Thursday, November 02, 2006

Sumpah Pemuda, Memang Sudah Tidak Muda Lagi....

Mungkin langkah pemerintah pada saat “reformasi” pasca tahun 1998 untuk menghilangkan kewajiban upacara bendera di sekolah tidak sepenuhnya tepat. Entah sayanya yang sedang aneh, mellow (sebenarnya, kata “mellow” ini artinya apa sih?), atau terlalu banyak bernostalgia dengan masa lalu, tapi dalam satu dan lain hal saya agak-agak merindukan upacara bendera tadi. Tentu, Anda boleh berpikiran bahwa mengingat volume kerja (dan manusia) di perkantoran Jakarta pada hari-hari pertama pasca libur lebaran ini masih sangat sedikit, saya jadi lebih banyak menganggur dan bengong di kantor sehingga kerinduan yang absurd akan hal-hal seperti upacara tadi singgah di kepala saya.

Hmmm.... yaaaa.... mungkin itu benar juga... melamun memang bisa menimbulkan pikiran macam-macam, mulai dari filsafat tingkat tinggi sampai imajinasi-imajinasi terlarang. Tapi tenang, tulisan ini tidak dibuat untuk menceritakan imajinasi-imajinasi tadi (karena kalau diceritakan, Anda tentu akan sepakat bahwa itu memang terlarang). Jadi, lebih baik saya berimajinasi sendirian saja...

--- jeda sebentar ya, lagi berkhayal dalam lamunan... ---

Maaf, sampai mana tadi??

O iya, soal upacara.

Sebenarnya bukan upacaranya yang membuat rindu. Ya iyalah, kegiatan berdiri dibawah terik matahari selama 2 jam tanpa boleh gerak-gerak ataupun buka mulut (kecuali diperintah) memang tidak terlalu menyenangkan.

Serba salah. Waktu berdiri di barisan depan, curi-curi ngobrol sedikit ketahuan pembina upacara, dan ditegur melalui microphone dengan jari telunjuknya jelas mengarah ke hidung saya. Waktu berdiri di barisan belakang, ternyata banyak yang curi-curi ngobrol, makan, sampai saling bertukar kartu porno. Tapi entah kenapa, hanya saya (dan beberapa anak) yang ditarik ke belakang oleh guru pengawas, lalu dilaporkan ke pembina upacara. Kemarahan sang pembina upacara (Kepsek) hanya diungkapkan dalam dua kata : “KAMU?!?! LAGI?!?!?”. Dalam versi bahasa inggrisnya kira-kira : “YOU!!??!? AGAIN??!?!”.

Hanya dua kata memang, tapi itu cukup untuk membuat seluruh siswa yang lain tertawa, atau setidaknya menahan senyum. Dan beberapa menit kemudian, saya beserta anak2 lain yang tertangkap basah tadi sudah berbaris di depan, di sebelah tiang bendera sampai upacara berakhir, untuk kemudian diceramahi lagi di Ruang Guru. Bukan kenangan yang menyenangkan. Meski begitu, saya tetap bersyukur karena telah berjasa membuat seluruh siswa tertawa. Setidaknya itu hiburan bagi mereka, sehingga upacara waktu itu tidak berjalan terlalu membosankan.

Tapi tidak bisa dipungkiri, disamping efek-efek yang (katanya) buruk berupa doktrinasi yang tidak perlu bagi generasi muda yang sedang dalam masa pertumbuhan, upacara juga menyimpan kandungan-kandungan positif dalam rahimnya. Tidak usah terlalu muluk memikirkan korelasi antara upacara dengan patriotisme kaum muda. Tidak usah juga terlalu berlebihan dengan mencari hubungannya dengan kuatnya nasionalisme atau pembentukan mental. Seperti kalimat yang muncul dengan tulisan-tulisan super kecil pada iklan shampo, “efek bervariasi tergantung jenis rambut”, maka demikian juga efek upacara pada mental pemuda maupun orang-orang tua.

Saya melihat dari yang sederhana saja, upacara mengingatkan kita pada hari-hari besar yang bersejarah bagi bangsa ini. Contohnya saja, hari sumpah pemuda tanggal 28 Oktober yang lalu. Ketika masih sering upacara, tentu ada upacara pada hari itu, atau minimal diingatkan oleh pembina upacara pada upacara sebelumnya. Nah sekarang? Sejujurnya, saya sendiri hampir lupa pada hari bersejarah itu, seandainya saya tidak mendapat sms dari seorang kawan yang sejak dulu sampai sekarang berjiwa aktivis patriotis yang berbunyi singkat : “Selamat hari sumpah pemuda! Ayo bangkit pemuda Indonesia!”. Luar biasa sekali bukan sms-nya?

Lantas untuk apa diingat-ingat segala? Nah, kalau itu saya tidak mau menjawab, karena jawabannya bisa bervariasi, sama seperti shampo tadi.

Berbicara sumpah pemuda memang akan membangkitkan kenangan kita akan semangat para pemuda yang (ketika itu) bahkan belum secara resmi punya negara. Lalu kita akan kembali miris saat melihat kenyataan bahwa perjuangan yang berdarah-darah itu sekarang seolah terlupakan saat saya menonton Spongebob atau Katakan Cinta.

Apa? ”Katakan Cinta” ??? Tayangan yang bertema keinginan bercinta yang utopis itu??

Sejauh mana kita memaknai sumpah pemuda saat ini secara filosofis, tentu bisa menjadi pembahasan para penulis yang lebih ”serius” dibanding saya. Toh saya lebih suka melihatnya dari perilaku sehari-hari kaum muda Indonesia. Kok kawula mudanya saja? Ya iya, karena kita sedang membahas sumpah pemuda.

Dari 3 aspek yang tertera dalam sumpah pemuda (bangsa, tanah air, dan bahasa), maka ”bahasa” bisa jadi merupakan aspek yang paling mudah terlihat (dan terdengar) dalam perilaku sehari-hari itu. Maka, mari kita membicarakan penggunaan bahasa Indonesia di kalangan anak muda.

Pertanyaan utamanya adalah : ”sejauh mana generasi muda mengenal dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar?”

Mengenal?

Kawula muda saat ini, tentu bisa menjawab.... ”ooooo, ya jelas kenal dong ah, secara dari kecil kita pakai bahasa indo gitu loh!!”

Nah, sekarang, apa yang bisa Anda lihat dari kalimat jawaban tadi?

Ya! Benar!

Ada kata ”secara” yang sekarang ini nampaknya lumrah digunakan di kalangan para pemuda/i, padahal jelas kata tersebut digunakan dalam konteks yang salah. Pembenarannya? Inilah bahasa gaul kawula muda masa kini. Ini sah-sah saja. Setiap golongan berhak memiliki bahasanya sendiri. Akan tetapi, bisa jadi penggunaan ”bahasa gaul” secara terus-menerus dalam jangka panjang malah membuat pemakainya lupa akan bahasa Indonesia yang merupakan akarnya. Apalagi kalau bahasa semacam itu sudah dibiasakan semenjak anak-anak masih balita (atau bahkan batita diajarkan untuk berbahasa seperti itu), bisa-bisa akan menyebabkan mereka tidak mengenal Bahasa Indonesai. Apakah lantas kita akan mengganti teks sumpah pemuda menjadi ”berbahasa satu! Bahasa...gaul men!!”.

Secara ekstrim, bisa jadi di masa depan, ungkapan-ungkapan sederhana seorang anak perempuan pada temannya seperti : “eh, aku juga ingin kenal dengan lelaki itu dong...” akan berubah menjadi ”eh, akika mawar dong brondong bo !!! ...yuuuu...” (walaupun artinya sedikit berbeda). Asalnya, penggunaan bahasa semacam ini hanya saya dengar di kalangan bencong-bencong ibukota.

Seorang kawan saya di Bandung yang sempat berdiskusi dengan saya perkara ”secara” ini secara tak terduga bahkan malah mengajukan pertanyaan serius yang hampir membuat saya menangis...”eh, wan, ngomong-ngomong, jadi sebenarnya ”secara” itu penggunaannya yang tepat gimana sih?”, yang saya jawab dengan singkat...”HAIYAH!!”

Sepemahaman saya, yang tentu saja bisa salah karena nilai pelajaran Bahasa Indonesia saya juga tidak terlalu bagus, kata ”secara” itu bisa diartikan/digantikan oleh frase ”satu cara dengan” atau ”dengan cara”. Jadi, kalau misalnya saya katakan... ”Ia dibunuh secara brutal” akan sama artinya dengan ”Ia dibunuh dengan cara yang brutal”. Perhatikan bahwa kata ”secara” biasanya diikuti oleh kata sifat.

Nah, penggunaan kata ”secara” dalam bahasa gaul seperti sekarang ini sebenarnya lebih tepat kalau menggunakan kata ”berhubung” atau frase ”sehubungan dengan”. Jadi, kalau dalam bahasa gaul kita berkata... ”gw jalan-jalan dong, secara masih libur gitu loh”, maka dalam Bahasa Indonesia kira-kira berarti ”saya bertamasya dong, berhubung sekarang masih masa liburan”. Kira-kira begitu.

Oke, sekian pelajaran bahasanya, secara ini bukan diktat bahasa... (halah, ternyata enak juga pakai kata ini =p hueheheheh).

Satu kata lagi yang masuk daftar keprihatinan saya adalah kata ”kami”. Apakah anda menyadari, bahwa kita sedang kehilangan penggunaan kata ”kami” dalam bahasa sehari-hari?

Coba perhatikan kutipan salah satu iklan susu yang ditayangkan di televisi berikut :

”KITA pernah tersesat di hutan amazon... dst dst” (diucapkan oleh 2 orang anak kecil)

Bagi saya iklan itu terdengar janggal karena.... karena saya tidak ikut tersesat bersama anak-anak itu di hutan amazon. Lha lantas mengapa dia mengucapkan kata ”kita”??

Tapi toh ternyata di jagat Indonesia ini, penggunaan yang salah konteks seperti itu memang sudah banyak. Misalnya dalam sebuah acara di televisi yang menyajikan hiburan berupa macam-macam tarian dan nyanyian, presenternya sering sekali berkata : ”kita sudah menyiapkan ya, artis-artis blablabla dst dst”. Nah, yang menyiapkan itu siapa? Saya tidak ikut menyiapkan kok.

Dalam dua contoh tadi, bukankah lebih cocok kalau kata ”kita” diganti ”kami”?? Karena setahu saya, ”kita” itu merujuk pada orang pertama (yang berbicara) bersama-sama dengan orang kedua (yang diajak berbicara) dan bermakna jamak. Sementara ”kami” merujuk pada orang pertama jamak.

Jadi, kalimat-kalimat seperti :

1. ”Kita akan terus melakukan penyidikan atas kasus pembunuhan ini” (diucapkan seorang kepala polisi), jelas salah karena yang melakukan penyidikan tadi adalah aparat kepolisian. Saya tidak ikutan, ayah saya tidak ikutan, teman saya tidak ikutan, dan banyak orang lain yang tidak ikutan. Jadi, semestinya kalimatnya : ”KAMI akan terus blablabla...”

2. ”Kita pergi dulu yaaa.... dadaaaaah!!!!” Ini lebih absurd lagi. Untuk apa pamit ke orang yang ikut pergi?? Tentu semuanya akan lebih jelas kalau kalimatnya... ”KAMI pergi dulu yaaa”

3. ”Kita semua sayang kok sama cecep...” Ya sudahlah, sama saja penjelasannya...

Dalam bayangan saya, kehilangan ”kami” ini bisa jadi disebabkan oleh hal-hal berikut :

1. Terpengaruh Bahasa Inggris, karena kosakata Bahasa Inggris memang tidak mengenal pembedaan antara ”kami” dan ”kita”. Keduanya biasanya sama-sama diterjemahkan sebagai ”we”. Nah, dalam hal ini, Bahasa Indonesia bisa dibilang lebih unggul... tapi malah keunggulan itu hilang dengan sendirinya.

2. Terpengaruh dialek dari beberapa bahasa daerah, karena beberapa bahasa daerah di Indonesia memang biasa menggunakan frase ”kita orang” sebagai pengganti ”kami”. Frase ”kita orang” ini sebenarnya juga biasa digunakan oleh etnis cina dan kalangan tentara belanda waktu dulu menjajah negeri ini (”kita orang” untuk mereka, dan ”kamu orang” untuk orang pribumi yang diajak bicara).

3. Terpengaruh bahasa pejabat, karena pada masa orde baru dulu (dan orde lama mungkin), setiap pidato atau opini tertulis yang diutarakan oleh seorang pejabat selalu menggunakan frase ”kita”. Ini supaya rakyat yang mendengarnya MERASA turut bertanggung jawab atau turut ”memiliki” opini atau kebijakan tersebut. Penggunaan frase ”kita” ini terbukti sangat efektif sebagai sarana persuasi bagi rakyat banyak.

4. Karena dari kecil sudah mendengar yang salah konteks, ya sudah, memang tidak tahu lagi penggunaan yang benar itu seperti apa....

Nah... kan.... jadi serius gini kan tulisannya??

Ah, sudahlah.... cukuplah dua kata tadi (”secara” dan ”kami”) mewakili keprihatinan saya atas penggunaan Bahasa Indonesia di masa sekarang ini.

Intinya...

Mari memperingati sumpah pemuda dengan merusak bahasa persatuan kita...

NB :

- saya tidak menentang penggunaan ”bahasa gaul anak muda”. Tapi agak risih kalau itu merusak bahasa Indonesia atau penggunanya jadi tidak tahu lagi bahasa Indonesia itu seperti apa.

- kalau memang ”bahasa gaul anak muda” yang merusak Bahasa Indonesia, sementara Bahasa Indonesia itu ditetapkan sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda, maka mungkin Sumpah Pemuda memang sudah tidak muda lagi ya...

- tulisan ini bukan berarti saya tahu banyak tentang Bahasa Indonesia, atau jago berbahasa Indonesia... jadi, silakan koreksi...

- karena saya banyak mengkritik ”bahasa gaul anak muda”, maka saat menulis ini, saya merasa... saya merasa... merasa... tuaaaaaa sekali... atau minimal, ”gak gaul” =))

No comments: