Tuesday, October 03, 2006

Degradasi Mimpi ??

Perbincangan dengan Erfan beberapa waktu lalu memunculkan sebuah prasangka baru dalam otak saya.

Ya, saya rasa cukup wajar bagi seorang manusia untuk berprasangka, terlepas dari apakah itu prasangka baik atau buruk. Meski memang, hampir semua kata-kata mutiara dan petuah bijak agama akan lebih menyarankan anda untuk berprasangka baik, dan meninggalkan prasangka buruk. Dan harus saya katakan, petuah-petuah itu lebih banyak benarnya. Ini terkait dengan persepsi. Prasangka baik akan membuat anda memiliki persepsi baik pula terhadap dunia. Sebaliknya, prasangka buruk akan menyiksa batin anda dengan perasaan waswas, dan persepsi buruk akan segala hal di sekeliling anda.

Tapi kalau kali ini yang muncul adalah prasangka buruk…. Mau bagaimana lagi?

Topik obrolan saya dengan Erfan itu sebenarnya tidak terlalu mutakhir. Masih seputar laga-laga popularitas yang saat ini begitu marak di televisi, apakah itu dengan mengambil tema lomba tarik suara, lomba menari, sampai lomba menjadi da’i dan ustadz. Dari beragam jenis acara tersebut, intinya tetap sama, para kontestan unjuk kebolehan, cari penggemar secara instant, lantas menyerahkan nasib eksistensinya di acara tersebut pada sms yang dikirimkan oleh pirsawan televisi (dengan tarif sms diluar kewajaran).

Saya tidak ingin berbicara mengenai objektivitas penilaian dalam lomba-lomba tersebut, karena tentu di dunia maya ini sudah banyak yang menggugat soal itu. Gugatan yang dalam banyak hal juga saya setujui. Toh para alumnus jebolan lomba-lomba nyanyi semacam ini, alih-alih eksis di dunia nyanyi-menyanyi profesional, seringkali malah dijerumuskan kedalam dunia persinetronan. Padahal kontesnya bukan kontes mencari aktor/aktris, tapi, siapa yang peduli?

Saya rasa memang ada sedikit latihan drama teatrikal pada kontes-kontes tadi, yaitu pada saat semua kontestan berlomba-lomba menangis atau minimal menunjukkan mimik sedih ketika ada kontestan yang harus dipulangkan. Masyarakat kita nampaknya memang begitu tertarik pada aksi teatrikal semacam ini.

Yang saya perbincangkan dengan erfan ketika itu lebih pada efek psikologis yang kami curigai mulai menggejala pada generasi muda bangsa ini, terkait dengan acara-acara pempopuleran diri secara instan tadi. WOW !! apakah topik diskusi kami terkesan bombastis? Yah, nggak gitu-gitu amat seeh…

Semua dimulai dari sebuah ucapan berbau tuduhan dari erfan yang kira-kira berbunyi seperti ini :

“Gara-gara acara-acara gitu, bisa-bisa anak-anak jaman sekarang nantinya cita-citanya malah pengen jadi artis semua.”

“Lha, apa masalahnya dengan itu?” (Tanya saya menyelidik)

“Ya gapapa sih… cuma kayaknya, kalo dulu orang punya cita-cita misalnya jadi dokter, ato jadi pilot, ato jadi guru kek, cita-cita yang lebih banyak ngasih atau pengabdian buat orang lain. Kalo sekarang, kayanya orientasi cita-cita jadi lebih ke pemuasan diri sendiri. Pergeseran orientasi dari memberi ke menerima”

Hmmmm…. Yaaaa….

Sebenarnya prasangka semacam ini akan mampu dengan mudah dipatahkan oleh selebritas manapun. Tentu yang akan diangkat adalah “bahwa menjadi artis yang menghibur masyarakat pun adalah sebuah profesi mulia, karena masyarakat butuh hiburan, dan memberi hiburan pada masyarakat pun adalah sebuah pengabdian.” Kemudian akan disambung dengan ungkapan yang PALING SAYA BENCI, yaitu “diserahkan ke masing-masing pribadinya lah, niatnya apa dengan menjadi artis itu.” Kenapa saya benci dengan jawaban penyerahan ke pribadi masing-masing itu (untuk konteks apapun)? Karena jawaban semacam ini menutup pintu diskursus lanjutan, dan terkesan membiarkan terjadinya keburukan apabila diasumsikan bahwa masih ada yang baik. Jawaban semacam ini biasanya final (mau disanggah bagaimana lagi coba?), dan apabila digunakan untuk semua segi kehidupan, maka tidak akan ada bedanya peradaban manusia ini dengan hukum rimba yang tanpa aturan.

Benar bahwa Allah SWT menilai perbuatan seseorang itu berdasarkan niatnya, niat pribadinya. Meski begitu, kita tetap tidak bisa menutup mata bahwa apabila sesuatu itu dirasa lebih banyak mudhorotnya bagi masyarakat, maka sesuatu itu harus kita gugat.

Kembali ke topik, memang agak sulit untuk menganalisis apa motivasi seseorang untuk menjadi populer (dan menjadi artis). Akan tetapi, melihat animo masyarakat yang (nampak) sangat besar untuk mengikuti ajang-ajang cari bintang tersebut (dapat dilihat dari padatnya calon kontestan yang berbondong-bondong ikut audisi), sepertinya sebagian masyarakat kita memang begitu berminat untuk menjadi artis. Untuk menganalisis perilaku massal seperti ini, maka motivasinya juga tentu terkait dengan sesuatu yang bersifat massif pula. Dan jendela utama masyarakat untuk mengintip kehidupan dunia selebritas secara massif itu, tentu adalah televisi.

Televisi memang menyediakan dunia mimpi yang indah. Kecantikan yang tiada habisnya, gemerlap dunia, dan kekayaan duniawi yang seolah begitu mudah diraih, adalah hal-hal yang melenakan dari dunia pertelevisian. Segalanya memang harus terlihat gemerlap di layar kaca. Semuanya harus cantik. Dalam sebuah sinetron, entah seorang artis berperan sebagai pengemis, supir metromini, petani, pengamen, atau direktur perusahaan besar, atau menjadi presiden, menjadi apapun, tetap harus terlihat cantik dan tampan. Sinetron memang keterlaluan. Sangat jarang sebuah sinetron menjelaskan perjuangan seorang karakternya untuk menjadi kaya, atau apa pekerjaannya, tapi selalu digambarkan bahwa uang bukan masalah. Selalu ada uang untuk mentraktir makan di restoran mewah, membeli mobil mahal, atau sekedar berjalan-jalan dan belanja tanpa melihat harga. Paling banter digambarkan kalau kekayaannya itu didapat dari perusahaan, tanpa menjelaskan perusahaannya itu bergerak di bidang apa. Yang penting kerjanya pakai kemeja, jas dan dasi. Ini kalau si karakter digambarkan sudah berusia cukup matang. Kalau sinetronnya tentang dunia remaja atau anak muda lebih parah lagi, lebih tidak jelas darimana seorang anak muda bisa punya mobil atau uang untuk gaya hidup seperti itu, paling banter digambarkan kalau orang tuanya kaya... pokoknya kaya! Titik.

Dunia yang membuat orang-orang bertampang pas-pasan (bahkan cenderung menengah kebawah) seperti saya ini hanya bisa gigit jari dan dianggap iri hati.

Yang lebih parah lagi tentu adalah infotainment. Dalam gosip-gosipan semacam ini, dunia mimpi sinetron seolah direplikasi dalam dunia nyata. Segala permasalahan yang digosipkan dalam infotainment tetap dibungkus dalam gemerlap gaya hidup sinetron. Bila anda jarang menonton infotainment, anda tentu akan tercengang melihat bagaimana perselingkuhan, perceraian, sampai persengketaan antara anak dan orang tua bisa dibungkus sedemikian rupa seolah hal-hal seperti itu memang pantas untuk dipergunjingkan secara nasional. Apalagi, semuanya disajikan seolah tanpa beban moral atau mental dari si pelakunya. Cerai? Ya sudahlah, sudah biasa kok. Selingkuh? Namanya juga dunia modern. Kebahagiaan artifisial tetap ditonjolkan, dan kesalehan virtual yang sifatnya kondisional terkadang mengemuka. Segala pertanyaan biasanya kemudian akan dijawab dengan penyerahan pada Tuhan, dan menonjolkan kepribadian yang seolah bijak. Nampak indah bukan? Apalagi secara tersirat tetap ditonjolkan bahwa, uang bukan masalah.

Dengan mimpi-mimpi massif seperti ini, bisakah kita mencoba memperkirakan motivasi seseorang untuk berjuang menjadi artis?

Dalam teori Maslow mengenai perkembangan kedewasaan seorang manusia, digambarkan bahwa tingkatan terendah dari seorang manusia adalah apabila ia masih berorientasi pada pemenuhan kepuasan perut, sementara tingkatan tertinggi adalah apabila ia sudah mencapai tahap aktualisasi diri. Saya rasa dunia selebritas, dan keinginan untuk menjadi selebritas, secara ekstrim terletak dalam dua tingkatan ini. Jangan menafsirkan kepuasan perut sebagai pemenuhan kebutuhan akan makanan saja. Saya lebih mengartikan pemenuhan kepuasan perut sebagai usaha pemenuhan kepuasan-kepuasan pribadi atau untuk diri sendiri. Maka, itu termasuk kecintaan akan pengumpulan uang, sampai pencarian popularitas untuk kepuasan diri. Sementara aktualisasi diri, saya pahami sebagai peningkatan orientasi dari pemuasan diri sendiri menjadi pengabdian untuk masyarakat. Artinya, diri sendiri diaktualisasikan dalam masyarakat, sehingga pada akhirnya dia menjadi bermanfaat bagi masyarakat itu, dan leburlah ke-aku-annya dalam masyarakat dunia. Sekarang, motivasi mana yang menurut anda tergambar dalam dunia selebritas?

Bagaimanapun, acara-acara pencarian bintang itu saya rasa sudah mencapai batas kemuakan pribadi saya. Kalau soal ajang menyanyi yang para alumnusnya menjadi artis sinetron, tidak terlalu bermasalah sebenarnya, toh saya rasa bagi mereka yang penting adalah menjadi artis. Tapi yang kadang membuat saya risih adalah sentimen-sentimen primordial dalam acara-acara itu. Seberapa sering anda mendengar seorang kontestan yang berasal dari Ambon misalnya, begitu yakin kalau masyarakat Ambon akan mendukungnya? Nampaknya ia begitu yakin sehingga yang diucapkannya adalah : ”orang Ambon, dukung saya ya!!” Demikian juga dengan kontestan dari Papua misalnya, yang berteriak lantang, ”saya yakin orang Papua dukung saya”, dan kontestan dari Medan bilang ”orang Medan, dukung saya ya!!”, lalu orang jawa DALAM BAHASA JAWA, meminta dukungan dari seluruh etnik jawa di tanah air. Hampir semua kontestan dari semua etnik bicara seperti itu. Kok jadi kesukuan begini sih? Apakah pencarian sms dukungan sampai bisa melunturkan semangat berbangsa? Tapi toh sepertinya format acaranya mendukung itu, karena setiap kontestan memang dikesankan ”mewakili” suatu daerah.

Yang kemudian membuat saya hampir muntah darah adalah ketika ada iklan rencana program pencarian ustadz/ustadzah dengan format acara serupa. Ada 5 kontestan yang diiklankan di situ. Yang pertama, setelah mengucap salam kemudian berkata dengan yakin sambil menunjuk kamera ”Pilih saya!”. Yang kedua, setelah mengucap salam kemudian berkata ”pilih saya ya, karena saya ustadz yang ganteng”. Yang ketiga, berdandan dan bergaya bicara dimirip-miripkan dengan seorang ustadz kondang asal bandung yang berinisial AAG, setelah mengucap salam kemudian berkata ”pilihlah saya!”. Yang keempat, seorang wanita memakai jilbab dengan rambut bagian depan masih ditampakkan, setelah mengucap salam kemudian berkata ”pilih saya ya, saya ustadzah yang cantik dan banyak penggemar lho”. Yang kelima setali tiga uang, meminta dukungan atas kegantengannya.

Apa anda pernah melihat iklan itu? Saya hanya sempat melihatnya 3 kali. Tidak saya sebutkan stasiun televisinya disini, karena bisa dianggap pencemaran nama baik. Tapi entah, sekarang-sekarang ini nampaknya iklan (dan mungkin rencana acara itu) sudah ditarik dari peredaran. Yang jelas, iklan itu membuat saya menyesal menonton TV (karena itu tadi, membuat muntah darah). Ternyata jaman sekarang televisi mengakomodir orang-orang yang ingin menjadi ustadz kondang bukan dengan nilai-nilai spiritualitas, tetapi dengan dukungan sms atas kegantengan/kecantikan mereka. Erfan tentu akan menggolongkan ini kedalam ”Islam sebagai komoditi”.

Terhadap acara pemilihan da’i kecil yang melibatkan banyak sekali anak-anak, saya hanya bisa berdoa... ”Ya Rabb, luruskanlah niat mereka...”

Topik ini sebenarnya sudah lama ingin saya tulis, tapi selalu tertunda. Ada satu kejadian yang akhirnya mendorong saya menuliskan ini.

Ketika pada suatu hari saya berkunjung ke rumah nenek saya, seperti biasa kami sekeluarga besar berkumpul. Iseng-iseng saya bertanya pada sepupu saya yang baru berumur 6 tahun. Nama panggilannya Ipang. Saya tanyakan sambil bercanda ”Nanti Ipang kalau sudah besar mau jadi apa?”. Dia jawab ”Mau jadi artis aja ah. Enak, kaya terus banyak fansnya!”. Kontan semua tertawa.... sementara saya tersenyum kecil sambil miris dalam hati. Menyesal sudah bertanya.

Apakah memang telah terjadi pergeseran mimpi pada manusia? Mimpi untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang perlahan bergeser menjadi mimpi untuk pemuasan diri dan penumpukan kekayaan? Padahal sabda Rasulullah SAW masih terngiang, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Apakah memang telah terjadi degradasi mimpi? (Dikasih akhiran begini, supaya terkesan nyambung sama judulnya)

No comments: