Wednesday, September 26, 2007

Pecahkan Layar Kaca Anda !!!


Yah, sekali lagi mungkin postingan tentang dunia persinetronan kita ya…

Setelah sebelumnya saya mengupas (tidak tuntas) tentang kecenderungan tiru meniru tema yang (terlihat) sukses dalam belantika sinetron Indonesia, sekarang saya ingin sedikit membahas tentang... mutu.

Ya!

Mutu! Kualitas!

Dan sedikit tentang anggaran (anggaran bikin film) juga mungkin.

Darimana mulainya ya?

O iya, sebelumnya tanya dulu, apakah Anda suka menonton sinetron-sinetron yang bermunculan di layar kaca Anda sekarang-sekarang ini? Sinetron apa kalau boleh tau?

Apakah bertema… cinta? (lebih tepatnya mungkin “keinginan bercinta yang utopis”)

Apakah para pemerannya nampak berumur dibawah 40 tahun? (bisa jadi seorang aktris yang berperan sebagai seorang ibu sebenarnya lebih muda dari aktris yang berperan sebagai anaknya… atau minimal hampir seumuran lah)

Apakah semua pemerannya (apabila diukur dengan standar pasca globalisasi) cantik-cantik dan ganteng-ganteng? “Indo” mungkin?

Apakah tidak ada cerita lain diluar cerita cintanya? Misalnya, apakah tidak ada cerita bagaimana mereka bekerja untuk mendapatkan uang guna membiayai gaya hidupnya? Kalau ada lakon yang ceritanya kaya, apakah tidak ada yang menceritakan apa tepatnya yang mereka kerjakan sehingga bisa dilimpahi kekayaan seperti itu?

Dan yang paling penting… Apakah ceritanya bertele-tele tapi akhirnya bisa ditebak dan mirip-mirip dengan puluhan sinetron yang pernah Anda tonton sebelumnya (walaupun ditambah sedikit variasi di sana-sini)?

Kalau semua pertanyaan itu anda jawab “YA”, maka sepertinya kita bisa bersepakat bahwa dunia sinetron memang hampir pasti mentok pada patron itu. Kalaupun ada satu atau dua sinetron yang tidak mengikuti patron itu, atau bahkan mungkin bertentangan sama sekali, ya sepertinya sifatnya hanya sempalan. Minoritas.

Tentu saja, ini bisa tidak berlaku kalau kita membicarakan sinetron-sinetron dengan genre komedi situasi (semacam Bajaj Bajuri, OB, dan lain sebagainya).

Dalam perkembangannya, kemudian muncul juga sinetron-sinetron yang mengaku Sinetron (sok) Religi(us). Meskipun pada awalnya bisa dibilang sebagai sebuah terobosan ”dakwah”, akan tetapi ujung-ujungnya miris juga kalau ”dakwah” itu kemudian dicitrakan dengan mayat berbelatung, dimakan ular, berdarah-darah, atau ditolak oleh bumi (tidak bisa dikubur). Setelah kurang lebih 2 tahun berjaya, sinetron semacam ini sepertinya mulai membuat mual...

Perkembangan terakhir bisa dibilang lebih membuat mual lagi.

Semenjak adanya kebijakan penyiaran yang mewajibkan stasiun-stasiun televisi untuk memperbanyak proporsi siaran produksi dalam negeri (lokal), sepertinya acara-acara dan sinetron “gak penting” mulai merajalela. Kita sepertinya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan stasiun-stasiun televisi mengenai kecenderungan ini. Mengapa? Karena sepertinya wajar kalau dari segi hitung-hitungan bisnis mereka memprioritaskan membuat sendiri tayangan-tayangan itu dengan anggaran seminim mungkin. Yang penting ada yang nonton, dan ada slot untuk pasang iklan.

Ditambah lagi, mungkin terkait juga dengan tingginya tingkat pengangguran di kalangan muda-mudi kita, tayangan ini membuat banyak sekali lapangan kerja di sektor profesi “selebritas”. Maksudnya, kalau anda muda, menarik (cantik/ganteng, lebih bagus lagi kalau indo), dan percaya diri, daripada mengantri untuk melamar kerja, lebih baik meniti karir sebagai pendatang baru dalam belantika artis Indonesia. Karena tayangan sinetron murah meriah membutuhkan pendatang-pendatang baru yang masih mau dibayar murah meriah juga. Lumayan toh untuk pengentasan pengangguran? Jangan khawatir mengenai kualitas akting. Cukup seadanya. Yang penting, diluar film yang Anda bintangi, Anda cukup laku untuk dijadikan bahan gosip di acara-acara ”infotainment”. Dijadikan bahan gosip dalam acara-acara infotainment adalah pengukuhan Anda sebagai seorang selebritas. Selain itu, semakin populer Anda, semakin besar nilai jual Anda untuk meminta honor lebih kalau ditawari main sinetron atau iklan lagi. Kualitas akting? Siapa peduli? Toh dengan saking banyaknya artis-artis baru dewasa ini, cukup kecil kemungkinan nama Anda akan diingat oleh masyarakat. Jangankan nama, tampang saja sebenarnya mirip-mirip.

Maka lengkaplah sudah semua persyaratan untuk memunculkan sinetron-sinetron atau film singkat dengan cerita alakadarnya.

Mengenai tema, toh seorang produser bisa mengambil novel-novel remaja yang baru terbit. Kalau tidak, ambil saja tema dari sinetron luar negeri. Mau yang lebih mudah, ikuti saja patron yang ada. Yang penting filmnya jadi. Kalau tidak, ambil saja cerita-cerita rakyat lokal maupun luar negeri.

Mengenai anggaran, agak luar biasa melihat kreatifitas para pembuat film untuk melakukan penghematan. Untuk cerita-cerita rakyat zaman dahulu misalnya, jangan khawatir mengenai anggaran membuat setting zaman belanda atau zaman kerajaan Majapahit dulu. Bahkan Sangkuriang dan legenda tangkuban perahunya saja sah untuk digambarkan memakai celana jeans, mobil keluaran terbaru, dan telepon selular. Siapa yang mau protes?

Padahal agak aneh juga melihat orang-orang dengan telepon selular masih minta dibuatkan candi sebagai syarat menikah, atau dibuatkan danau beserta perahunya dalam satu malam, lalu masih tertipu dengan suara kokok ayam yang menandakan datangnya fajar. Satu-satunya yang terlihat wajar justru adalah bangsa jin dan segalam macam makhluk halus yang membantu pembuatan candi atau danau itu. Mereka masih tampil konvensional dengan bertelanjang dada dan bercelana kain tanpa sepatu, lengkap dengan tampang seramnya. Diluar itu, hampir tidak ada yang wajar.

Untuk mereka yang berprasangka baik, tentu ini akan disebut sebagai sebuah kreatifitas dan usaha yang baik untuk “membumikan” kisah-kisah lama dalam konteks kekinian. Akan tetapi, untuk orang seperti saya yang terlahir dengan bakat sinisme yang agak parah (sengaja saya pakai kata “sinisme” karena “prasangka buruk” itu katanya tidak boleh), sepertinya ini sekedar upaya agar dapat memproduksi tayangan dengan cepat dan murah.

Mengenai efek visual, jangan berharap menyaksikan efek visual semacam film Transformers yang beberapa waktu lalu merambah bioskop-bioskop kita. Cukup dengan animasi komputer sederhana yang masih tampak kasar dan tidak menyatu dengan latar belakangnya, efek visual di layar kaca kita ternyata sudah dinilai baik.

Saya ingat beberapa hari lalu terpaksa menemani ibu saya menonton sinetron singkat “Legenda Pelabuhan Ratu”. Cukup menarik menyaksikan bagaimana film itu menggambarkan kepanikan ketika air laut menjelma menjadi tsunami yang menenggelamkan sebuah desa di lokasi yang sekarang disebut Pelabuhan Ratu. Cukup dengan menyuruh beberapa orang berlari-lari tidak karuan sambil teriak-teriak (walaupun masih tampak beberapa orang tersenyum karena tidak tahu harus lari kemana) dan efek ”menggoyang-goyang kamera ke kiri-kanan-atas-bawah”, nuansa kepanikan itu dianggap paripurna. Adapun tsunami digambarkan dengan gambar ombak yang di-crop lalu ditaruh diatas orang-orang yang berlari-lari itu. Luar biasa aneh.

Kemudian dimunculkan gambar rumah-rumahan yang terbuat dari karton lalu disiram air dengan teknik yang terlihat seperti sekedar menyeborkan air dengan menggunakan gayung. Persis mirip dengan film Ultraman di awal tahun 80-an (tahu Ultraman kan?). Benar-benar low-budget bukan?


Lantas bagaimana dengan dunia layar lebar?

Lagi trend horor-horor lucu ya?

Sekitar setengah tahun yang lalu saya pernah bertanya-tanya, bagaimana kalau semua setan dan makhluk halus sudah habis “digarap” oleh dunia perfilman kita. Dan sekarang saya tahu jawabannya… MEREKA MEMBUAT SEKUEL!!!

Pocong 2, kuntilanak 2, jelangkung 3, dan lain sebagainya. Kalau bukan sekuel, ya makhluk yang sama dieksploitasi di film lain. Sejauh ini, sepertinya Kuntilanak dan suster ngesot yang paling laris.

Yaaah… saya rasa inilah periode dimana tayangan-tayangan gak penting merajalela di layar kaca kita. Dan bintang-bintang muda dengan penampakan serupa membuat pusing masyarakat yang masih mencoba-coba mengingat nama-nama mereka.

Mari kita nikmati bersama saja ya…



Keterangan :

Gambar diambil dari www.tpi.tv, www.10kbullets.com, dan www.sinema-indonesia.com

Sekali lagi tanpa izin... maaf ya...

Monday, August 13, 2007

Pindah Ruangan

Wah... lebih dari sebulan blog ini ga keurus ya...

Ada yang penasaran menunggu update-nya?
Demi ego saya yang tengah memuncak ini, tolonglah, setidaknya satu orang saja, tolong katakan “YA” (haiyah! dibuka dengan narsisme yang kambuh).

Oke, yang tadi sama sekali tidak penting.

Yah, beberapa bulan terakhir ini saya kebetulan memang disibukkan oleh berbagai perjalanan dinas. Yang terakhir (yang membuat blog ini lama tidak terurus), adalah ke Bandung, Palembang, Samarinda (2 kali), dan Kendari. Yaaah, tapi, ini sekedar alasan saja sih. Alasan “malas” sebenarnya cukup dominan juga =D

Alasan lain (yang akan menjadi topik tulisan kali ini), adalah tergusurnya saya dari ruangan kantor yang telah saya tempati selama lebih dari 2 tahun terakhir ini. Sekretariat ILGR. Karena alasan yang kalau saya kemukakan disini juga sepertinya akan sulit dimengerti, ruangan itu memang dibongkar dan karenanya para penghuninya (termasuk saya) harus pindah ke tempat lain. Akhirnya saya tahu juga rasanya jadi korban penggusuran.

Nah, dalam pemindahan itulah, sampai sekarang saya belum menemukan tempat yang tetap untuk meletakkan komputer kerja saya. Jangankan tempat menaruh komputer, meja pun masih belum jelas dimana.

Selama beberapa hari (atau minggu) setelah penggusuran itu, saya tahu bahwa kondisi emosional saya akan sedikit terganggu. Lha? Mengapa?

Teman-teman yang telah mengenal saya dengan cukup baik sebelumnya mungkin akan mengetahui salah satu keanehan dalam diri saya ini. Saya orang yang cukup sentimentil dengan dimensi ruang. Dengan kata lain, sentimentil dengan “tempat”.

Maksudnya bagaimana?

Maksud saya, seandainya saya ke Bandung dan mengunjungi kampus lalu melewati Gerbang Ganesha misalnya, maka tanpa dapat dicegah, ingatan saya akan mengenang kapan pertama kali saya memasuki gerbang ini, kapan terakhir kali saya keluar dari gerbang ini dengan status “mahasiswa”, peristiwa-peristiwa apa saja yang pernah saya lalui disini, dan sebagainya. Selain gerbang ganesha, tempat lain yang akan menimbulkan kesan sentimentil itu mungkin adalah ruang himpunan mahasiswa, gedung campus center (yang dulu masih bernama student center dan menjadi tempat kos kedua saya di Bandung), lapangan basket, dan sebagainya. Jangankan ruangan-ruangan itu, bahkan pohon besar yang berdiri tegak di depan gerbang timur Mesjid Salman saja masih membuat saya tersenyum setiap kali melewatinya (jangan tanya memori apa yang pernah terjadi di bawah pohon itu ya! =P ).

Aneh kan? Tapi memang begitulah adanya.

Apakah Anda juga begitu? Maksud saya, apakah ketika Anda memasuki sebuah tempat baru, Anda berjalan dengan lambat dan memasukkan semua aspek dalam dimensi ruang itu kedalam memori anda? Dan ketika meninggalkan tempat itu, apakah Anda juga meninggalkan sebagian emosi Anda didalamnya?

