Thursday, September 21, 2006

Jangan Minum Air Mahakam !!! (Cerita kedua dari 2 tulisan tentang Mahakam - habis)

Samarinda sebenarnya kota yang cukup indah. Membuat betah.

Sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur, Kota ini tidak memiliki bandar udara, dan bandar udara terdekat ada di Balikpapan, sekitar 2 jam dari Samarinda. Inilah sebabnya, meskipun Samarinda merupakan ibukota Provinsi, perkembangan Balikpapan sebagai kota perdagangan dan industri berjalan lebih cepat. Dalam banyak hal, Balikpapan memang lebih maju dibanding Samarinda.

Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda bisa ditempuh dalam waktu 1,5 – 3 jam, tergantung kecepatan mobil dan kenekatan supir. Yang jelas, perjalanan itu bisa dinominasikan sebagai salah satu tantangan dalam fear factor. Supir-supir taxi dari Balikpapan – samarinda dan sebaliknya terbilang nekat. Secara teori, jalan kelas 3 yang hanya terbagi dalam 2 jalur (2 lajur berlawanan) semacam ini normalnya ditempuh dengan kecepatan maksimal 60 km/jam. Akan tetapi, taxi yang saya naiki kecepatannya konstan di kisaran 80-110 km/jam. Jalan berliku-liku melintasi hutan dan Bukit Soeharto (yang beberapa tahun lalu sempat terbakar hebat), dengan garis tengah jalan yang seringnya tak terputus (tanda tidak boleh saling menyalip), tidak membuat para supir gentar. Pada perjalanan seperti ini, saya sarankan anda tidur dan pasrah pada Sang Maha Kuasa.

Untunglah, perjalanan seperti ini sudah tak asing lagi bagi saya. Saya rasa perjalanan dari Sukabumi ke kawasan Ujung Genteng masih lebih memacu adrenalin. Begitu juga, perjalanan di papua dulu kurang lebih sama. Akan tetapi, bagi yang belum terbiasa, kantung untuk muntah adalah persiapan yang bisa jadi sangat penting.

Sepanjang jalan, terlihat asap hitam mengepul di kejauhan. Asap dari hutan atau ladang yang terbakar. Kebakaran hutan bagi banyak orang dianggap sebagai sebuah musibah atau kecelakaan. Akan tetapi, sebenarnya kebakaran hutan seringkali merupakan kejadian yang disengaja. Secara tradisional, ini adalah cara yang secara turun-temurun dipraktekkan oleh masyarakat Dayak dalam bercocok tanam. Membakar ladang adalah cara jitu untuk mengembalikan kesuburan tanah, agar setelah beberapa lama dapat digunakan kembali. Dalam periode menunggu kembalinya kesuburan tanah itu, mereka akan berpindah dan membuka lahan baru (dengan cara membakar juga, supaya cepat).

Di masa lalu, metode pembakaran hutan dan ladang berpindah ini merupakan cara tradisional yang telah menjaga kelestarian alam Kalimantan. Bagi saya, ini merupakan salah satu kearifan lokal. Karena, diakui atau tidak, masyarakat tradisional, beserta adatnya, seringkali lebih menghormati alam dibanding manusia ”modern”.

Akan tetapi, memang, metode ini bisa jadi tidak lagi bijak untuk digunakan mengingat banyaknya penduduk Kalimantan saat ini. Lahan sudah mulai terbatas. Meski begitu, saya tetap berpendapat bahwa ilegal logging yang dilakukan secara massif oleh perusahaan-perusahaan bermodal besar merupakan penyebab utama gundulnya hutan-hutan Indonesia. Bukan pembakaran hutan maupun penebangan liar yang dilakukan oleh penduduk setempat !! Mengapa? Karena penebangan maupun pembakaran oleh masyarakat setempat dilakukan dengan tetap memperhitungkan kelestarian alam. Adat istiadat mereka mengikat dan mewajibkan hal itu. Tetapi tidak demikian halnya dengan para pemodal besar. Uang adalah dewa mereka! Sayangnya, masyarakat kecil tetap menjadi kambing hitam yang paling efektif, karena ketidakberdayaannya.

----

Setelah melintasi jembatan Mahakam, anda sudah memasuki kawasan pusat kota Samarinda. Jembatan ini sudah tua, dan penampakannya memang jauh dari kemegahan jembatan Ampera yang melintasi Sungai Musi di Palembang. Meski begitu, nilai pentingnya tetap sama. Jembatan Mahakam ini merupakan jembatan besar pertama yang melintasi Sungai Mahakam. Panjangnya beberapa ratus meter. Kabarnya, jembatan yang melintasi Sungai Mahakam di Tenggarong (Kabupaten Kutai Kertanegara) panjangnya hampir mencapai 1 km, memperlihatkan besarnya sungai ini.

Anda kemudian akan disambut oleh kemegahan Islamic Centre Samarinda. Seorang staff Bappeda Sulsel berkata, inilah Monasnya Samarinda, merujuk pada kubah mesjid besarnya yang berwarna keemasan. Mesjid Islamic Centre yang memiliki 4 menara ini memang sangat besar dan megah, walau tentu saja tidak sebesar Mesjid At-Tin di Surabaya. Meski begitu, memang cukup membuat mata terpana. Sayang sekali, pembangunannya masih belum rampung.

Iklim Samarinda pada dasarnya panas, beriklim tropis. Akan tetapi, hujan terus-menerus mengguyur kota pada hari kedua dan ketiga saya di kota ini, menjadikan udara cukup enak dinikmati.

Berjalan-jalan di Samarinda, saya rasa anda akan terkejut melihat banyaknya apotek di kota ini. Ya, apotek dan dokter. Di sepanjang jalan di sekitar kompleks perkantoran pemerintah saja, ada lebih dari 10 apotek yang saya lihat. Demikian juga di ruas-ruas jalan lain. Banyak juga yang bahkan berseberangan atau bersebelahan! Entah mengapa bisnis apotek ini sepertinya tumbuh subur. Apakah masyarakat sini sering sakit? Semoga tidak demikian.

Fenomena lain, adalah dijual bebasnya minuman-minuman beralkohol yang murah meriah seperti ”Topi Miring” di pinggir-pinggir jalan. Termasuk di depan hotel yang saya tempati, tepat di sebelah kompleks Bappeda Kaltim. Dengan merogoh kocek tak lebih dari 5 ribu sampai 10 ribu, anda sudah bisa mabuk. Tapi tentu, mengingat produk Topi Miring yang kualitasnya juga miring (bahkan tiarap), jangan heran kalau tenggorokan anda akan cepat terasa panas, atau sendi-sendi anda seperti mau lepas.

Seorang kawan saya begitu penasaran untuk mencoba telur penyu yang banyak dijual di tepi Sungai Mahakam. Saya juga belum pernah merasakannya, maka saya pun berhasrat mencoba. Menyusuri tepian sungai, akhirnya kami menemukan kawasan para penjual telur penyu itu. Telur-telur ini didatangkan dari Bontang dan Pulau Derawan. Penyu-penyu memang tidak bertelur di sembarang tempat. Mereka membutuhkan ketenangan, dan karenanya biasa memilih pantai-pantai yang sepi serta cukup hangat. Kabarnya, di Bontang sendiri tidak ada yang menjual telur penyu, karena habis diborong para penjual di Samarinda ini.

Lucu. Warnanya putih dan lebih kecil dibanding telur ayam. Dan cair! Kulitnya terlihat lunak dan isinya cair. Kami meminta yang sudah dimasak matang. Cangkangnya bisa dibuka dengan mudah, tetapi putih telurnya masih cair, kental dan lengket, berwarna bening. Melihatnya, saya merasa mual, karena berarti cara memakan putih telur ini adalah dengan meminumnya. Tetapi, kuning telurnya sepertinya mengeras seperti layaknya telur ayam yang sudah direbus.

Ternyata, cukup enak! Ya, terutama kuning telurnya. Memang gurih. Akan tetapi, rasa itu tak berlangsung lama. Putih telur yang lengket itu menimbulkan aroma amis setelah dimakan, dan membuat seluruh rongga mulut terasa amis juga. Meski begitu, saya tertarik untuk mencoba lagi. Baru setelah saya menanyakan harganya, saya merasa mual. 5000 rupiah per butir!!

Memang cukup banyak makanan enak di Samarinda. Beberapa makanan yang saya sarankan untuk anda coba diantaranya adalah Soto Banjar, Ikan Patin Bakar, dan Udang Galah Bakar. Intinya, perkara makanan, anda tidak akan kecewa di sini. Sebagai oleh-oleh, biasanya para pelancong memilih amplang. Rasanya gurih, biasanya terbuat dari daging ikan belida. Bagi saya, amplang ini tidak terlalu unik, karena mirip dengan penganan kuku macan yang cukup banyak dijual di pulau jawa. Meski begitu, harus diakui, amplang memang lebih enak dibanding kuku macan.

----

Berkeliling di Samarinda tidak terlalu sulit, meskipun mungkin anda baru pertama kali ke kota ini dan tidak memiliki kendaraan pribadi (seperti saya contohnya). Angkutan Kota siap mengantar anda kemana saja.

- Ha? Kemana saja? -

Ya! Kemana saja!

Sistem angkutan kota di sini cukup unik. Angkot bisa dibilang lebih mirip taxi. Anda tinggal bilang tujuan anda kemana, dan si angkot akan mengantar anda sampai tempat tujuan, selama itu tidak terlalu jauh menyimpang dari trayeknya. Meski begitu, setelah beberapa kali naik angkot di Samarinda, saya rasa angkot-angkot ini memang tidak ada trayek resminya. Memang cukup memudahkan, tetapi kadang menyita waktu juga perjalanan dengan angkot ini, karena tidak jarang anda harus rela berputar-putar dulu karena angkot tidak hanya mengantar anda, tapi juga penumpang lain. Dan penumpang-penumpang lain itu tidak selamanya memiliki tujuan di pinggir jalan-jalan besar. Terkadang anda terpaksa berkeliling jalan-jalan tikus dan daerah terpencil juga, mengikuti kehendak para penumpang lain itu.

Dan kalau bicara soal ongkos angkot, bisa jadi akan lebih mengesalkan lagi, mengingat sepertinya juga tidak ada tarif resmi. Minimal 2000 rupiah sampai entah berapa, sesuai standar kelayakan dari si supir. Jadi, kalau si supir meminta misalnya sampai 5000 rupiah per orang, ya jangan heran. Ikhlaskan saja...

Dan kalau bicara soal masyarakatnya, bisa dibilang penduduk setempat di kota ini cukup ramah, terbuka terhadap siapa saja. Selain itu, sepertinya proporsi penduduk pendatang di kawasan Balikpapan-Samarinda ini cukup besar, terutama dari Jawa. Maka fenomena berdirinya tenda-tenda nasi pecel atau soto lamongan di pinggir-pinggir jalan menjadi fenomena yang cukup umum. Yah, tapi saran saya, kalau anda berasal dari Pulau Jawa, untuk apa makan soto lamongan di sini? Iya toh?

-----

Selama saya berada di Samarinda, terhitung ada 3 orang yang memperingatkan saya untuk tidak meminum air Mahakam. Mengapa? Karena biasanya, kalau sudah minum air Mahakam, anda akan kembali lagi.

Saya rasa saya terkena kutukan itu. Bagaimana tidak, air PDAM di Samarinda bersumber dari sungai ini. Tentunya saya sudah meminumnya.

Dan benar saja, dalam hati ini sudah terselip kerinduan untuk kembali ke sana. Menikmati konturnya yang berbukit-bukit turun naik, mendengarkan tetes-tetes hujan membasahi tanah yang kering, dan tentu saja, menikmati semilir angin dibawah kerlipan bintang, di tepian Sungai Mahakam yang tenang.

No comments: