sama orang jelek sama gw."

Kalau dipikir-pikir... memang benar juga ya.

Kita ini manusia kontekstual. Kita menilai berdasarkan konteksnya. Apakah itu konteksnya kondisi kita, kondisi yang dibicarakan, atau apapun. Yang jelas, tanpa sadar, kadang kita memang selalu punya standar ganda atas segala sesuatu.

Mari kita lihat contohnya:

1. Tentang mata keranjang:
- Seorang pria yang sudah punya pasangan melihat seorang wanita lewat, lalu dia berkata ke seorang teman wanitanya: "wanita itu... cantik juga ya...". Si temannya itu akan bilang "dasar lu mata keranjang... inget udah punya pasangan!"
- Seorang wanita yang sudah punya pasangan melihat seorang pria lewat, lalu dia berkata ke seorang teman wanitanya: "Cowok itu... lucu yah... hihihi". Si temannya itu akan bilang "Iya yah... keren abish", lalu berjalan lagi sambil sekali-sekali membicarakan apa saja yang bisa dilihat dari si pria ganteng itu.

2. Tentang obsesi cinta:
- Seorang pria bertampang "biasa" punya obsesi dan perasaan yang begitu besar pada seorang wanita, meskipun keadaannya tidak memungkinkan untuk dia bisa bersama si wanita itu (cinta ga kesampaian ceritanya). Teman-temannya akan bilang: "Posesif, obsesif, psycho... ati-ati luh, ntar malah jadi orang stress. Ntar malah bikin macem-macem lagi luh. Udalaaah..."
- Film Twilight, Shakespeare in Love, Titanic, Romeo and Juliet, City of Angels, Butterfly Effect: "Ooo.... co cweeeet.... meskipun berat tapi mereka tetap pertahankan cinta mereka... cinta itu memang harus begitu... oh... seandainya...". Mungkin karena kalau di film tampang para pemeran prianya ganteng-ganteng ya? Orang ganteng kan ga mungkin psycho...

3. Tentang rahasia:
- Seorang pria memendam sebuah rahasia yang fatal, sepanjang hidupnya. Komentar: "Gila ya tu orang... Bisa-bisanya ga bilang soal itu. Padahal fatal banget. Tega banget dia."
- Seorang wanita memendam sebuah rahasia yang fatal, sepanjang hidupnya. Komentar: "Wanita itu memang berjiwa besar. Hatinya mampu memendam rahasia itu meskipun sudah sekian lama...", "A woman's heart is a deep ocean of secrets..." (Rose, dalam Titanic)

4. Tentang kekaguman terhadap fisik:
- Seorang pria mengatakan penilaiannya mengenai seorang wanita, kepada teman wanitanya. Dia bilang: "Eh, si X... badannya bagus yah. Cantik bgt pula mukanya. Rambutnya... pff... suka deh gw". Si teman wanita akan bilang: "Ih, fisik banget sih lu? Dasar dangkal!"
- Seorang wanita mengatakan penilaiannya mengenai seorang pria, kepada teman wanitanya. Dia bilang: "Wow, si Y.... keren bgt. bodinya bagus, bajunya modis. cool bgt penampilannya." Si teman wanita bilang: "Iya ya... hihihi... keren banget. Gw jg suka ngeliatnya. Yaaah, walau bagaimanapun kan yang pertama keliatan tu kan tampang fisik. hehe."

5. Tentang merokok:
- Seorang wanita merokok. Pria yang melihat akan bilang ke temannya: "Ga suka gw ngeliat cewek ngerokok. Kaya bukan wanita baik-baik..."
- Seorang pria merokok. Pria yang melihat akan bilang: "Bagi dong jek!"

6. Tentang cowok pendiam:
- Seorang pria bertampang biasa, bersifat pendiam, penyendiri: "Dasar kuper... pasti malu sama tampangnya sendiri, ato stress karena ditolakin mulu sama cewek. Jangan-jangan psikopat."
- Pria ganteng pendiam, penyendiri: "Wow... cool... kaya Rangga AADC. Pasti aslinya romantis kalo sama cewek. Waaah... pasti dah banyak cewek yang ditolak tuh"

7. Tentang cowok berwajah angkuh:
- Seorang pria bertampang biasa, kadang terlihat angkuh dan pendiam: "Udah jelek, judes lagi. Cih!"
- Seorang pria ganteng, kadang terlihat angkuh dan pendiam: "hmm... Misterius... Menantang..."

8. Tentang name-tag (ini curhat colongan):
- Seorang pria yang tampangnya tidak pernah mendapatkan pujian yang tulus masuk kantor tempat dia bekerja selama HAMPIR 5 TAHUN TERAKHIR. Seorang satpam berwajah garang dan sangar dengan judes membentak: "Mau kemana mas?" "Pegawai sini?" "Mana nametag-nya?" "Besok pakai ya!"
- Seorang wanita yang tampangnya banyak mendapat pujian (tapi kadang agak stress kalau dekat-dekat saya, karena saya termasuk orang-orang yang berpendapat sebaliknya) masuk kantor yang sama, dimana dia sendiri belum genap setahun bertempat di situ, dan sebenarnya tidak punya nametag. Satpam yang sama menghadang, lalu berkata: "Selamat pagi mbak..." (dengan senyum manis di wajahnya)

9. Tentang pilihan:
Alkisah, ada pasangan pria-wanita, berselisih paham. Si pria punya pilihan sendiri, si wanita punya pilihan lain. Pilihan mana yang kemudian disepakati keduanya?
- Pilihan si pria yang diambil: "Dasar cowok egois! Cih!"
- Pilihan si wanita yang diambil: "Karena wanita ingin dimengerti..."

10. Tentang, tantangan, hambatan, atau penundaan:
- Dalam kehidupan nyata: "Sudahlaaah, terima kenyataan. Memang tidak akan bisa kok. Tentu ada jalan yang lebih baik"
- Ketika nonton film, di bagian akhir, dan ceritanya mengambil hikmah dari film: "Oh... kisah yang indah... Meskipun jalannya berliku tapi dia tetap yakin, dan dalam cara yang tidak disangka-sangka akhirnya berakhir bahagia. Itulah kenapa kata orang: 'jangan takut untuk bermimpi'"
Mungkin karena di film, orang bisa lihat ending-nya ya? Sementara di kehidupan nyata, masa depan itu misteri, tapi kita sendiri yang suka meyakinkan diri sendiri akan ending yang buruk...



Ya begitulah...
Ini hanya sekedar 10 buah contoh. Saya yakin Anda pasti punya sekian juta contoh lain... karena kalau dipikir-pikir, manusia memang melihat sesuatu itu tidak saklek. Semua sesuai konteks yang dihadapi saat itu. Itulah mengapa, contoh-contoh yang tersaji di atas pun sebenarnya tidak lebih dari sebuah pemikiran pragmatis, karena tentu ada banyak sekali alasan (atau pembenaran) yang bisa mempengaruhi sikap, tanggapan, dan jawaban seseorang dalam kasus yang dihadapinya. Dengan begitu, sebenarnya tidak ada itu yang namanya "prinsip". Saya pun ternyata tidak punya itu prinsip, karena saya pun melihat dan menyikapi sesuatu sesuai konteks yang saya hadapi saat itu. Prinsip itu kan cuma panduan. Yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari biasanya memang cuma pembenaran. Ya tapi... saya terima itu. Saya baru sadar kalau dari dulu saya memang suka sekali membuat pembenaran. And it feels good =p


Sekali-sekali... tidak ada salahnya berpikir sederhana. Untuk senang-senang saja =))


Sudahlah wan... STOP BABBLING!!!


Mari kita melihat bintang-bintang...

Thursday, November 19, 2009

Ada apa Dengan (film) 2012?

Baca headline koran-koran berharga 1000 rupiah di Ibu Kota hari ini... besar sekali tulisannya. Katanya MUI cabang manaaaa gitu (gamau bilang, biar ga dikira mendiskreditkan) cekal 2012 (film yang lagi heboh itu loh)....


........


Tidak bisa berkata-kata....


.......


Mikir.....

......


Terus ketawa sendiri...... =))


......

God! I love this country =))


(Kalo saya jadi produser filmnya, saya akan bayar MUI karena tanpa saya minta telah berjasa menjadikan film ini... lebih dari sekedar film)



NB: Saya belom nonton. Kehabisan tiket mulu.

Monday, October 26, 2009

Tiga Batang Rokok dan Segelas Besar Kopi-Moka


And here I am... having a date with myself...

Makasih Nov, dari dulu saya emang ingin coba saran kamu ini.
Ya tidak sepenuhnya sendiri juga sih. Ada teman-teman, tapi saya memilih duduk sendiri supaya bisa merokok... dan menulis ini dengan tenang.

Ada baiknya juga berkesempatan sendiri dalam keramaian seperti ini. Mengizinkan kita untuk berpikir dengan lebih tenang, lebih jernih. Kalau sendiri yang memang sendiri, kadang lintasan-lintasan pikiran yang mengganggu itu justru lebih kuat. Kalau ada sesuatu yang kurang, itu adalah alunan musik hidup yang tadinya saya harapkan di tempat ini. Baru mulai minggu depan katanya.

Lantas apa kiranya yang membuat saya ingin melakukan hal ini? Tentunya, ketika alasan itu tidak bersifat begitu pribadi, saya tidak membutuhkan kesunyian untuk berkontemplasi, dan bisa dengan seenaknya berbagi bersama teman-teman. Maka mungkin sekedar apa yang saya pikirkan saja. Ini tentang hidup -tentu saja, seperti biasa- dan apa yang bisa dilakukan hidup kepada kita, atau apa yang bisa kita lakukan terhadap hidup.


Semua kisah tentang hidup tak pernah mengenai hasil atau resultan akhir yang didapat. Karena hasil baru akan didapat ketika hidup itu berakhir. Dan itu berarti cerita tentang kematian.

Hidup selalu mengenai proses. Mengenai bagaimana dia dijalani. Mengenai kenyataan, mengenai harapan, mengenai bagaimana menghadapi kenyataan untuk membangun harapan.

Kita hidup di sebuah bumi yang berputar. Di sebuah massa cair dengan inti yang cair, yang begitu rapuh tapi kita tidak ada pilihan selain hidup diatasnya karena suatu gaya tak kasat mata yang kita sebut gravitasi. Bumi itu berputar bersama planet-planet lain mengitari matahari dengan kecepatan dalam sebuah galaksi yang kita sebut Bima Sakti. Bima Sakti bersama galaksi-galaksi lain juga berputar mengelilingi sesuatu dalam suatu sistem yang sudah terlalu besar untuk kita bayangkan. Dan mungkin, sistem itu juga berputar dalam suatu sistem lain yang jauh lebih besar.

Bila kita bayangkan itu semua... bila kita bayangkan seluruh sistem itu... dan menyadari bahwa kita adalah sebuah partikel yang begitu kecilnya sehingga mungkin tidak berarti lagi... maka eksistensi kita menjadi sesuatu yang absurd.

Kita hidup dalam pemahaman kita bahwa segala sesuatu terjadi untuk kita, karena kita, dan oleh karenanya kita merasa berhak untuk berpikir hanya dalam skala itu. Yang kita kadang tidak menyadari adalah bahwa dalam hidup itu kita sebenarnya hanya selalu berusaha meraih... menjangkau... dan mengharapkan sebuah ketidakpastian suatu saat akan memihak pada kita. Terlihat sia-sia. Tapi kadang memang hanya itu yang bisa kita lakukan, setidaknya untuk bangun setiap hari dan merasa bahwa hidup kita ini memang ada artinya.

"Sometimes we just reach out, and expect... NOTHING... in return." (Dari film “The Martian Child”)

Dalam konteks besar ini jugalah kemudian segala sesuatu yang kita pikirkan, yang kita rasakan, kita jalani, menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak berarti. Tidak signifikan dalam keseluruhan sistem itu. Apapun yang kita jalankan itu, segala emosi, semua kebahagiaan, kesedihan, harapan, amarah, kasih sayang... apa artinya itu?


Saya... semestinya... telah belajar bahwa amarah hanya akan membawa kepahitan bagi hidup kita sendiri. Tapi toh saya tetap tidak bisa menghindari kenyataan bahwa dalam jalan ini, kadang kemarahan dan kesedihan adalah bagian daripadanya. Adalah naif apabila saya bilang bahwa pengalaman hidup pada masa lalu bisa membuat kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa kini, atau masa depan. Itu tetap terjadi. Marah masih menjadi bagian dari karakter saya. Ya perkara apakah kemudian saya bisa menjalaninya dengan lebih baik atau tidak, itu mungkin hal yang berbeda.

Tapi kadang kita memang harus menerima bahwa sebuah sansak adalah salah satu penemuan paling bermanfaat dalam kehidupan umat manusia. Kesadaran bahwa naluri untuk menghancurkan itu kadang harus disalurkan, dan bahwa dendam itu kadang memang harus terbalas suatu saat nanti. Toh kehancuran yang bisa dihasilkan tangan ini tidak akan cukup kuat untuk merusak keseluruhan sistem tatanan dari apa yang kita sebut alam semesta.

Dalam kadar tertentu, itu lebih menyehatkan dibanding memendam amarah dan membiarkannya suatu saat lepas tanpa kendali. Walaupun kadar itu sendiri tentu besarnya relatif untuk setiap orang.

Pada akhirnya kita hanya akan bisa membiarkan diri kita sendiri, dan orang lain, berpikir masing-masing, dan merasa masing-masing. Ya tentunya suatu saat kita bisa menghibur orang lain dengan kebenaran, agar semua pikiran buruk dan spekulasi di kepala orang itu bisa tereduksi. Karena, spekulasi mengenai berbagai macam kemungkinan adalah hal terburuk yang bisa ada di kepala seseorang. Spekulasi mengenai sesuatu yang diluar pengetahuan membuat kita tidak bisa tidur, bertanya-tanya mengenai mana yang benar itu sebenarnya. Tapi kadang kita membiarkan orang itu berspekulasi, karena kita memang takut mengatakan kebenaran, atau murni karena kita memang ingin menambah sedikit penderitaan di kepala orang lain.


You are what you think”, kata orang-orang sebagai penyederhanaan dari apa yang kita sebut sebagai hukum ketertarikan. Dan pikiran buruk yang melintas dalam suasana penuh amarah adalah sesuatu yang lebih cepat mewujud dibanding kebaikan, kata orang-orang sebagai pembenaran bahwa kadang tidak segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita. Tentunya, ketika itu terjadi, kita akan menyesal begitu rupa mengapa keburukan itu sampai pernah terlintas dalam pikiran kita, dan menyalahkan diri kita sendiri ketika keburukan itu mewujud jadi nyata.

Padahal adalah wajar kalau kita tidak mendapatkan segala sesuatu sesuai keinginan kita. Hidup memang dibangun dari ketidakadilan-ketidakadilan. Begitu tidak adilnya sehingga dalam skala yang lebih luas, semua orang mendapat ketidakadilan yang sama, dan kadang keadilan yang sama, sehingga semuanya menjadi adil. Ya memang dalam kasus-kasus tertentu, pada suatu saat dua orang berbagi ketidakadilan dan saling menguatkan satu sama lain, tapi yang satu kemudian meninggalkan yang lain ketika keadilan datang padanya. Well, that’s just life. Dan kadang, orang yang ditinggalkan memang dituntut untuk bisa mengerti bahwa dalam skala yang lebih luas, tentu semuanya ada alasannya, dan masih dalam taraf adil.

Kita tidak bisa menuntut dia yang mendapat keadilan untuk membangun pengertian yang sama untuk orang yang dia tinggalkan, karena memang tidak ada alasan untuk dia memikirkan hal itu. Dia akan bisa mengucapkan hal yang sama: “Well, that’s just life”. Tapi tentunya dengan standar kelegaan yang berbeda.

“Sansak” kemudian memang menjadi penemuan yang hebat untuk menghadapi kasus semacam ini. Blog ini pun akhirnya menjadi sansak saya.


Maka, kencan dengan diri sendiri ini bisa kita tutup dengan sebuah perintah... “Enough babbling!”

Mari kita memandangi bintang-bintang...



Ket.: Gambar diambil dari http://www.stfc.ac.uk/PMC/PRel/STFC/Universe.aspx?pf=1

Wednesday, October 07, 2009

I Walk The Line

(Mohon maaf untuk para pembaca yang sebelumnya mengakses tulisan ini tapi banyak yang tidak terbaca. Sudah saya perbaiki. Semoga sekarang terbaca semua. Terima kasih.)



I Walk The Line

- Johnny Cash (1955) -

I keep a close watch on this heart of mine
I keep my eyes wide open all the time
I keep the ends out for the tie that binds
Because you're mine, I walk the line

I find it very, very easy to be true
I find myself alone when each day is through
Yes, I'll admit that I'm a fool for you
Because you're mine, I walk the line

As sure as night is dark and day is light
I keep you on my mind both day and night
And happiness I've known proves that it's right
Because you're mine, I walk the line

You've got a way to keep me on your side
You give me cause for love that I can't hide
For you I know I'd even try to turn the tide
Because you're mine, I walk the line

I keep a close watch on this heart of mine
I keep my eyes wide open all the time
I keep the ends out for the tie that binds
Because you're mine, I walk the line



Dari Wikipedia:
"I Walk the Line" is a song written by Johnny Cash and recorded in 1956. A 1970 movie drama of the same name, starring Gregory Peck, featured a soundtrack of Johnny Cash songs including the title song. In 2005, a biographical film entitled Walk the Line was produced starring Joaquin Phoenix as Johnny Cash and Reese Witherspoon as June Carter, directed by James Mangold.

Lebih lengkapnya, bisa dibaca saja di: http://en.wikipedia.org/wiki/I_Walk_the_Line

Siapa (mendiang) Johnny Cash, bisa dibaca juga di: http://en.wikipedia.org/wiki/Johnny_Cash

Saya suka Johnny Cash, terutama lagu ini. Lagu-lagun
ya sederhana, dengan lirik lugas dan tajam, selalu diilhami dari apa yang dia alami dan rasakan. Lirik yang emosional di setiap baitnya, terutama bila kita mendengarnya dan berbagi perasaan yang sama (seperti saya waktu membuat postingan ini misalnya). Lirik memang kekuatan utama lagu-lagunya, disamping aksi panggung yang, pada waktu itu, memukau. Dari lagu-lagunya kita mendapat kesan bahwa dia sudah merasakan macam-macam. Ring of Fire adalah salah satu lagu lainnya dari Cash yang saya suka. Johnny Cash menjadi salah satu artis yang musiknya kelak membawa perubahan revolusioner pada musik dunia. Gayanya membawa gitar di punggung dengan terbalik bahkan menjadi ikon tersendiri sampai sekarang.

Ada banyak versi dari lagu ini. Saya sertakan beberapa v
ersi yang saya suka:
  1. Versi Johnny Cash muda (23 tahun) waktu menyanyikan lagu ini pada tahun 1956, bisa dilihat di: http://www.dailymotion.com/video/x1o9sk_young-johnny-cash-i-walk-the-line_music
  2. Versi dinyanyikan ulang oleh grup band Live sekitar tahun 2005an. Versi yang cukup kuat. Saya lebih suka versi ini dibanding versi aslinya. Bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?v=9_daJjRrv0A
  3. Versi dinyanyikan oleh Chris Daughtry pada American Idol tahun 2006. Versi yang paling saya suka. Sangat kuat. Ketika dia membawakan lagu ini, saya berpendapat dia seharusnya bisa jadi juara tahun itu. Bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?v=vkbK175J5oA


Judul lagu ini juga menjadi judul film tentang biografi Johnny Cash muda. "Walk The Line" (2005) dibintangi oleh Joaquin Phoenix sebagai Johnny Cash dan Reese Witherspoon sebagai June Carter yang kelak menjadi istri Cash. Film ini mendapat 5 nominasi oscar, tapi hanya 1 piala yang akhirnya didapat, yaitu pada kategori Best Actress. Trailer filmnya bisa dilihat di:http://www.youtube.com/watch?v=GsvZGwd8vrI

Mengenai arti dari frase "walk the line" sendiri, ada banyak perdebatan disini. Banyak pendapat mengatakan bahwa frase ini berarti "melakukan hal yang benar", berjalan di jalan yang "lurus", mempertahankan sebuah keseimbangan yang rapuh antara satu sisi ekstrim dengan sisi ekstrim lainnya. Dalam konteks lain, frase ini kadang juga berarti "menjalani hukuman", dalam pengertian menjalani proses pengadilan atau menjalani status sebagai terdakwa atau "rela" masuk penjara. Pendapat lain yang lebih romantik menghubungkan frase ini dengan komitmen. Komitmen dalam hal percintaan misalnya, dimana seseorang memantapkan komitmennya untuk mencintai seseorang dan rela menjalani "apapun" untuk mempertahankan kesetiaannya pada cinta itu. (aiiiiih... romantik sekali kan pemaknaannya?)

Untuk Johnny Cash sendiri... nampaknya bagi dia lagu ini bisa berarti semuanya. Ini adalah salah satu lagu hit pertama dia, dan masuk dalam album pertamany
a.

Melihat sejarahnya (dihubungkan dengan "kapan" lagu ini diciptakan), lagu ini diciptakan untuk istri pertama Cash, dimana dia berjanji untuk tetap setia.
Versi sejarah ini jelas berbeda dengan versi filmnya. Entah mana yang benar. Yang jelas, dalam perkembangannya, Cash ternyata tidak sepenuhnya "walk the line" pada istri pertamanya itu. Dia bertemu dengan June Carter setelah dia tenar, dan dalam satu kesempatan mengatakan pada Carter bahwa "suatu saat aku ingin menikahimu". Johnny Cash dan June Carter kemudian memang terlibat jalinan asmara, tapi tidak menindaklanjutinya sampai akhirnya Johnny Cash bercerai dengan istri pertamanya tersebut (hal yang kemudian menjadi pembenaran bagi para penggemar Cash untuk setidaknya mengatakan: "tuh... kan... berarti dalam hal ini bisa dibilang bahwa Cash tetap orang yang setia dong?"). Perceraian itu sendiri terjadi karena Cash terlibat dengan alkohol dan obat bius.

Karena kecanduan obat bius itu jugalah, June Carter pun kemudian menolak Cash yang ingin menikahinya. June mengatakan (kira-kira) "You can never walk any line with me in that (condition)". Maka Cash pun berhenti mencandu.
Pada satu kesempatan Johnny Cash juga pernah terlibat masalah hukum. Dia masuk penjara setelah June Carter menasihatinya untuk tidak melawan hukum dan harus mau bertanggung jawab menjalani hukuman atas apa yang telah dia lakukan. Johnny dan June akhirnya menikah, sampai ajal memisahkan mereka di tahun 2003. June Carter Cash meninggal dunia pada 15 Mei 2003. Johnny Cash meninggal tak sampai 4 bulan setelahnya, 12 September 2003.
Well... I guess Johnny sure walked the line with June.

Jadi...
Lagu ini memang bisa berarti banyak untuk seorang Johnny Cash.

Untuk para pendengarnya (termasuk saya), arti yang mana yang mau dipilih, sebenarnya terserah saja, sesuai kondisi yang dihadapi masing-masing. Apapun... ini tetap sebuah lagu yang bagus.




NB: Here's for you, Johnny. Thanks for the song tonight.

Thursday, July 16, 2009

Jam Kerja? Jam Kantor? Apa itu?



Tadi malam, ketika jam menunjukkan pukul 19.30, saya bersiap meninggalkan kantor. Saya pikir: "hey, sudah jam 19.30. Orang-orang sudah pada pulang semua. Saya biasa datang jam 8 pagi dan jam segini saya masih di kantor. Saya memang rajin."

Akan tetapi kejadian 12 jam berikutnya membuat saya sadar bahwa kesombongan itu akan selalu mendapatkan hukuman.

Tepat ketika saya beranjak hendak pamit ke bos, pak bos malah bertanya: "Wan, nanti tidur di sekretariat kan? Dekat lah ya, gak ke Bogor. Saya minta tolong dong. Ini ada kerjaan sedikit... blablablablablablabla..."

"Sial..." (pikir saya dalam hati)

Dan akhirnya duduklah saya kembali didepan komputer kantor, mengetik-ngetik, dan memesan mie goreng sebagai makan malam karena cacing-cacing di perut saya yang gendut ini mulai berteriak karena mereka takut kurus. Tentunya, mie goreng itu saya bayar sendiri.

Akhirnya, selesailah pekerjaan itu pukul 21.30. Saya segera pamit dan langsung keluar karena badan sudah gerah ingin mandi, dan mata sudah ngantuk ingin bobo. Saya tidak ingat berapa lama saya tidur. Tapi yang jelas saya bangun sekitar pukul 05.15.

Ketika saya bangun, seorang teman sudah datang menghampiri.
Kata-katanya cukup mengejutkan. Bos akan datang ke tempat saya tidur itu sekitar 10 menit lagi. Saya disuruh dibangunkan dan siap-siap, tapi tidak perlu mandi dulu katanya.

Pada akhirnya memang pukul 05.45 Pak Bos sudah datang, masih dengan celana pendek dan kaus oblong yang dipakainya tidur. Saya pun menghadap dengan memakai sweater yang saya pakai setiap malam untuk tidur (sehingga belum dicuci selama seminggu) dilengkapi sarung yang juga belum dicuci selama seminggu. Itulah setelan tidur saya setiap hari memang.

Ternyata ada koreksi-koreksi untuk pekerjaan saya yang semalam. Dan sebelum jam 7 saya diminta untuk menyelesaikan koreksian itu, sambil menunggu dia menumpang mandi. Maka jadilah saya menyalakan komputer pukul 06.00 untuk kemudian bekerja sampai pukul 07.00, kemudian mandi, dan bergegas ke kantor pukul 08.00.

......



Heran.
Seingat saya, pada zaman revolusi industri di Inggris setelah James Watt menciptakan mesin uap dulu, diciptakan sebuah konsep yang namanya "jam kerja". Untuk yang kerja kantoran ya namanya "jam kantor".
Pun pada tahun 1960-an ketika banyak serikat pekerja bermunculan di seluruh dunia, setau saya diciptakan sebuah mekanisme yang dinamakan "upah lembur".

Itu apa artinya ya?

Tuesday, May 05, 2009

Masuk Tivi?


Pasca Pemilu Legislatif beberapa waktu yang lalu, negara ini tiba-tiba seolah disibukkan dengan berbagai aktivitas elit politik partai yang tengah berusaha menjalin koalisi. Tentu, koalisi yang menguntungkan masing-masing pihak. Yang tadinya kawan jadi lawan, yang tadinya lawan jadi kawan, yang tadinya tidak kenal jadi kenalan, yang tadinya tidak peduli jadi dipaksa peduli karena tidak ada lagi yang tersaji di media massa selain kasak-kusuk kekisruhan koalisi tadi.


Demikian juga di sekitar kantor saya, yang kebetulan letaknya dekat dengan rumah dinas salah seorang ketua partai politik yang di Pemilu legislatif lalu partainya menduduki posisi dua. Kesibukan tiba-tiba melanda di sekitar kantor, yang mendadak dipenuhi wartawan dan juru kamera dari berbagai stasiun televisi maupun media cetak untuk berburu berita. Yang dicari tentu adalah aktivitas koalisi sang petinggi partai tadi. Siapa yang bertamu, ada acara apa di rumahnya, dan pernak-pernik lainnya yang diharapkan bisa dijual sebagai berita.


Maka sampailah juga kesibukan itu pada diri saya yang hina dina dan tidak peduli ini.


Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang menjalani rutinitas dan menunaikan kewajiban untuk mencari makan siang bersama teman-teman, tak disangka tak dinyana, seorang reporter ditemani seorang juru kamera (lengkap dengan kameranya tentunya) mendekati kami. Mungkin karena saya dan teman-teman sudah mulai terbiasa melihat kamera berseliweran, kami tidak terlalu memperhatikan mereka dan tetap berjalan lurus sambil bersenda gurau menuju tempat makan. Maklum... lapar...


Saya sendiri berjalan paling belakang karena sedang berbicara melalui telepon genggam saya. Maklum... banyak penggemar...


Sang reporter tiba-tiba mencegat salah seorang teman saya. Minta ijin untuk mewawancarai nampaknya. Teman saya kaget, tapi tetap berjalan, gelagapan menolak. Sang reporter beralih ke orang lain, tapi reaksi yang sama ditemui.


Sampailah pada saya, yang ketika itu baru saja selesai bertelpon-telpon ria. Mau mewawancarai saya ternyata. Sontak saya juga kaget. Gelagapan menolak. Tapi nampaknya karena tidak ada orang lain di belakang saya, si reporter bersikeras. Mungkin karena wajah saya yang lumayan “camera face” juga (agak-agak bermuka kotak seperti kamera, ditambah badan membulat karena obesitas, jadi mirip lensa).


Yah, singkat kata, berikut dialog singkat yang terjadi waktu itu (seingatnya saja, karena kebetulan ketika kejadian tidak membuat notulensi atau membawa rekaman):

Reporter: “Mas, wawancara sebentar yah. Mau kan?”

Saya: “Eh... apa? Kenapa? Duh... eh... maap mbak, saya mau makan. Tuh sama temen-temen saya di depan”

Reporter: “Aaaah... sebentar aja kok mas...”

Saya: “Lapar mbaaak” (duh, mengenaskan sekali jawaban saya... spontanitas yang menyedihkan)

Juru Kamera: (ikut-ikut merajuk) “iya mas, bentar aja kok. Yah. Yah... Saya nyalain nih kameranya”

Reporter: (sambil menyentuh lengan saya sedikit) “mau yah mas.. hehe...” (nyengir)

Saya: (garuk-garuk kepala. Ketombe berhamburan) “Eh, yaudah deh... tapi cepetan yak. Tentang apa ya mbak?”

Juru Kamera: (mulai menekan beberapa tombol di kameranya lalu mulai bergaya merekam dengan kamera dipanggul di bahu)

Reporter: “Tentang koalisi. Eh, mas karyawan Bappenas kan?”

Saya: “Eh? Saya? Bukan PNS mbak. Mending cari yang PNS aja” (jawaban apaaaaaaaaaa pula? Gak mutu.Gak Bonafid. Gak nyambung. Payah. Culun. Keliatan groginya)

Reporter: “Oh, ya gapapa mas. Yang penting kerja disini juga kan?”

Saya: (Bicara dalam hati: “Sial...”)

Reporter: (Bicara pada juru kamera) “Dah siap belom?”

Juru kamera: (Entah bicara pada siapa) “Eksyeeen...” (Maksudnya: Action!)


Maka dimulailah wawancara singkat itu, dengan dialog sebagai berikut:

Reporter: (Mulai mengajukan pertanyaan wawancara) “Mas, menjelang pemilu presiden nanti kan banyak petinggi partai dan pejabat negara yang sibuk berkoalisi ya. Mas merasa terganggu gak dengan itu?”

Saya: (Pasang tampang jaim, cool, sok keren, padahal muka kuyu karena stress mikirin kerjaan dan sudah beberapa malam begadang menangis karena ditinggal cinta --> lebay...kebanyakan nonton sinetron) “Hmm... maksudnya gimana mbak?” (malah terlihat oon)

Reporter: “Maksud saya, kan banyak pejabat negara yang jadi lebih sibuk mengurus koalisi daripada negara. Mas sebagai rakyat merasa terganggu tidak dengan itu?”

Saya: (Duuh, ini pertanyaan kok tendensius sekali... nampaknya lagi ingin membuat-buat berita berdasarkan opini nih...) “Nggak mbak”

Reporter: (Nampak sedikit terkejut dengan jawaban saya) “Maksudnya gimana tuh mas?”

Saya: “Maksud saya... Saya memang ga terlalu merasa ada bedanya. Toh sebelumnya saya rasa juga saya ga terlalu melihat mereka (orang-orang yang sibuk berkoalisi itu) bekerjanya bagaimana. Ya sekarang yang kerja tetap masuk kerja, yang jualan di pasar tetap jualan, yang bertani tetap bertani. Kehidupan tetap jalan. Ga ada bedanya juga. Maksud saya, kalau memang mau menunjukkan perhatian pada rakyat atau negara, ya tidak perlu tunggu 5 tahun sekali Pemilu kan? Jadi saya rasa saya ga terlalu terganggu, karena toh saya ga melihat beda pengaruhnya juga dengan aktivitas mereka sebelum ini.”

Reporter: “oh... gitu ya...” (Sambil senyum-senyum yang saya tidak tau maknanya apa. Mungkin menurutnya jawaban saya tadi itu jawaban bodoh... atau dia sedang curi-curi pandang dengan saya. Saya rasa yang terjadi adalah kemungkinan yang pertama)

Saya: “Kira-kira begitulah mbak”

Reporter: “Oke deh mas. Makasih ya”

Saya: (Udah nih? Cepet amat?) “Sama-sama”


Saya tidak mau menyebutkan stasiun televisi apa yang mewawancarai saya. Tidak terlalu penting juga sebenarnya.

Yang jelas, setelah wawancara itu, ketika sedang makan, saya baru menyadari sesuatu hal...


Jawaban yang saya berikan tadi cukup spontan. Masalahnya, kalau dipikir-pikir lagi... kok jawaban saya itu skeptik sekali ya? Kalau benar bahwa itu adalah jawaban spontan saya, maka berarti pada dasarnya mungkin saya memang skeptik. Bawaan dari lahir, dan menjadi karakter bawah sadar saya. Sehingga ketika ada yang bertanya, langsung jawaban skeptik semacam itulah yang keluar, walaupun belum tentu itu maksud saya yang sebenarnya.


Well... I guess maybe I am skeptical... but surely, I’m not proud of it.


Tapi mungkin saya tidak se-skeptik itu juga. Kalau saya memang skeptik (dan sarkastik), mungkin saya akan bilang bahwa trotoar di sekitar kantor saya itu kecil. Perkaranya, trotoar yang kecil itu kadang dipakai untuk menaruh kamera (beserta tripodnya), sehingga bisa menyorot langsung ke rumah sang petinggi partai. Sisa tempat di trotoar itu digunakan oleh para reporter dan juru kamera beristirahat atau sekedar mengobrol.


Imbasnya, pejalan kaki terpaksa berjalan dengan menginjak area rumput di pinggir trotoar. Area rumput itu pun bahkan juga penuh tripod dan kamera, sehingga pejalan kaki harus rela turun ke sedikit bagian aspal jalan raya. Bagaimana kalau ada yang tertabrak kendaraan yang lewat? Itu masih ditambah kadang harus menunduk agar tidak menghalangi kamera yang sedang meliput. Kan tidak lucu kalau di tengah-tengah berita tiba-tiba kepala saya melintas misalnya. Ya tentu kalau orangnya cukup percaya diri (atau tidak mau ambil pusing), dia akan lewati saja kamera itu, tak peduli sedang merekam atau tidak. Kalau yang lebih percaya diri lagi tentu akan sekalian saja melambaikan tangan dan tertawa lebar ke arah kamera sambil bilang “Ibuuu!!! Saya masuk tipiiii!!!”. Yah... paling dibilang kampungan...


Intinya, saya rasa ITU lebih mengganggu saya.

Toh lagipula perkara koalisi ini lumayan untuk alternatif dibanding nonton gosip infotainment.

Bagaimana menurut Anda? Anda terganggu?



Catatan tambahan: Sampai beberapa hari setelah insiden wawancara itu, sepertinya wawancara itu tidak pernah disiarkan. Entah karena jawaban saya yang terlalu skeptik dan tidak sesuai dengan harapan atau misi dari si reporter, atau karena rekaman itu sekedar untuk dijadikan koleksi pribadinya saja. Atau bisa juga, kemarin itu hanya gurauan saja dan kameranya sebenarnya tidak merekam. Entahlah.


Keterangan: Gambar diambil (tanpa permisi, maaf, hanya untuk hiasan saja) dari: http://www.mediamensch.com/2008/03/cameraman-in-salisbury-press-conference.html dan http://www.meridianusa.com/film_production.htm. Makasih ya...