Awal minggu ini, saya disodori sebuah berita yang sungguh menyedihkan dan mengecewakan mengenai keberlangsungan blog ini. Ini terkait dengan fasilitas pemberian komentar untuk postingan, yang mana selama ini saya menggunakan jasa haloscan. Kalau anda pernah memberi atau membaca komentar di blog ini, tentu anda tau bahwa akan muncul sebuah kotak tayang (secara pop-up) kalau anda mengklik link komentar di bagian bawah setiap postingan. Nah, itu dari haloscan. Dulu (tahun 2005 dan 2006), fasilitas komentar dari blogger tidak bisa begitu, sehingga saya memakai jasa haloscan untuk memudahkan pembaca dalam membaca dan mengirim komentar ini.
Sy mendapat kabar via e-mail bahwa fasilitas haloscan gratis yang saya nikmati selama ini akan tidak dapat dipergunakan lagi terhitung bulan Januari 2010 karena haloscan telah bekerja sama dengan JS-Kit dalam pengembangan ECHO, sebuah fasilitas untuk menampung komentar dalam blog juga. Pilihan bagi pengguna hanya dua. Pertama, migrasi ke ECHO dan semua komentar yang masuk ke blog saya sejak dulu sampai sekarang yang disimpan di haloscan itu akan secara otomatis dimigrasikan juga ke ECHO, dengan biaya sekitar $9.75 per tahun. Kedua, tidak meneruskan haloscan, dan komentar-komentar untuk blog saya yanga selama ini ditampung di haloscan bisa diexport manual supaya tidak hilang.
Yah, saya tidak bisa protes juga. Selama ini haloscan memang gratis, sehingga kalau suatu saat ditutup karena bangkrut seperti ini ya tentu kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Apalagi saya memang tidak pernah juga memberi donasi ke haloscan =p
Migrasi ke ECHO nampaknya menarik, karena ECHO menawarkan fitur-fitur baru yang lebih hebat dibanding haloscan maupun fasilitas komentar dari blogger sendiri. Akan tetapi, saya kesulitan dalam membayar $9.75-nya itu. Bukan karena tidak ada uangnya (weis!!! gaya kan sayah??!?), melainkan karena saya tidak punya fasilitas untuk melakukan pembayaran itu. Saya tidak punya visa, mastercard, maupun rekening di Paypal. Plus, agak malas juga untuk mengusahakannya sebelum bulan Januari (dan rasa malas inilah yang kemudian ternyata menjadi alasan dominan).
Maka, dengan berat hati saya pun mengambil pilihan kedua. Meng-export komentar-komentar saya dari haloscan, lalu menonaktifkan account haloscan saya, dan mulai menggunakan fitur komentar dari blogger. Tapi ternyata... yang dimaksud dengan "export" oleh haloscan adalah sederhananya mengkompilasi semua komentar yang pernah masuk ke blog saya, lalu menuliskan semuanya dalam 1 file dengan format CAIF. Sialnya... saya tidak tahu bagaimana melakukan "import' file CAIF itu ke blogger. Artinya... komentar-komentar itu tidak bisa saya publish lagi melalui fitur komentar blogger, dan cuma bisa saya baca sendiri melalui file itu...
Yah... sungguh menyedihkan...
Bukan karena fitur komentar dari blogger kurang bagus. Bukan karena itu. Sejak tahun 2006 sebenarnya fitur komentar dari blogger sudah mengalami banyak peningkatan. Dari segi fasilitas dan kemudahan sudah sama dengan haloscan. Dari segi tampilan bahkan saya nilai lebih elegan. Jadi, beralih menggunakan fitur komentar blogger sama sekali tidak menjadi masalah.
Yang jadi masalah adalah hilangnya komentar-komentar yang lama tadi...
Ya tidak hilang sih, cuma tidak bisa ditampilkan saja. Kecuali kalau saya cukup rajin untuk menulis ulang (atau copy-paste) satu-persatu komentar-komentar itu dari file CAIF ke kolom komentar tiap postingan sejak tahun 2006 sampai sekarang. Dan ini nampaknya sangat... sangat sangat... melelahkan.
Maka nampaknya memang komentar-komentar lawas itu harus saya ikhlaskan...
Walau bagaimanapun, komentar-komentar itu adalah bagian dari perjalanan blog ini. Banyak jejak dari orang-orang yang pernah berkunjung, pernah (atau masih) menjadi teman blog ini, dan menaruh perhatian terhadap isinya. Interaksi yang terjalin, dinamikanya, dan sebagainya. Konsepnya sejak dulu adalah berbagi, bertukar pikiran, dan komentar-komentar dari teman-teman di blog itu telah memberi masukan sedikit banyak untuk hidup saya pribadi. Inilah yang untuk saya begitu berharga.
Well... setidaknya saya masih bisa baca-baca ulang komentar-komentar itu melalui file CAIF-nya kalau saya mau. Cuma sayang karena tidak lagi bisa dibagi untuk orang lain baca.
Yah, semoga saja, akan banyak bermunculan komentar-komentar baru (sebagai perwujudan bahwa masih ada yg membaca blog ini selain saya sendiri =p ), dan dinamika baru.
Lalu saya pikir, karena saya akan mengutak-atik template blog ini untuk menghilangkan haloscan, sekalian saja saya tambahkan fitur-fitur baru disini. Salah satunya adalah pada penambahan widget "follower" dan menghilangkan widget "recent comments".
