Thursday, October 19, 2006

Surabaya, Kupu-kupu, dan Rawon Setan

Surabaya...
Saya tidak pernah menyukai kota ini.

Oke, pernyataan di atas, saya sadari sepenuhnya, adalah permulaan yang sangat buruk untuk sebuah tulisan.

Akan tetapi, memang pada dasarnya pada setiap kunjungan saya ke kota terbesar kedua di Indonesia ini, perasaan itu belum pernah berubah.

Setelah dari Makassar, perjalanan saya lanjutkan ke kota ini. Akan tetapi, berbeda dengan Makassar dan Samarinda, ini bukan pertama kalinya saya mengunjungi Surabaya. Pada masa-masa awal kehidupan saya, yaitu pada usia 2 sampai 3 tahun, saya bahkan pernah tinggal di kota ini, meskipun akhirnya harus mengungsi ke Bogor karena saya dan kakak saya ternyata tidak tahan dengan perubahan cuaca dari dinginnya pegunungan di Gadog (Ciawi, Bogor) ke panas dan berdebunya kota pantai semacam ini.

Setelah itu, biasanya memang secara rutin saya sekeluarga selalu mengunjungi kota ini setiap akhir tahun, yaitu pada masa liburan natal dan tahun baru, untuk mengunjungi sanak saudara. Rutinitas itu mendadak terhenti sejak tahun 2001.

Kembali ke Surabaya, kota ini ternyata sudah banyak berubah sejak 5 tahun terakhir. Cukup banyak ruas-ruas jalan yang diperbesar karena maraknya kemacetan lalu lintas. Pelebaran jalan-jalan itu, terutama di kawasan Rungkut dan sekitarnya, membuat saya hampir tidak lagi mengenali kawasan tadi. Semenjak mengikat kerjasama ”sister cities” dengan Seattle di Amerika Serikat, kota ini memang banyak berkembang. Meski begitu, ciri khas kota ini tetap sama. Panas, berdebu, ramai, dan nuansa ”jawa” yang kental.

Kunjungan dalam rangka perjalanan dinas kali ini, pada awalnya saya harapkan dapat merubah persepsi saya mengenai Surabaya. Tetapi, alih-alih mendapat kesan baik, saya justru menambah list pengalaman buruk.

Ketika masih menunggu pesawat di Bandara Soekarno-Hatta yang akan berangkat ke Surabaya, seorang kolega mengirim pesan singkat bahwa ia sudah membukakan kamar untuk saya di sebuah hotel yang sangat dekat dengan kompleks perkantoran Provinsi Jawa Timur. Buyarlah rencana saya untuk berkelana mencari hotel. Tapi tidak masalah, mengingat sasaran kunjungan saya memang banyak berkutat di kompleks perkantoran tersebut. Terlebih lagi, harga kamarnya konon cukup terjangkau. 125 ribu semalam. Maka, saya terima tawarannya.

Setibanya di Surabaya, tawar menawar tarif taksi (dan saya sampai sekarang masih tidak tahu, dalam tawar menawar itu saya menang atau kalah), saya langsung meluncur ke hotel yang dimaksud. Mesjid besar Surabaya yang beratap biru itu menyapa setiap yang datang di Kota Pahlawan ini.

Tiba di hotel yang dituju. Penampilan luarnya, tidak terlalu meyakinkan.Tapi memang sesuai janji, sangat dekat dengan perkantoran Provinsi. Lalu saya langsung meminta kunci kamar yang sudah dipesankan untuk saya itu di lobi hotel.

Ketika di lobi itu, ada sesuatu yang cukup mengejutkan. Pada daftar tarif sewa kamar per malam yang terpampang di lobi, tertera bahwa kamar dengan tarif 125 ribu per malam itu ternyata adalah kelas kamar yang tertinggi. Maksud saya, benar-benar paling tinggi. Yang terendahnya, 35 ribu per malam. Menarik... sekaligus mengkhawatirkan.

Masuk ke kamar yang dituju, saya rasa semua orang yang pernah melakukan kegiatan menyapu atau mengepel akan menyadari kalau lantai kamar ini sudah lama tidak disapu, apalagi dipel. Tapi tak apa, adanya fasilitas AC dan televisi saya rasa sudah cukup untuk membuat saya betah, walaupun handuk yang disediakan di kamar mandi saya rasa tidak sepenuhnya dicuci bersih. Terlihat dari bercak-bercak biru (entah apa) di handuk putih itu.

Sore harinya, saya ketahui bahwa kawasan ini tidak terlalu jauh dengan Doli (sampai sekarang, saya tidak tahu bagaimana ejaan yang benar dari nama ini, apakah Doli, Doly, Dolly, Dolli, atau bagaimana). Konon, Doli ini pada masa jayanya merupakan salah satu kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Sekarang? Saya kurang tahu. Apa yang dilokalisasikan? Saya rasa akan kurang pantas kalau saya sebutkan di sini (meskipun dari kalimat ini, tentu Anda bisa menerka apa yang saya maksud). Saya dan rekan-rekan saya kemudian memutuskan untuk makan malam di luar hotel, sembari berkeliling mengenali kota yang sedang tumbuh pesat ini.

Pulang berkeliling, malam memang belum terlalu larut, tapi tak bisa dibilang muda lagi. Pukul 11 malam, dan udara masih terasa panas. Sesampainya di hotel, saya kemudian bergegas ke arah tangga menuju kamar saya. Dua orang wanita saya lihat sekilas tersenyum ke arah saya, dan saya membalas sekenanya.

”Malam mas”, kata seorang diantaranya.

”Malam bu...”, saya balas sambil tersenyum sedikit.

Yang menyapa saya itu nampaknya sudah berumur 40-an, berbaju hitam, dengan rias wajah yang menurut saya agak berlebihan. Dibelakangnya, seorang wanita yang jauh lebih muda, mungkin umurnya baru 20an, berkulit putih dengan paras cantik. Sama-sama berbaju hitam, tapi wanita muda ini berpakaian lebih... mmm... terbuka, seolah ingin menunjukkan bahwa kulit putih itu tak cuma dimiliki oleh wajahnya, tapi juga tersebar di seluruh tubuhnya.

Ketika saya hendak menaiki tangga, si wanita yang pertama menyapa lagi sambil tersenyum, ”Ikut ke atas ya mas...”

Saya pikir, dua orang wanita ini juga tentu tamu hotel, dan mungkin kamarnya juga di atas, sehingga tanpa pikir panjang saya jawab, ”oo, iya, silakan bu....”

Akan tetapi, kemudia ia berkata lagi, sambil tersenyum aneh, ”iya, ikut ke kamarnya mas yaaaa....” Dan dibelakangnya, si wanita yang lebih muda tadi melontarkan senyuman ke arah saya, dengan gaya senyuman menggoda yang bisa membuat jantung pria berdegup lebih cepat, lalu mengerdipkan sebelah matanya sambil menggerakkan tangan kanannya mengelus lengan kirinya yang memang dibiarkan terbuka.....

”Celaka!” Pikir saya dalam hati... ”Sejak kapan Doli pindah ke sini??!??!”

”ooo, nggak bu, makasih”, jawab saya, masih sambil tersenyum...

”bener nih mas?” tanya si wanita pertama sambil melirik ke rekannya yang lebih muda itu.

”nggak bu, makasih”, jawab saya, sambil bergaya sewajarnya, lalu langsung naik tangga tanpa menoleh ke belakang lagi...

Saya segera melupakan kejadian itu dengan membaca dan menonton televisi di kamar hotel. Udara dingin dari AC membuat saya melirik selimut yang teronggok di tempat tidur. Setelah dibuka, ternyata... bolong! Yap, selimut ini cukup banyak bolongnya, entah bekas rokok, pisau, gergaji atau apa. Yang jelas, bolong-bolong tak karuan. Hampir sia-sia dalam melindungi tubuh dari serangan dingin.

Belum habis kekecewaan saya terhadap selimut kamar ini, tiba-tiba ada ketukan di pintu kamar saya. ”Siapa pula malam-malam begini?” pikir saya. Dan saya bergerak menuju pintu kamar ketika sambil berujar ”sebentaaaar..... siapa ya??”

Dan suara dari balik pintu menghentikan langkah saya. Suara wanita, renyah dan menggemaskan, bernada merayu, ”Malam maas... mau ditemani??”

”Hotel celaka!!” umpat saya dalam hati

dan segera saya jawab sekenanya... ”nggak mbak... terimakasih...”

Bah, untuk apa pula saya bilang terima kasih?

Segera saya kembali ke tempat tidur, meneruskan membaca, ketika kemudian saya mendengar ketukan di pintu kamar sebelah saya... dan tak lama kemudian suara pintu yang dibuka.

”Malam oom....” (suara wanita yang tadi)

”eeeh, malam dik, mari masuk...” (suara pria)

Menyadari apa yang terjadi di kamar sebelah, saya segera ambil keputusan, menyalakan televisi dengan agak keras (supaya suara apapun dari kamar sebelah tidak terdengar), membuka selimut dan menutupi kepala saya. Sambil mengucap sumpah serapah dalam 7 bahasa, saya berusaha memejamkan mata.