Begitulah yang terjadi dengan ruang ILGR yang tadi kita singgung di awal tulisan ini.

Bagi sebagian orang, pindah ruangan kerja mungkin menjadi sesuatu yang jamak. Bagi saya juga. Tapi emosi dan memori yang menyertainya bukan sesuatu yang mudah untuk dijinakkan.

Masih teringat dengan jelas, ketika saya memasuki ruangan itu untuk pertama kali, saya langsung memilih tempat didepan pintu kaca yang bisa dibuka, agar saya bisa mendapat udara segar kapanpun saya butuhkan. Yang duduk di sebelah kiri saya adalah Amel, meja di depan saya ditempati oleh Deyla dan Eji. Meja di sebelah kanan saya ditempati oleh Mas Mahendra, di sebelah kanannya lagi ditempati Mas Perdana, dan di pojok paling kanan di tempati oleh Pak Aris. Mas Hasan biasa memakai komputer yang berada di tengah ruangan, walau hanya sesekali.

Satu bulan setelah saya masuk, Pak Aris keluar karena berselisih dengan atasan. Ia digantikan oleh Mas Tauhid, meskipun sangat jarang beliau masuk kantor dan lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di tempat lain. Mas Perdana dan Mahendra kemudian juga ditempatkan di sekretariat lain, dan hanya sesekali datang ke ruangan. Kemudian, masuklah Petty, menempati komputer yang sebelumnya biasa digunakan Mas Hasan. Mas Hasan mengungsi ke tempat yang ditinggalkan Pak Aris.

Tak lama kemudian, Eji dan Amel juga pergi karena masa Kerja Praktek mereka sudah berakhir. Petty kemudian menempati meja yang ditinggalkan Amel, di sebelah kiri saya. Maka praktis yang tinggal di ruangan tinggal berempat (Saya, Petty, Deyla, dan Mas Hasan). Setengah tahun kemudian, Deyla pergi karena mendapat kerja di tempat lain. Ia digantikan oleh Nissa, yang tiga bulan setelah itu keluar karena menjadi PNS di tempat lain. Nissa digantikan oleh Griya, yang juga hanya bertahan tiga bulan, kemudian pergi karena menerima tawaran kerja dari tempat lain. Petty kemudian juga berpindah ruangan, walaupun masih di gedung yang sama. Griya digantikan oleh Ika, dan tak lama setelah itu, masuk orang baru bernama Mas Kholid yang menempati tempat yang dulu ditinggalkan oleh Mas Perdana. Tak lama kemudian, masuklah Ervin yang menggantikan Petty. Meski begitu, Ervin hanya bertahan kira-kira 3 bulan di ruangan itu, kemudian dipindahkan ke tempat lain, meski masih sering bulak-balik ke ruangan kalau ada keperluan.

Setelah itu, masuklah Mbak A’yun, ketika itu dalam status magang, dan menempati tempat di sebelah kanan saya yang dulu ditempati Mas Mahendra. Penghuni ruangan mulai mapan lagi (Ika, Kholid, A’yun, Mas Hasan, dan saya). Kemudian, masuklah Imas, menempati meja di tengah. Setelah itu, masuklah Nissa (Nissa yang lain lagi dengan Nissa yang pertama), menempati meja yang dulu ditempati Eji. Nissa hanya bertahan 2 bulan, kemudian keluar karena menerima tawaran di tempat lain, dan digantikan oleh Dwi.

Maka, itulah dia formasi terakhir ruangan ILGR! (Ika, Dwi, Imas, A’yun, Kholid, Mas Hasan, saya sendiri, dan ditambah Pak Ucen yang masuk kantor 2-3 kali seminggu). Saya yakin, 4 paragraf terakhir terasa membosankan bagi Anda semua, karena Anda TIDAK TAHU SAMA SEKALI SIAPA ATAU APA YANG SAYA OMONGKAN =)). Maaf ya =P.

Tapi, kalau Anda mungkin sedikit memperhatikan 4 paragraf itu, akan Anda temukan bahwa saya dan Mas Hasan adalah 2 orang yang sejak saya pertama kali masuk ruangan itu (2 tahun yang lalu) MASIH TETAP =D. Yang lain sudah datang dan pergi semua. Fiuuh... kenyataan yang aneh kalau mengingat bahwa sejak awal sebenarnya saya tidak berniat untuk berlama-lama di instansi ini.

Dan, karena keanehan yang tidak terjelaskan seperti yang saya utarakan di awal tadi, beberapa hari setelah penggusuran, saya masih membawa-bawa kunci ruangan ILGR di saku celana saya, karena reflek setiap pagi untuk menyambar HP, dompet, dan kunci ruangan ketika akan meninggalkan rumah ke tempat kerja masih belum berubah. Demikian juga, bahkan sampai sekarang ini, setiap kali melihat puing-puing ruangan ILGR yang sudah rata dengan tanah, saya seolah masih melihat dengan jelas apa-apa yang dulu pernah ada disana. Semua komputer, meja kursi, semua permainan kartu, canda tawa, diskusi, tangis (lha? Tangis?), kemarahan, kebahagiaan, kesedihan, perenungan, dan semua emosi yang pernah terlepas disana.

Bukan hanya pada ruangan ILGR saja. Semua tempat lain yang pernah saya kunjungi pun akan mendapat perlakuan sama. Seolah, semua memori dan emosi yang pernah tertumpah di satu tempat selalu menyapa saya ketika kembali ke tempat itu. Dan ketika itu terjadi, maka langkah saya akan melambat, mata saya akan terpejam untuk beberapa saat, dan menunggu angin membisikkan beberapa patah kata di telinga saya : “selamat datang kembali”.

Thursday, July 05, 2007

Tak Tertebus...

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)


Aaaah... wahai Sapardi Djoko Damono, sampai sekarang belum berkurang kesukaan saya terhadap puisi Anda ini.

Mungkin karena kita berdua begitu mencintai dunia mimpi? Dunia angan-angan yang jauh menembus khayalan.

Seandainya Anda tahu,

Bagi saya, bahkan ternyata sebuah “kesederhanaan” itu kadang begitu mahal.

Kadang tak tertebus...


Keterangan : Gambar diambil dari (maaf ga minta izin dulu) www.ithb.ac.id/images/anyer/anyer_unggun1.jpg

Thursday, June 21, 2007

Kegelapan Itu Indah...

wah... sebulan sudah ternyata blog ini tidak di-update...

Ada apa aja yang terjadi? Apa kabar semuanya?

Basa-basi sepertinya ya...

Oke, kita lewat saja.

Yah, beberapa kejadian kurang menyenangkan terjadi pada saya beberapa waktu terakhir ini (selain kejadian-kejadian yang patut disyukuri tentunya). Kejadian menyebalkan terakhir tentunya adalah kalahnya FC Barcelona dalam perebutan gelar juara La-Liga Spanyol tahun ini. Dan tentu saja, sebagai penggemar Barcelona, sy menjadi pembenci Real Madrid.
Dalam diskusi terakhir dengan salah seorang teman, sy katakan bahwa kalaupun Real Madrid sedang bertanding melawan Persekabpas Pasuruan sekalipun, saya akan mendukung Persekabpas!

Tidak logis? Tidak realistis? Saya tidak peduli...

Gara-gara sistem head-to-head brengsek di La-Liga, maka meskipun Barcelona mengakhiri musim dengan perolehan nilai yang sama dengan Real Madrid, menang selisih gol, ditambah predikat sebagai tim yang paling produktif membobol gawang lawan, plus paling sedikit kebobolan, dan tidak terkalahkan di kandang, tapi tetap saja Madrid juaranya.

Yaah... tapi tentu kita juga harus berbesar hati mengakui tekad anak2 Madrid yang sangat besar untuk mengakhiri paceklik gelar selama 3 musim sebelumnya, telah berperan besar dalam mendorong mereka menjadi juara. Selamat buat Madriditas! semoga musim depan kita bersaing seru lagi =D

Postingan ini cuma buat ngomongin beginian?
Tentu tidak...
Teman-teman yang sudah sering mampir kesini tentu tau kalau saya suka ngelantur di awal postingan kan? =D

Menerima kekalahan...
Kadang kita suka bertanya, mengapa bisa kalah?
Kadang kita bertanya, mengapa ada kejahatan, sementara Allah dapat membuat semuanya terlihat indah di mata kita?
mengapa ada penderitaan? mengapa ada kesedihan?
mengapa ada neraka kalau semua orang bisa diciptakan untuk masuk surga?
mengapa ada kegelapan kalau semua bisa diciptakan dalam terang benderang?

Pertanyaan-pertanyaan ini tak pelak adalah yang paling sering muncul dalam benak saya dan dalam diskusi-diskusi dengan beberapa teman.

Dalam sebuah malam di Ciburial (Bandung Utara), jawaban seolah muncul dengan samar...

Lampu-lampu kota begitu gemerlap, saling bersaing untuk mengedip, membuat pemandangan malam dari dataran tinggi begitu indah, ditambah bintang-bintang yang mengintip dari atas langit yang cerah.

Apakah Anda suka melihat lampu kota? Bintang?

Semakin saya lihat, sepertinya yang saya suka bukan lampunya. Bukan hanya bintangnya.

Pernahkah kita bertanya, mengapa lampu kota dan bintang-bintang terlihat indah?

Bukankah karena kegelapan yang menyelimutinya?
Kan kalau tidak ada gelap, yang terang tidak akan terlihat indah?
Lantas mengapa kita hanya memuji lampu dan bintang, tapi lupa mensyukuri adanya kegelapan?

Bagi saya... kegelapan itu indah.

Apakah analogi ini bisa digunakan untuk pertanyaan-pertanyaan lain dalam hidup?

Keterangan :
Foto dari (maaf ga minta izin dulu) : www.physics.ohio-state.edu

Thursday, May 24, 2007

Belum Pantas Berkata "Lelah"

Coldplay
"Fix You"

When you try your best but you don't succeed

When you get what you want but not what you need

When you feel so tired but you can't sleep

Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face

When you lose something you can't replace

When you love someone but it goes to waste

could it be worse?

Lights will guide you home

and ignite your bones

And I will try to fix

you High up above or down below

when you're too in love to let it go

but If you never try you'll never know

Just what your worth

Lights will guide you home

and ignite your bones

And I will try to fix you

Tears streaming down your face

When you lose something you cannot replace

Tears streaming down your face and I

Tears streaming down your face

I promise you I will learn from my mistakes Tears

stream down your face and I

Lights will guide you home

And ignite your bones

And I will try to fix you

(Lyrics taken from www.lyricsmania.com)

Aaah... lagu yang liriknya cukup menenangkan.

Dan lagu ini pula yang menandai pergantian judul blog ini dari “sebuah pencarian akan makna” dengan tagline “sebuah tempat pencarian makna kehidupan, tak lebih selain untuk diri sendiri” menjadi salah satu penggalan liriknya. Yang saya pilih adalah “lights will guide you home”. Sebenarnya saya ingin mempertahankan taglinenya, tapi karena diprotes oleh saudari Warastuti terkait masalah hak cipta, maka saya diharuskan untuk memajang nama Coldplay berikut judul lagu tersebut. Tawaran saya untuk menempatkannya di sidebar ditolak mentah-mentah.

Kembali ke topik... (kalau memang postingan ini ada topiknya)

Apa yang terjadi di blog ini, tidak bisa dipungkiri, terkadang mencerminkan kondisi psikis penulisnya (dalam hal ini : ya saya). Apakah lantas hal ini berarti bahwa saya telah “berhenti” mencari makna?

Tentu tidak!

Perkaranya adalah, saya mencoba merenungkan kembali, apa tujuan dari pencarian itu. Dan sepertinya, tujuan pencarian dari setiap pencari adalah... pulang. Ya! Pulang. Pulang ke tempat dimana sebuah jiwa merasa tenang dan ada di “rumah”. Rumah itu mungkin lebih tepat diartikan sebagai sebuah “kondisi”, sebuah “keadaan”. Bukan sekedar sebuah tempat.

Dan kemanakah setiap jiwa ingin menuju kalau bukan ke Tuhannya? Allah SWT...

Sebelumnya, topik ini sudah pernah saya ulas dalam tulisan “Secangkir Kopi Hangat”, dan dalam tulisan itu diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya sang jiwa memang tidak pernah terpisah dari Allah. Satu-satunya hal yang seolah menjauhkan adalah... dunia. Atau dengan kata lain, kehidupan itu sendiri.

Lalu mengapa saya tertarik dengan kalimat “lights will guide you home”??

Alkisah suatu malam, saya naik kereta ekonomi terakhir dari Jakarta, jam 9 malam. Sesampainya di Stasiun Bogor, di sebelah saya berjalan seorang pengamen buta bersama istrinya (yang juga buta). Mereka berjalan di samping saya menuju tempat Angkot (angkutan kota). Tanpa ada yang menunjukkan jalan, mereka melangkah dengan pasti. Begini kira-kira percakapan yang terjadi antara kami :

Saya : “Mau kemana pak?”

Pengemis buta : “pulang dik”

Saya : “Ooo... naik angkot?”

Pengemis buta : “iya, naik angkot disana (sambil menunjuk ke depan)”

Saya : “Maaf pak, bagaimana bapak tahu arah yang benar itu lurus kesana? (sambil berharap semoga dia tidak tersinggung)”

Pengemis buta : “saya ga buta total dik. Masih bisa kerasa kalau ada cahaya. Saya ikuti cahaya lampu jalan saja”

(Dengan dipandu lampu jalan, mereka berdua pada akhirnya bisa mencapai tempat angkot)

Saya pikir, kehidupan pencarian seseorang juga begitu. Jiwa kita tidak sepenuhnya buta dalam melihat tujuan pulangnya. Allah telah memberi kita panduan untuk bisa menyelami makna kehidupan. Dan dalam setiap makna hidup yang kita selami, kita seolah melihat cahaya. Cahaya ilahi. Inilah yang akan memandu kita pulang.

Bukankah begitu?

Selain alasan filosofis tadi, lagu Coldplay yang satu ini juga sepertinya begitu mengena pada kondisi saya sekarang ini. Kelelahan fisik maupun psikis sepertinya sedang menghampiri saya. Satu dan lain peristiwa yang datang membuat saya seperti kehilangan orientasi hidup.

Salah seorang kakak saya waktu di kampus, Teguh Prasetya, akan mendefinisikan kondisi ini sebagai “disorientasi visi” (apapun artinya itu). Tapi saya dan sahabat saya, Arifin, lebih suka menyebutnya sebagai “lagi dapet”.

Masalah pekerjaan di kantor?

Yaa, mungkin itu salah satunya.

Masih teringat peristiwa di awal tahun dimana saya memiliki begitu banyak target finansial yang saya pikir perlu saya perjuangkan. Dari situ, saya terang-terangan di depan seluruh atasan saya “meminta pekerjaan lebih banyak”. Dan pada akhirnya saya memang diberi bobot pekerjaan yang bisa dibilang saat ini 3 kali lipat pekerjaan tahun lalu (karena saat ini memang saya harus memegang 3 project sekaligus).

Kalau akhirnya pada saat ini saya dilanda kesibukan pekerjaan (walaupun masih sempat posting panjang-panjang gini sebagai penangkal stress), saya tidak pernah menyesalinya. Karena memang inilah resiko yang sejak awal saya sadari harus saya tanggung.

Yang menyedihkan adalah ketika alasan saya melakukannya itu yang berguguran satu persatu... Maka jadilah saya kehilangan motivasi dan semangat dalam bekerja. Mengapa? Karena kekhawatiran bahwa semua ini menjadi sia-sia terus menghantui.

Masalah asmara? (halaaaaah... kamana atuh asmara????)

Bisa jadi... Bisa jadi juga sekedar pembenaran.

Seorang sahabat saya yang lain, Novasyurahati, menawarkan sebentuk terapi sederhana. Dia sarankan untuk melihat cermin setiap pagi, lalu sebisa mungkin tersenyum dengan ikhlas. Gagal! Entah kenapa, setiap saya melihat cermin, yang saya lihat adalah bayangan seseorang yang murung dan seolah berkata pada saya : “hadapilah wan, hidup lu cuma lelucon, dan semua orang tertawa kecuali lu sendiri”.

Sampai akhirnya... yah, perenungan pasca perbincangan dengan pengemis buta itu menyadarkan saya kembali.

Saya sadari bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi dengan sia-sia. Allah maha mengatur hamba-hambaNya.

Saya menata kembali impian dan cita-cita saya. 30 tahun? 20 tahun? Berapapun lamanya impian dan cita-cita itu akan tercapai, saya sadari bahwa semua itu harus dilalui tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik.

Maka bukankah kesulitan, kesibukan, atau masalah yang kita alami detik ini hanya sebuah langkah kecil yang dilalui dalam perjalanan pulang kita? Tidaklah pantas untuk berputus asa karena satu perkara, sementara perkara itu hanya satu bagian kecil dari keseluruhan hidup kita.

Saya sadari bahwa selama ini saya memang salah dalam memandang hidup. Terlalu pendek pikiran saya. Masalah apa? Pekerjaan? Jodoh? Keuangan?

Semua hanya masalah dunia. Masalah yang ada dalam dunia mimpi yang belum tentu juga nyata. Saya dipaksa belajar bahwa semua masalah sebenarnya hanya ada dalam pikiran kita.

Masalah cinta dan jodoh misalnya. Saya selalu merasa bahwa selama ini umat manusia terlalu di-ninabobo-kan oleh impian keindahan cinta antar manusia. Padahal yang dibutuhkan hanya niat dan komitmen dalam menjalani hidup bersama. Itu saja. Tapi memang bukan perkara gampang menjaga komitmen pada seseorang apabila setiap hari kita melihat wanita yang lebih cantik atau pria yang lebih tampan misalnya =)) Tapi toh itu masalah yang dangkal. Yang lebih sulit mungkin bagaimana menjaga konsistensi.

Saya dipaksa belajar bahwa keinginan-keinginan bercinta yang utopis antar manusia semacam ini sebenarnya tidak perlu diambil pusing (seperti yang dicontohkan dalam sinetron-sinetron dan film-film picisan untuk remaja). Saya punya cita-cita dan impian yang jauh lebih besar dari itu semua. Toh kalau waktunya sudah tiba, Allah sendiri yang akan menunjukkan jalan. Kewajiban kita hanya berusaha.

Untuk semua masalah lain, toh kita punya Allah yang jauh lebih besar dari semua masalah itu. Bagaimanapun, Allah juga yang kita tuju bukan? Toh hidup kita bukan untuk sekedar menghadapi masalah demi masalah yang datang. Yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana pemaknaan terhadap masalah itu dapat mendekatkan kita pada Allah.

Maka saat ini, saya rasa segala masalah yang saya hadapi bukanlah sesuatu yang akan membuat saya terkapar. Tidak! Allah memberi saya kekuatan untuk berdiri. Allah memberi saya kekuatan untuk terus berjalan. Maka saya akan berdiri, dan saya akan terus berjalan. Semua masalah bisa datang dan pergi kalau mereka mau. Semua orang bisa menemani dan meninggalkan saya sesuka mereka. Karena ketika lahir, saya berada sendirian dalam rahim ibu saya, dan ketika mati nanti, saya juga akan sendirian dalam kubur saya. Tidak ada orang lain. Hanya Allah dan jiwa kita saja.

Lantas mengapa lanturan ini keluar disini?

Maaf saudara-saudara pembaca yang budiman. Ini hanya salah satu cara saya untuk memotivasi diri sendiri. Walau bagaimanapun, hanya ada 2 yang lebih sabar dari manusia dalam mendengarkan sebuah cerita. Allah... dan kertas. Ya, kertas memang lebih sabar dari manusia, dalam mendengarkan cerita-cerita seperti ini. Karena telinga dan mata manusia cepat lelah, lalu otak manusia cepat bosan.

Seorang teman saya yang lain bertanya, lantas apa yang saya butuhkan saat ini?

Saya rasa....

Saya butuh sendiri. Saya merindukan angin malam mendengarkan senandung rindu saya, saya merindukan tidur berselimutkan kabut dan dihangatkan oleh bara api unggun, saya merindukan mentari pagi bersinar ditemani tetes embun di dedaunan, saya rindu melihat bintang-bintang gemerlapan, saya tepekur di bawahnya. Saya rindu gunung. Saya rindu laut. Saya rindu kesendirian bersama Allah, bersama dalam alam yang telah diciptakanNya. Saya selalu merasa, semua kesedihan hanya dapat hilang ketika kita sendiri bersama Allah, dan ditemani oleh keagungan ciptaanNya.

Tapi toh saya sadari, Allah tak pernah meninggalkan kita.

Ketika saya membutuhkan rezeki lebih, Allah menguatkan saya untuk bekerja lebih keras. Ketika saya membutuhkan cinta, Allah memberi saya orang-orang yang berkesusahan untuk saya cintai. Ketika saya membutuhkan kekuatan untuk terus berjalan, Allah mempertemukan saya dengan pengemis buta yang berjalan di samping saya, dan berkata bahwa cahaya akan membimbing saya pulang.

Demi semua impian, demi semua cita-cita, demi pencarian yang tak kunjung habis, demi semua langkah jiwa untuk pulang padaNya, saya belum pantas berkata lelah. Dan tidak akan pernah pantas untuk lelah, kecuali kalau perjalanan saya sudah berakhir dalam dekapanNya.

Maka, melalui sebuah uraian nan panjang dan ngelantur kemana-mana ini... saya resmikan perubahan judul blog saya ini...

“Lights will guide you home...”

Selamat menikmati =)