Akan tetapi penambahan paling signifikan tentunya adalah penggunaan fasilitas "Google AdSense". Tentu semua sudah familiar dengan fasilitas ini kan? Yap! Benar! Fasilitas ini adalah fasilitas yang menampilkan iklan di blog kita, dan kita sebagai pemilik blog bisa mendapat uang setiap ada pengunjung yang mengklik atau membaca iklan yang ditampilkan itu.
Sejak dulu saya tertarik untuk menggunakan fasilitas ini, tapi selalu tidak yakin apakah memang saya rela blog saya ini dibumbui hal komersial atau tidak. Setelah saya pikirkan, saya pikir tidak ada salahnya juga. Toh saya hanya memasang iklan itu. Semoga tidak mengganggu pembaca. Saya juga tidak mempromosikan atau memaksa-maksa orang supaya mengklik iklan-iklan itu. Sepenuhnya semua bebas-bebas saja. Toh saya jg cuma iseng-iseng. Tapi kalau ada yang mau mengklik iklan-iklan itu, ya tentunya sy akan sangat berterima kasih sekali =D
Kalau kata Terms and Conditionsnya sih, Saya juga tidak boleh menggunakan blog ini untuk menampilkan hal-hal berbau pornografi, atau menyebarluaskan barang-barang yang punya hak cipta (nyebarin mp3 lagu misalnya). Sepertinya ini cukup mudah. Saya juga tidak boleh mendorong secara langsung (meminta) pengunjung untuk mengklik iklan itu melalui tulisan-tulisan di blog saya. Hmm.... Oke. Dia melarang saya untuk mendorong orang supaya baca iklan... tapi dia ga bilang apa-apa soal "mengancam" kan? =p
Saya terpikir untuk merombak tampilannya juga sebenarnya. Supaya agak lebih sederhana.
Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat, soalnya saya masih belum ada bayangan sama sekali mau diapakan...
Yah, semoga sedikit pembaruan ini bisa berjalan dengan baik..
UPDATE (22 Desember 2009, pukul 09.30 WIB):
Sebuah keanehan dari Google AdSense telah menimpa saya. Ketika saya mendaftar untuk aplikasi ini (21 Desember 2009 sekitar pukul 15.00 WIB), saya diminta untuk menunggu 48 jam sebelum account saya diaktifkan. Akan tetapi ketika saya periksa lagi tadi malam (22 Desember 2009 pukul 00.30 WIB), ada berita bahwa account Google AdSense saya itu telah dinonaktifkan karena "klik tidak sah". Lucu juga, mengingat accountnya bahkan belum aktif, tapi tiba-tiba saya dituduh sudah melakukan klik tidak sah... Apa yang diklik?
Saya curiga penonaktifan itu terjadi karena postingan ini. Di bagian dimana saya menjelaskan tentang Google AdSense itu. Sepertinya beberapa kalimat disana dianggap sebagai "ajakan untuk meng-klik". Dan itu memang dilarang dalam Terms and Condition-nya.
Yah... saya tidak tau kalau postingan ini bisa menjadi penyebab ditolaknya aplikasi saya di Google AdSense. Dan sekali dinonaktifkan sepihak seperti ini, saya sudah masuk black-list, tidak bisa lagi mengajukan aplikasi Google AdSense, kecuali tentu dengan account dan blog baru.
Yasudahlah.... Ga jadi =))
Monday, December 21, 2009
Monday, December 07, 2009
Singkat Padat
Beberapa ini adalah beberapa obrolan singkat saya dengan beberapa orang, tentang beberapa hal...
Sengaja dituliskan singkat dan padat saja, karena entah kenapa, sedang malas sok mencari "hikmah" dari omongan orang (maupun omongan diri sendiri). Singkat dan Padat. "Sintal" kalau dulu seorang teman saya yang jadi ketua OS pernah bilang.
Jadi, selamat menikmati saja.
Kami ini Benda Mati!
Sebuah obrolan antara saya dengan seorang rekan kerja, yang kebetulan PNS
Saya: "Pak, yang rapat di Bogor nanti, Bapak ikut gak?"
Pak X: "Inginnya sih ikut. Pak Y ikut tidak?"
Saya: "Sepertinya tidak Pak. Gimana?"
Pak X: "Lho? Jadi, ga ada yang organik dong?"
Saya: "Gak ada Pak. Benda mati (anorganik) semua."
Kami ini Hanya Setengah Manusia.
Sebuah obrolan di taxi dengan seorang rekan kerja, sesama non-PNS. Kebetulan sehabis rapat kami mendapatkan honorarium rapat yang tertutup rapat dalam amplop.
Saya: "Alhamdulillah..."
T: "Alhamdulillah... walaupun yang didapat ternyata beda dengan kuitansi yang ditandatangan' (sambil buka amplopnya)
Saya: "He? Emang berapa di kuitansi? Di amplop berapa?"
T: "Di kuitansi Rp xxxxxx (jumlah disensor). Di amplop Rp xxxxxxx (jumlah disensor, tapi setengah dari jumlah yang di kuitansi itu)"
Saya: "ooooo... kacrut juga"
T: "Tapi gw dah nanya mas P sih. Katanya memang kita setengah aja. Kalo yang PNS dapat full"
S: "Ooooo... jadi kita memang hanya setengah manusia. Kalau mau jadi manusia seutuhnya... jadilah PNS"
Over-Under.
Alkisah, saya bermaksud untuk mengambil sebuah pekerjaan secara part-time, yang kebetulan juga dibawah kendali project yang saat ini sedang saya tangani. Berikut perbincangan saya via YM dengan si Pimpro proyek, yang kebetulan orang Spanyol.
Saya: "So, what do you think, Bu? Do you think I can take the task? Or is there any objection from you, Bu?"
Bu Z: "Personally I have no objection..."
Saya: "But....?"
Bu Z: "I'm just worried that you'll be overworked. You have more than enough work even now."
Saya: "Don't worry, Bu. I don't think I'm overworked.
Bu Z: "But....?"
Saya: "I'm underpaid."
Teman Sejati
Seorang teman bercerita pada saya tentang seorang temannya yang lain. Alkisah, dia sedang perlu pertolongan, dan temannya itu membantunya.
A: "Eh, wan, kemaren tu gw kan lagi kesusahan banget ya (sambil kemudian menceritakan masalahnya). Untung banget deh, ga gw sangka-sangka, si B... yang udah lama ga kontak-kontakan sama gw... ternyata mau bantuin gw. Gak nyangka gw..."
Saya: "Oooo... B memang orang baik..."
A: "Sekarang gw paham, peribahasanya orang bule itu..."
Saya: "Yang mana?"
A: "A friend in need... is a friend indeed"
Saya: "Ooo... Apa emang artinya?"
A: "Ya jelas dong, teman sejati itu adalah yang bantuin kita pas lagi susah. Emang ada pengertian apa lagi?"
Saya: "Gw kira artinya kayak elu..."
A: "Ha? Kenapa emang?"
Saya: "Giliran lu lagi butuh aja (dan setelah B mau bantu)... baru deh si B lu anggep temen..."
Nanti diupdate lagi deh. Sementara segini dulu. Mendadak ada tugas.
Sengaja dituliskan singkat dan padat saja, karena entah kenapa, sedang malas sok mencari "hikmah" dari omongan orang (maupun omongan diri sendiri). Singkat dan Padat. "Sintal" kalau dulu seorang teman saya yang jadi ketua OS pernah bilang.
Jadi, selamat menikmati saja.
Kami ini Benda Mati!
Sebuah obrolan antara saya dengan seorang rekan kerja, yang kebetulan PNS
Saya: "Pak, yang rapat di Bogor nanti, Bapak ikut gak?"
Pak X: "Inginnya sih ikut. Pak Y ikut tidak?"
Saya: "Sepertinya tidak Pak. Gimana?"
Pak X: "Lho? Jadi, ga ada yang organik dong?"
Saya: "Gak ada Pak. Benda mati (anorganik) semua."
Kami ini Hanya Setengah Manusia.
Sebuah obrolan di taxi dengan seorang rekan kerja, sesama non-PNS. Kebetulan sehabis rapat kami mendapatkan honorarium rapat yang tertutup rapat dalam amplop.
Saya: "Alhamdulillah..."
T: "Alhamdulillah... walaupun yang didapat ternyata beda dengan kuitansi yang ditandatangan' (sambil buka amplopnya)
Saya: "He? Emang berapa di kuitansi? Di amplop berapa?"
T: "Di kuitansi Rp xxxxxx (jumlah disensor). Di amplop Rp xxxxxxx (jumlah disensor, tapi setengah dari jumlah yang di kuitansi itu)"
Saya: "ooooo... kacrut juga"
T: "Tapi gw dah nanya mas P sih. Katanya memang kita setengah aja. Kalo yang PNS dapat full"
S: "Ooooo... jadi kita memang hanya setengah manusia. Kalau mau jadi manusia seutuhnya... jadilah PNS"
Over-Under.
Alkisah, saya bermaksud untuk mengambil sebuah pekerjaan secara part-time, yang kebetulan juga dibawah kendali project yang saat ini sedang saya tangani. Berikut perbincangan saya via YM dengan si Pimpro proyek, yang kebetulan orang Spanyol.
Saya: "So, what do you think, Bu? Do you think I can take the task? Or is there any objection from you, Bu?"
Bu Z: "Personally I have no objection..."
Saya: "But....?"
Bu Z: "I'm just worried that you'll be overworked. You have more than enough work even now."
Saya: "Don't worry, Bu. I don't think I'm overworked.
Bu Z: "But....?"
Saya: "I'm underpaid."
Teman Sejati
Seorang teman bercerita pada saya tentang seorang temannya yang lain. Alkisah, dia sedang perlu pertolongan, dan temannya itu membantunya.
A: "Eh, wan, kemaren tu gw kan lagi kesusahan banget ya (sambil kemudian menceritakan masalahnya). Untung banget deh, ga gw sangka-sangka, si B... yang udah lama ga kontak-kontakan sama gw... ternyata mau bantuin gw. Gak nyangka gw..."
Saya: "Oooo... B memang orang baik..."
A: "Sekarang gw paham, peribahasanya orang bule itu..."
Saya: "Yang mana?"
A: "A friend in need... is a friend indeed"
Saya: "Ooo... Apa emang artinya?"
A: "Ya jelas dong, teman sejati itu adalah yang bantuin kita pas lagi susah. Emang ada pengertian apa lagi?"
Saya: "Gw kira artinya kayak elu..."
A: "Ha? Kenapa emang?"
Saya: "Giliran lu lagi butuh aja (dan setelah B mau bantu)... baru deh si B lu anggep temen..."
Nanti diupdate lagi deh. Sementara segini dulu. Mendadak ada tugas.
Kategori :
Penting ya?
Friday, November 20, 2009
Manusia itu Kontekstual, Gender itu Berpengaruh, Tampang Bagus itu Sebuah Keuntungan
Teringat waktu Agus Ringgo dulu pernah diwawancara di salah satu acara gosip.... (bukan berarti saya suka nonton acara gosip. Sebutlah waktu itu cuma saluran itu yang bisa ditangkap dengan baik. Saluran lain banyak semutnya)
Waktu itu dia ditanya soal Christian Sugiono yang merupakan teman baiknya. Kata Agus Ringgo kira-kira seperti ini:
"Susah tau jadi orang jelek yang temenan sama orang ganteng. Gua kan pernah tuh, pengen jatohin namanya si Ian (C. Sugiono). Gw bilang aja ke cewek-cewek kalo si Ian tu takut kecoak. Eeeeh, kata mereka malah "ooooo, co cweeeet (so sweeet), lucu yah, ternyata takut kecoak. Hihi. Nanti gw lindungin deh", sambil pada senyum-senyum. Nah, tau gitu, gw bilang aja, gw jg takut kecoak loh. Eeeh.. kata mereka malah "ih, pengecut! cowok apaan luh? udah jelek, sama kecoak aja takut! dasar cowok lemah!". Nah, itulah bedanya orang ganteng sama orang jelek sama gw."
Kalau dipikir-pikir... memang benar juga ya.
Kita ini manusia kontekstual. Kita menilai berdasarkan konteksnya. Apakah itu konteksnya kondisi kita, kondisi yang dibicarakan, atau apapun. Yang jelas, tanpa sadar, kadang kita memang selalu punya standar ganda atas segala sesuatu.
Mari kita lihat contohnya:
1. Tentang mata keranjang:
- Seorang pria yang sudah punya pasangan melihat seorang wanita lewat, lalu dia berkata ke seorang teman wanitanya: "wanita itu... cantik juga ya...". Si temannya itu akan bilang "dasar lu mata keranjang... inget udah punya pasangan!"
- Seorang wanita yang sudah punya pasangan melihat seorang pria lewat, lalu dia berkata ke seorang teman wanitanya: "Cowok itu... lucu yah... hihihi". Si temannya itu akan bilang "Iya yah... keren abish", lalu berjalan lagi sambil sekali-sekali membicarakan apa saja yang bisa dilihat dari si pria ganteng itu.
2. Tentang obsesi cinta:
- Seorang pria bertampang "biasa" punya obsesi dan perasaan yang begitu besar pada seorang wanita, meskipun keadaannya tidak memungkinkan untuk dia bisa bersama si wanita itu (cinta ga kesampaian ceritanya). Teman-temannya akan bilang: "Posesif, obsesif, psycho... ati-ati luh, ntar malah jadi orang stress. Ntar malah bikin macem-macem lagi luh. Udalaaah..."
- Film Twilight, Shakespeare in Love, Titanic, Romeo and Juliet, City of Angels, Butterfly Effect: "Ooo.... co cweeeet.... meskipun berat tapi mereka tetap pertahankan cinta mereka... cinta itu memang harus begitu... oh... seandainya...". Mungkin karena kalau di film tampang para pemeran prianya ganteng-ganteng ya? Orang ganteng kan ga mungkin psycho...
3. Tentang rahasia:
- Seorang pria memendam sebuah rahasia yang fatal, sepanjang hidupnya. Komentar: "Gila ya tu orang... Bisa-bisanya ga bilang soal itu. Padahal fatal banget. Tega banget dia."
- Seorang wanita memendam sebuah rahasia yang fatal, sepanjang hidupnya. Komentar: "Wanita itu memang berjiwa besar. Hatinya mampu memendam rahasia itu meskipun sudah sekian lama...", "A woman's heart is a deep ocean of secrets..." (Rose, dalam Titanic)
4. Tentang kekaguman terhadap fisik:
- Seorang pria mengatakan penilaiannya mengenai seorang wanita, kepada teman wanitanya. Dia bilang: "Eh, si X... badannya bagus yah. Cantik bgt pula mukanya. Rambutnya... pff... suka deh gw". Si teman wanita akan bilang: "Ih, fisik banget sih lu? Dasar dangkal!"
- Seorang wanita mengatakan penilaiannya mengenai seorang pria, kepada teman wanitanya. Dia bilang: "Wow, si Y.... keren bgt. bodinya bagus, bajunya modis. cool bgt penampilannya." Si teman wanita bilang: "Iya ya... hihihi... keren banget. Gw jg suka ngeliatnya. Yaaah, walau bagaimanapun kan yang pertama keliatan tu kan tampang fisik. hehe."
5. Tentang merokok:
- Seorang wanita merokok. Pria yang melihat akan bilang ke temannya: "Ga suka gw ngeliat cewek ngerokok. Kaya bukan wanita baik-baik..."
- Seorang pria merokok. Pria yang melihat akan bilang: "Bagi dong jek!"
6. Tentang cowok pendiam:
- Seorang pria bertampang biasa, bersifat pendiam, penyendiri: "Dasar kuper... pasti malu sama tampangnya sendiri, ato stress karena ditolakin mulu sama cewek. Jangan-jangan psikopat."
- Pria ganteng pendiam, penyendiri: "Wow... cool... kaya Rangga AADC. Pasti aslinya romantis kalo sama cewek. Waaah... pasti dah banyak cewek yang ditolak tuh"
7. Tentang cowok berwajah angkuh:
- Seorang pria bertampang biasa, kadang terlihat angkuh dan pendiam: "Udah jelek, judes lagi. Cih!"
- Seorang pria ganteng, kadang terlihat angkuh dan pendiam: "hmm... Misterius... Menantang..."
8. Tentang name-tag (ini curhat colongan):
- Seorang pria yang tampangnya tidak pernah mendapatkan pujian yang tulus masuk kantor tempat dia bekerja selama HAMPIR 5 TAHUN TERAKHIR. Seorang satpam berwajah garang dan sangar dengan judes membentak: "Mau kemana mas?" "Pegawai sini?" "Mana nametag-nya?" "Besok pakai ya!"
- Seorang wanita yang tampangnya banyak mendapat pujian (tapi kadang agak stress kalau dekat-dekat saya, karena saya termasuk orang-orang yang berpendapat sebaliknya) masuk kantor yang sama, dimana dia sendiri belum genap setahun bertempat di situ, dan sebenarnya tidak punya nametag. Satpam yang sama menghadang, lalu berkata: "Selamat pagi mbak..." (dengan senyum manis di wajahnya)
9. Tentang pilihan:
Alkisah, ada pasangan pria-wanita, berselisih paham. Si pria punya pilihan sendiri, si wanita punya pilihan lain. Pilihan mana yang kemudian disepakati keduanya?
- Pilihan si pria yang diambil: "Dasar cowok egois! Cih!"
- Pilihan si wanita yang diambil: "Karena wanita ingin dimengerti..."
10. Tentang, tantangan, hambatan, atau penundaan:
- Dalam kehidupan nyata: "Sudahlaaah, terima kenyataan. Memang tidak akan bisa kok. Tentu ada jalan yang lebih baik"
- Ketika nonton film, di bagian akhir, dan ceritanya mengambil hikmah dari film: "Oh... kisah yang indah... Meskipun jalannya berliku tapi dia tetap yakin, dan dalam cara yang tidak disangka-sangka akhirnya berakhir bahagia. Itulah kenapa kata orang: 'jangan takut untuk bermimpi'"
Mungkin karena di film, orang bisa lihat ending-nya ya? Sementara di kehidupan nyata, masa depan itu misteri, tapi kita sendiri yang suka meyakinkan diri sendiri akan ending yang buruk...
Ya begitulah...
Ini hanya sekedar 10 buah contoh. Saya yakin Anda pasti punya sekian juta contoh lain... karena kalau dipikir-pikir, manusia memang melihat sesuatu itu tidak saklek. Semua sesuai konteks yang dihadapi saat itu. Itulah mengapa, contoh-contoh yang tersaji di atas pun sebenarnya tidak lebih dari sebuah pemikiran pragmatis, karena tentu ada banyak sekali alasan (atau pembenaran) yang bisa mempengaruhi sikap, tanggapan, dan jawaban seseorang dalam kasus yang dihadapinya. Dengan begitu, sebenarnya tidak ada itu yang namanya "prinsip". Saya pun ternyata tidak punya itu prinsip, karena saya pun melihat dan menyikapi sesuatu sesuai konteks yang saya hadapi saat itu. Prinsip itu kan cuma panduan. Yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari biasanya memang cuma pembenaran. Ya tapi... saya terima itu. Saya baru sadar kalau dari dulu saya memang suka sekali membuat pembenaran. And it feels good =p
Sekali-sekali... tidak ada salahnya berpikir sederhana. Untuk senang-senang saja =))
Sudahlah wan... STOP BABBLING!!!
Mari kita melihat bintang-bintang...
Waktu itu dia ditanya soal Christian Sugiono yang merupakan teman baiknya. Kata Agus Ringgo kira-kira seperti ini:
"Susah tau jadi orang jelek yang temenan sama orang ganteng. Gua kan pernah tuh, pengen jatohin namanya si Ian (C. Sugiono). Gw bilang aja ke cewek-cewek kalo si Ian tu takut kecoak. Eeeeh, kata mereka malah "ooooo, co cweeeet (so sweeet), lucu yah, ternyata takut kecoak. Hihi. Nanti gw lindungin deh", sambil pada senyum-senyum. Nah, tau gitu, gw bilang aja, gw jg takut kecoak loh. Eeeh.. kata mereka malah "ih, pengecut! cowok apaan luh? udah jelek, sama kecoak aja takut! dasar cowok lemah!". Nah, itulah bedanya orang ganteng sama orang jelek sama gw."
Kalau dipikir-pikir... memang benar juga ya.
Kita ini manusia kontekstual. Kita menilai berdasarkan konteksnya. Apakah itu konteksnya kondisi kita, kondisi yang dibicarakan, atau apapun. Yang jelas, tanpa sadar, kadang kita memang selalu punya standar ganda atas segala sesuatu.
Mari kita lihat contohnya:
1. Tentang mata keranjang:
- Seorang pria yang sudah punya pasangan melihat seorang wanita lewat, lalu dia berkata ke seorang teman wanitanya: "wanita itu... cantik juga ya...". Si temannya itu akan bilang "dasar lu mata keranjang... inget udah punya pasangan!"
- Seorang wanita yang sudah punya pasangan melihat seorang pria lewat, lalu dia berkata ke seorang teman wanitanya: "Cowok itu... lucu yah... hihihi". Si temannya itu akan bilang "Iya yah... keren abish", lalu berjalan lagi sambil sekali-sekali membicarakan apa saja yang bisa dilihat dari si pria ganteng itu.
2. Tentang obsesi cinta:
- Seorang pria bertampang "biasa" punya obsesi dan perasaan yang begitu besar pada seorang wanita, meskipun keadaannya tidak memungkinkan untuk dia bisa bersama si wanita itu (cinta ga kesampaian ceritanya). Teman-temannya akan bilang: "Posesif, obsesif, psycho... ati-ati luh, ntar malah jadi orang stress. Ntar malah bikin macem-macem lagi luh. Udalaaah..."
- Film Twilight, Shakespeare in Love, Titanic, Romeo and Juliet, City of Angels, Butterfly Effect: "Ooo.... co cweeeet.... meskipun berat tapi mereka tetap pertahankan cinta mereka... cinta itu memang harus begitu... oh... seandainya...". Mungkin karena kalau di film tampang para pemeran prianya ganteng-ganteng ya? Orang ganteng kan ga mungkin psycho...
3. Tentang rahasia:
- Seorang pria memendam sebuah rahasia yang fatal, sepanjang hidupnya. Komentar: "Gila ya tu orang... Bisa-bisanya ga bilang soal itu. Padahal fatal banget. Tega banget dia."
- Seorang wanita memendam sebuah rahasia yang fatal, sepanjang hidupnya. Komentar: "Wanita itu memang berjiwa besar. Hatinya mampu memendam rahasia itu meskipun sudah sekian lama...", "A woman's heart is a deep ocean of secrets..." (Rose, dalam Titanic)
4. Tentang kekaguman terhadap fisik:
- Seorang pria mengatakan penilaiannya mengenai seorang wanita, kepada teman wanitanya. Dia bilang: "Eh, si X... badannya bagus yah. Cantik bgt pula mukanya. Rambutnya... pff... suka deh gw". Si teman wanita akan bilang: "Ih, fisik banget sih lu? Dasar dangkal!"
- Seorang wanita mengatakan penilaiannya mengenai seorang pria, kepada teman wanitanya. Dia bilang: "Wow, si Y.... keren bgt. bodinya bagus, bajunya modis. cool bgt penampilannya." Si teman wanita bilang: "Iya ya... hihihi... keren banget. Gw jg suka ngeliatnya. Yaaah, walau bagaimanapun kan yang pertama keliatan tu kan tampang fisik. hehe."
5. Tentang merokok:
- Seorang wanita merokok. Pria yang melihat akan bilang ke temannya: "Ga suka gw ngeliat cewek ngerokok. Kaya bukan wanita baik-baik..."
- Seorang pria merokok. Pria yang melihat akan bilang: "Bagi dong jek!"
6. Tentang cowok pendiam:
- Seorang pria bertampang biasa, bersifat pendiam, penyendiri: "Dasar kuper... pasti malu sama tampangnya sendiri, ato stress karena ditolakin mulu sama cewek. Jangan-jangan psikopat."
- Pria ganteng pendiam, penyendiri: "Wow... cool... kaya Rangga AADC. Pasti aslinya romantis kalo sama cewek. Waaah... pasti dah banyak cewek yang ditolak tuh"
7. Tentang cowok berwajah angkuh:
- Seorang pria bertampang biasa, kadang terlihat angkuh dan pendiam: "Udah jelek, judes lagi. Cih!"
- Seorang pria ganteng, kadang terlihat angkuh dan pendiam: "hmm... Misterius... Menantang..."
8. Tentang name-tag (ini curhat colongan):
- Seorang pria yang tampangnya tidak pernah mendapatkan pujian yang tulus masuk kantor tempat dia bekerja selama HAMPIR 5 TAHUN TERAKHIR. Seorang satpam berwajah garang dan sangar dengan judes membentak: "Mau kemana mas?" "Pegawai sini?" "Mana nametag-nya?" "Besok pakai ya!"
- Seorang wanita yang tampangnya banyak mendapat pujian (tapi kadang agak stress kalau dekat-dekat saya, karena saya termasuk orang-orang yang berpendapat sebaliknya) masuk kantor yang sama, dimana dia sendiri belum genap setahun bertempat di situ, dan sebenarnya tidak punya nametag. Satpam yang sama menghadang, lalu berkata: "Selamat pagi mbak..." (dengan senyum manis di wajahnya)
9. Tentang pilihan:
Alkisah, ada pasangan pria-wanita, berselisih paham. Si pria punya pilihan sendiri, si wanita punya pilihan lain. Pilihan mana yang kemudian disepakati keduanya?
- Pilihan si pria yang diambil: "Dasar cowok egois! Cih!"
- Pilihan si wanita yang diambil: "Karena wanita ingin dimengerti..."
10. Tentang, tantangan, hambatan, atau penundaan:
- Dalam kehidupan nyata: "Sudahlaaah, terima kenyataan. Memang tidak akan bisa kok. Tentu ada jalan yang lebih baik"
- Ketika nonton film, di bagian akhir, dan ceritanya mengambil hikmah dari film: "Oh... kisah yang indah... Meskipun jalannya berliku tapi dia tetap yakin, dan dalam cara yang tidak disangka-sangka akhirnya berakhir bahagia. Itulah kenapa kata orang: 'jangan takut untuk bermimpi'"
Mungkin karena di film, orang bisa lihat ending-nya ya? Sementara di kehidupan nyata, masa depan itu misteri, tapi kita sendiri yang suka meyakinkan diri sendiri akan ending yang buruk...
Ya begitulah...
Ini hanya sekedar 10 buah contoh. Saya yakin Anda pasti punya sekian juta contoh lain... karena kalau dipikir-pikir, manusia memang melihat sesuatu itu tidak saklek. Semua sesuai konteks yang dihadapi saat itu. Itulah mengapa, contoh-contoh yang tersaji di atas pun sebenarnya tidak lebih dari sebuah pemikiran pragmatis, karena tentu ada banyak sekali alasan (atau pembenaran) yang bisa mempengaruhi sikap, tanggapan, dan jawaban seseorang dalam kasus yang dihadapinya. Dengan begitu, sebenarnya tidak ada itu yang namanya "prinsip". Saya pun ternyata tidak punya itu prinsip, karena saya pun melihat dan menyikapi sesuatu sesuai konteks yang saya hadapi saat itu. Prinsip itu kan cuma panduan. Yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari biasanya memang cuma pembenaran. Ya tapi... saya terima itu. Saya baru sadar kalau dari dulu saya memang suka sekali membuat pembenaran. And it feels good =p
Sekali-sekali... tidak ada salahnya berpikir sederhana. Untuk senang-senang saja =))
Sudahlah wan... STOP BABBLING!!!
Mari kita melihat bintang-bintang...
Kategori :
Mencari Makna,
Penting ya?,
Perjalanan,
Wacana wacini
Thursday, November 19, 2009
Ada apa Dengan (film) 2012?
Baca headline koran-koran berharga 1000 rupiah di Ibu Kota hari ini... besar sekali tulisannya. Katanya MUI cabang manaaaa gitu (gamau bilang, biar ga dikira mendiskreditkan) cekal 2012 (film yang lagi heboh itu loh)....
........
Tidak bisa berkata-kata....
.......
Mikir.....
......
Terus ketawa sendiri...... =))
......
God! I love this country =))
(Kalo saya jadi produser filmnya, saya akan bayar MUI karena tanpa saya minta telah berjasa menjadikan film ini... lebih dari sekedar film)
NB: Saya belom nonton. Kehabisan tiket mulu.
........
Tidak bisa berkata-kata....
.......
Mikir.....
......
Terus ketawa sendiri...... =))
......
God! I love this country =))
(Kalo saya jadi produser filmnya, saya akan bayar MUI karena tanpa saya minta telah berjasa menjadikan film ini... lebih dari sekedar film)
NB: Saya belom nonton. Kehabisan tiket mulu.
Kategori :
Penting ya?
Monday, October 26, 2009
Tiga Batang Rokok dan Segelas Besar Kopi-Moka

And here I am... having a date with myself...
Makasih Nov, dari dulu saya emang ingin coba saran kamu ini.
Ya tidak sepenuhnya sendiri juga sih. Ada teman-teman, tapi saya memilih duduk sendiri supaya bisa merokok... dan menulis ini dengan tenang.
Ada baiknya juga berkesempatan sendiri dalam keramaian seperti ini. Mengizinkan kita untuk berpikir dengan lebih tenang, lebih jernih. Kalau sendiri yang memang sendiri, kadang lintasan-lintasan pikiran yang mengganggu itu justru lebih kuat. Kalau ada sesuatu yang kurang, itu adalah alunan musik hidup yang tadinya saya harapkan di tempat ini. Baru mulai minggu depan katanya.
Lantas apa kiranya yang membuat saya ingin melakukan hal ini? Tentunya, ketika alasan itu tidak bersifat begitu pribadi, saya tidak membutuhkan kesunyian untuk berkontemplasi, dan bisa dengan seenaknya berbagi bersama teman-teman. Maka mungkin sekedar apa yang saya pikirkan saja. Ini tentang hidup -tentu saja, seperti biasa- dan apa yang bisa dilakukan hidup kepada kita, atau apa yang bisa kita lakukan terhadap hidup.
Semua kisah tentang hidup tak pernah mengenai hasil atau resultan akhir yang didapat. Karena hasil baru akan didapat ketika hidup itu berakhir. Dan itu berarti cerita tentang kematian.
Hidup selalu mengenai proses. Mengenai bagaimana dia dijalani. Mengenai kenyataan, mengenai harapan, mengenai bagaimana menghadapi kenyataan untuk membangun harapan.
Kita hidup di sebuah bumi yang berputar. Di sebuah massa cair dengan inti yang cair, yang begitu rapuh tapi kita tidak ada pilihan selain hidup diatasnya karena suatu gaya tak kasat mata yang kita sebut gravitasi. Bumi itu berputar bersama planet-planet lain mengitari matahari dengan kecepatan dalam sebuah galaksi yang kita sebut Bima Sakti. Bima Sakti bersama galaksi-galaksi lain juga berputar mengelilingi sesuatu dalam suatu sistem yang sudah terlalu besar untuk kita bayangkan. Dan mungkin, sistem itu juga berputar dalam suatu sistem lain yang jauh lebih besar.
Bila kita bayangkan itu semua... bila kita bayangkan seluruh sistem itu... dan menyadari bahwa kita adalah sebuah partikel yang begitu kecilnya sehingga mungkin tidak berarti lagi... maka eksistensi kita menjadi sesuatu yang absurd.
Kita hidup dalam pemahaman kita bahwa segala sesuatu terjadi untuk kita, karena kita, dan oleh karenanya kita merasa berhak untuk berpikir hanya dalam skala itu. Yang kita kadang tidak menyadari adalah bahwa dalam hidup itu kita sebenarnya hanya selalu berusaha meraih... menjangkau... dan mengharapkan sebuah ketidakpastian suatu saat akan memihak pada kita. Terlihat sia-sia. Tapi kadang memang hanya itu yang bisa kita lakukan, setidaknya untuk bangun setiap hari dan merasa bahwa hidup kita ini memang ada artinya.
"Sometimes we just reach out, and expect... NOTHING... in return." (Dari film “The Martian Child”)
Dalam konteks besar ini jugalah kemudian segala sesuatu yang kita pikirkan, yang kita rasakan, kita jalani, menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak berarti. Tidak signifikan dalam keseluruhan sistem itu. Apapun yang kita jalankan itu, segala emosi, semua kebahagiaan, kesedihan, harapan, amarah, kasih sayang... apa artinya itu?
Saya... semestinya... telah belajar bahwa amarah hanya akan membawa kepahitan bagi hidup kita sendiri. Tapi toh saya tetap tidak bisa menghindari kenyataan bahwa dalam jalan ini, kadang kemarahan dan kesedihan adalah bagian daripadanya. Adalah naif apabila saya bilang bahwa pengalaman hidup pada masa lalu bisa membuat kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa kini, atau masa depan. Itu tetap terjadi. Marah masih menjadi bagian dari karakter saya. Ya perkara apakah kemudian saya bisa menjalaninya dengan lebih baik atau tidak, itu mungkin hal yang berbeda.
Tapi kadang kita memang harus menerima bahwa sebuah sansak adalah salah satu penemuan paling bermanfaat dalam kehidupan umat manusia. Kesadaran bahwa naluri untuk menghancurkan itu kadang harus disalurkan, dan bahwa dendam itu kadang memang harus terbalas suatu saat nanti. Toh kehancuran yang bisa dihasilkan tangan ini tidak akan cukup kuat untuk merusak keseluruhan sistem tatanan dari apa yang kita sebut alam semesta.
Dalam kadar tertentu, itu lebih menyehatkan dibanding memendam amarah dan membiarkannya suatu saat lepas tanpa kendali. Walaupun kadar itu sendiri tentu besarnya relatif untuk setiap orang.
Pada akhirnya kita hanya akan bisa membiarkan diri kita sendiri, dan orang lain, berpikir masing-masing, dan merasa masing-masing. Ya tentunya suatu saat kita bisa menghibur orang lain dengan kebenaran, agar semua pikiran buruk dan spekulasi di kepala orang itu bisa tereduksi. Karena, spekulasi mengenai berbagai macam kemungkinan adalah hal terburuk yang bisa ada di kepala seseorang. Spekulasi mengenai sesuatu yang diluar pengetahuan membuat kita tidak bisa tidur, bertanya-tanya mengenai mana yang benar itu sebenarnya. Tapi kadang kita membiarkan orang itu berspekulasi, karena kita memang takut mengatakan kebenaran, atau murni karena kita memang ingin menambah sedikit penderitaan di kepala orang lain.
“You are what you think”, kata orang-orang sebagai penyederhanaan dari apa yang kita sebut sebagai hukum ketertarikan. Dan pikiran buruk yang melintas dalam suasana penuh amarah adalah sesuatu yang lebih cepat mewujud dibanding kebaikan, kata orang-orang sebagai pembenaran bahwa kadang tidak segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita. Tentunya, ketika itu terjadi, kita akan menyesal begitu rupa mengapa keburukan itu sampai pernah terlintas dalam pikiran kita, dan menyalahkan diri kita sendiri ketika keburukan itu mewujud jadi nyata.
Padahal adalah wajar kalau kita tidak mendapatkan segala sesuatu sesuai keinginan kita. Hidup memang dibangun dari ketidakadilan-ketidakadilan. Begitu tidak adilnya sehingga dalam skala yang lebih luas, semua orang mendapat ketidakadilan yang sama, dan kadang keadilan yang sama, sehingga semuanya menjadi adil. Ya memang dalam kasus-kasus tertentu, pada suatu saat dua orang berbagi ketidakadilan dan saling menguatkan satu sama lain, tapi yang satu kemudian meninggalkan yang lain ketika keadilan datang padanya. Well, that’s just life. Dan kadang, orang yang ditinggalkan memang dituntut untuk bisa mengerti bahwa dalam skala yang lebih luas, tentu semuanya ada alasannya, dan masih dalam taraf adil.
Kita tidak bisa menuntut dia yang mendapat keadilan untuk membangun pengertian yang sama untuk orang yang dia tinggalkan, karena memang tidak ada alasan untuk dia memikirkan hal itu. Dia akan bisa mengucapkan hal yang sama: “Well, that’s just life”. Tapi tentunya dengan standar kelegaan yang berbeda.
“Sansak” kemudian memang menjadi penemuan yang hebat untuk menghadapi kasus semacam ini. Blog ini pun akhirnya menjadi sansak saya.
Maka, kencan dengan diri sendiri ini bisa kita tutup dengan sebuah perintah... “Enough babbling!”
Mari kita memandangi bintang-bintang...
Ket.: Gambar diambil dari http://www.stfc.ac.uk/PMC/PRel/STFC/Universe.aspx?pf=1
Kategori :
Mencari Makna,
Penting ya?,
Perjalanan
Subscribe to:
Posts (Atom)