Keesokan harinya, setelah menyelesaikan urusan-urusan pekerjaan, saya bersama rekan-rekan memutuskan untuk kembali berkeliling Surabaya. Surabaya memang benar-benar hidup di malam hari. Cukup banyak tempat-tempat yang menjadi pusat keramaian. Akan tetapi, meskipun cukup banyak mall dan pusat perbelanjaan di kota ini, cukup banyak juga pusat-pusat keramaian di pinggir jalan (yang tercermin dari banyaknya mobil dan motor yang diparkir), meskipun sebagian diantaranya (entah kenapa) cukup remang-remang atau gelap dan hanya diterangi lilin-lilin yang jauh dari kesan ingin menciptakan suasana romantis.

Sebagaimana layaknya kota-kota besar lain di Indonesia, kesenjangan ekonomi masyarakatnya juga terlihat jelas disini. Kutukan kota-kota besar di Indonesia juga menyelimuti Surabaya. Kemiskinan kota jelas terlihat disini. Dan dengan demikian, kerasnya perjuangan hidup juga menjadi warna sehari-hari. Di kota inilah tempat dimana becak-becak begitu banyak berkeliaran, dikayuh oleh wajah-wajah yang lelah sekaligus keras. Saran saya, janganlah menawar tarif becak terlalu rendah disini. Salah-salah, anda tidak akan diangkut. Kalaupun diangkut, becak akan melaju demikian cepatnya sehingga anda akan meminta berhenti, dan kemudian sang tukang becak akan menjawab ringan ”bayar murah kok ya mau enak mas ??? selamat aja sudah syukur!” Demikian pula, kemiskinan inilah yang bisa menyebabkan fenomena seperti Doli sempat bersemayam disini. Orang-orang jawa memang terkenal ulet dan pantang menyerah. Jiwa kompetitif yang tinggi menyebabkan persaingan hidup (dan gengsi) disini sangat kentara.

Dengan hasrat mencari hiburan, ditambah salah seorang rekan yang tidak henti-hentinya memperdengarkan keahliannya menyanyi di dalam mobil, maka kami kemudian memutuskan untuk berkaraoke di.... saya lupa namanya, maaf.... selama 2 jam. Karena kami hanya berempat, maka waktu 2 jam yang dihabiskan dengan menyanyi itu cukup menguras suara. Sesuai hipotesis awal, ternyata kolega saya itu memang jagoan dalam tarik suara, dan secara otomatis kami kemudian mengkui bahwa gelar juara karaoke selingkungan kantor kami selama beberapa tahun itu adalah objektif (hingga akhirnya dia tidak lagi diizinkan menjadi peserta, dan diangkat menjadi ketua panitia lomba pada tahun ini).

Seorang rekan saya yang memang orang Surabaya menceritakan mengenai ”Rawon Setan”, yaitu kios yang menyajikan rawon sebagai hidangan utamanya akan tetapi hanya buka malam hari sampai subuh. Meskipun biasanya saya kurang menyukai rawon, tapi saya tertarik juga akan kekhasan cirinya. Maka, kami pun memutuskan untuk makan malam di Rawon Setan itu.

Awalnya, saya kira ”Rawon Setan” adalah julukan yang diberikan oleh masyarakat Surabaya karena kios tersebut hanya buka pada malam hari (sehingga otomatis, yang tahu mengenai kios ini hanya mereka yang memang gemar keluyuran malam). Ternyata, nama kiosnya memang benar-benar ”Rawon Setan”, dan terpampang jelas di spanduknya. Dan diluar dugaan, ternyata rawon yang satu ini memang benar-benar lezat. Dagingnya cukup banyak, dan saking banyaknya, nasi putih yang disajikan sebagai pelengkap sudah habis terlebih dahulu sebelum saya menghabiskan dagingnya (dan ini bukan karena nasinya sedikit!). Satu kondisi yang jarang saya temui. Kuah rawonnya gurih dan dagingnya benar-benar empuk. Tidak seperti masakan jawa lain yang menggunakan daging, bau amis pada rawon setan ini bisa dibilang hampir tidak ada. Dengan sambal yang menggoyang lidah, dilengkapi sebutir telur asin, saya merasa terpuaskan.

Ketika keesokan harinya saya pulang, saya rasa saya telah bisa menambah daftar kenangan buruk sekaligus kenangan manis saya di Surabaya. Yang buruk, tentu kejadian hampir dihinggapi kupu-kupu di hotel celaka yang saya tempati itu, dan yang manis, tentu, rawon setan.

Surabaya, walau bagaimanapun telah mengalirkan darahnya di setengah tubuh saya, karena ayah saya memang berasal dari kota ini. Dan sepertinya, di masa-masa mendatang, kunjungan saya ke kota yang satu ini masih akan berulang....

Keterangan, Sumber gambar :

- http://dementad.com/Reception/images/surabaya.jpg

- http://www.aseannewsnetwork.com/surabaya.jpg

No comments: