Friday, January 23, 2009

Ada Apa Dengan Obama?


Beberapa hari lalu, Barack Obama akhirnya dilantik sebagai Presiden AS (Amerika Serikat) ke 44, melalui upacara pelantikan yang dihadiri massa dengan jumlah yang konon katanya merupakan sebuah rekor baru dalam sejarah pelantikan presiden di AS.

Saya pribadi tidak tahu kenapa terpilihnya Obama sebagai Presiden AS terkesan begitu penting di Indonesia, maupun di seluruh dunia. Maksud saya, begitu pentingnya sampai-sampai poin-poin penting yang diutarakan Obama dalam upacara pelantikannya itu sampai dikutip dan dijadikan headline dalam website Depkominfo. Padahal, tadinya saya pikir Website Depkominfo semestinya lebih banyak bicara soal pembangunan bidang komunikasi dan informasi di Indonesia. Kalau berita seperti itu cukup di koran lah.

Demikan juga, entah kenapa Pemilu AS yang kemarin itu seolah dianggap sebagai "Pemilu Dunia". Pun masyarakat (urban) di Indonesia seperti menganggap mereka ikut serta dalam Pemilu itu.

Apa sekedar karena Obama pernah tinggal di Menteng dan punya adik dengan nama Jawa?

Yang jelas, dalam pidato pelantikannya (silakan baca di linknya Depkominfo itu) Obama memang menyatakan bahwa "Kita (AS) siap memimpin dunia sekali lagi". Yah, saya rasa dia cukup punya kharisma untuk itu. Bayangkan, baru pemilunya saja orang di Indonesia sudah harap-harap cemas. Dan ketika Obama menang, banyak juga di Indonesia yang turut berucap "alhamdulillah". Padahal, apa signifikansinya buat Indonesia sih?

Well... sekedar urun rembuk, saya pribadi sebenarnya agak bermasalah dengan perkataan "Kita (AS) siap memimpin dunia sekali lagi" itu. Masalahnya... Indonesia termasuk bagian dari dunia. Ummat Islam juga termasuk bagian dari dunia. Yah, saya rasa saya tidak terlalu setuju kalau Indonesia maupun ummat Islam dipimpin oleh AS. Tapi... siapa juga saya bisa ngomong gitu? :p

Sepertinya wajar-wajar saja orang menyimpan harapan. Maksudnya, siapa tau ada kejadian yang bisa merubah dunia, menjadikan nasib mereka lebih baik, dsb. Dan kehadiran Obama dipandang membawa harapan itu. Wajar, mengingat sepak terjang AS di dunia pada rezim-rezim sebelumnya memang sudah sampai taraf memuakkan. Tapi tanpa disertai usaha dari dalam diri sendiri untuk maju, harapan yang disematkan pada orang (atau bangsa) lain sama saja seperti mimpi di siang bolong.

Saya pribadi tidak memandang kehadiran Obama sebagai Presiden AS ke 44 itu cukup signifikan/esensial untuk menumbuhkan optimisme... ataupun pesimisme... terhadap apapun. Saya lebih melihat hal itu sebagai... perkembangan terbaru. Tidak lebih dari itu. Maksud saya, apakah kita akan berharap perekonomian dunia akan lebih maju setelah Obama jadi Presiden? Atau lebih absurd lagi, apakah perekonomian Indonesia tiba-tiba jadi lebih baik? Saya lebih suka berpikir bahwa SIAPAPUN yang jadi Presiden di negara MANAPUN, pokoknya Bangsa Indonesia ini harus berjuang untuk maju! Yang lain adalah faktor eksternal. Bisa jadi peluang, bisa jadi penghambat. Tapi toh peluang juga tidak akan berguna kalau tidak diambil. Dan penghambat hanya akan menghentikan kita kalau kita sendiri yang memutuskan untuk menyerah. Tidak ada bedanya.

Tanpa usaha pembangunan dari bangsa Indonesia sendiri, sepertinya harapan itu cuma ungkapan lain dari kemalasan untuk berjuang dan berharap kejatuhan durian.

Lebih absurd lagi, entah kenapa tiba-tiba kalangan muslim di Indonesia (dan mungkin juga di banyak belahan dunia lain), juga tiba-tiba menaruh harapan besar pada Obama ini. Harapan bahwa citra Islam di dunia akan berubah, tidak lagi dimusuhi, dan kedamaian akan tercipta, sampai termasuk harapan untuk kondisi yang lebih baik di Palestina, tiba-tiba tercetus di sana-sini, meski tidak pernah diungkapkan secara gamblang sebagai sebuah suara yang bulat (alhamdulillah tidak sampai begitu).

Bagaimana caranya bisa sampai begitu ya?
Apakah karena dulu Obama seorang muslim? Mestinya dipikirkan juga kenapa 20 tahun yang lalu dia menjadi seorang Kristen bukan?

Analog dengan yang pertama tadi, saya rasa lebih baik untuk mengharapkan kesadaran para pemimpin dunia Islam kalau ada sesuatu yang salah, dibanding mengharapkan orang lain bisa tiba-tiba membuat perubahan. Saya rasa, SIAPAPUN yang menjadi presiden MANAPUN, ummat Islam tetap harus membina persatuan kita sendiri, dan berjuang untuk merebut kembali peradaban ini dengan tangan kita sendiri, dengan karya kita sendiri. Bisakah kita melakukan itu?


Mengenai Palestina... hmmm...
Well, mungkin beberapa kutipan berikut bisa menjadi perhatian:
1. Setelah menghimbau israel membuka blokade jalur gaza, di akhir berita diberitakan begini : "Obama juga menyampaikan keprihatinannya yang mendalam atas hilangnya nyawa orang-orang tak bersalah pada konflik Gaza. Selain itu, Dia meminta Hamas menghentikan serangan roketnya ke wilayah Israel. Obama menadaskan pihaknya berkomitmen untuk menjaga keamanan Israel." Berita lengkapnya bisa dilihat disini.
2."Barack Obama menyatakan dukungan kuat untuk Israel dalam pidato kebijakan luar negeri pertamanya sejak menyatakan dirinya menang sebagai calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat." Bisa dibaca lengkapnya disini.
3. dll dll... silakan cari sendiri.

Yah, ketika banyak teman saya seolah bertanya-tanya kenapa Obama tidak berani mengecam Israel atas agresinya ke Palestina baru-baru ini, dan menghibur diri dengan berharap bahwa itu akan dilakukan setelah dia dilantik jadi Presiden, saya geleng-geleng kepala saja. Saya rasa bukan Obama tidak berani mengutuk Israel. Dia memang TIDAK PERLU melakukannya. Itu saja.

Memang, katanya Obama akan memerintahkan penarikan tentara AS dari Irak. Tapi ayolah, semua orang juga tahu kalau Irak adalah sebuah blunder buat AS. Toh tujuan mereka (minyak dan kejatuhan Saddam Husein) sudah tercapai. Tidak ada gunanya lagi memang mereka disana. Itu cuma konsekuensi logis dari blunder Bush kemarin, dan memang jadi dagangan Obama ketika kampanye.

Saya juga sempat bertanya-tanya kenapa Israel "memilih" waktu sekarang untuk menyerang Palestina secara membabi-buta seperti ini. Bukan 4 bulan lalu misalnya. Saya rasa, kalau seandainya Israel menyerang Palestina SEBELUM Pemilu AS berakhir, sikap para kandidat presiden terhadap agresi itu akan sangat mempengaruhi pandangan dunia (termasuk masyarakat AS yang adalah calon pemilih mereka). Jadi, lebih baik serang Palestina setelah Pemilu usai. Jadi, para kandidat tidak perlu berpura-pura mengutuk serangan itu untuk menarik simpati. Dan lagi, kalau para kandidat presiden AS itu menyatakan dukungan pada Israel ketika mereka kampanye, tidak akan ada gejolak terlalu besar, karena Israel belum melancarkan agresi besar-besaran itu.

Teori yang terlalu konspiratif?

Mungkin. Tapi mungkin juga benar, mengingat besarnya pengaruh Israel (dan Yahudi) terhadap AS saat ini, sangat sulit untuk membayangkan ada seseorang yang bisa menjadi kandidat Presiden AS tanpa ada kata "silakan" dari kalangan Yahudi (dan Israel). Toh Obama sendiri sudah sejak masih kampanye sudah menyatakan dukungannya pada Israel. Tentu saja itu sebelum agresi Israel ke Palestina, jadi tidak akan ada terlalu banyak yang mencibir (atau mendengar) mengenai dukungan Obama ke Israel tersebut. Setelah Israel menggila seperti sekarang, ya memang wajarnya dia tidak perlu kutuk mengutuk. Kalaupun dia "akhirnya" mengutuk, toh agresi itu sudah terjadi, dan saya rasa tidak akan ada tindakan lebih jauh (dari sebatas mengutuk/mengecam) pada Israel dari AS mengenai hal itu.

Jadi...
Saya mau ngomong apa?

Saya cuma mau ngomong...

Siapa Obama sehingga begitu pentingnya untuk kita? Kalau dia baik, baguslah. Kalau dia jahat, yasudah. Perubahan nasib ditentukan oleh tangan kita sendiri, dan ridho dari Allah.

Itu saja sepertinya.

Wallahu'alam bish-showab.



NB: Gambar Obama dari sini . Gambar "syuhada kecil" Palestina itu dari sebuah email yang diforward di sebuah milis yang saya ikuti. Saya gatau sumbernya dari mana. Maap semua dipakai tanpa izin yaa...
O iya, saya juga tetap mengapresiasi kemenangan Obama dalam konteks dia adalah "orang berwarna" pertama yang jadi Presiden di AS. Mengingat betapa besarnya pergesekan rasialis di AS, saya rasa itu merupakan sebuah kemajuan besar buat mereka. Selamat buat bangsa AS.

Tuesday, January 13, 2009

We Will Not Go Down

Saya rasa saya tentu bukan orang pertama yang ingin mengungkapkan kebencian terhadap Israel pada hari-hari terakhir ini. Apakah saya akan membuat tulisan mengenai Israel? Sepertinya tidak. Pada tahun 2006 lalu, ketika terjadi krisis kemanusiaan di Lebanon dan Palestina, ternyata saya sudah pernah menulis panjang lebar mengenai Israel dan Amerika Serikat. Percayalah, tulisan itu memang panjang lebar. Kalau mau baca, bisa lihat disini: http://awandiga.blogspot.com/2006/08/menapaki-kejayaan-ditulis-dalam.html

Jadi aneh sendiri. Saya tau pengaruh Israel di Amerika dan dunia. tapi saya gatau kalo pengaruh itu juga kuat untuk negara-negara Arab dan negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim (ya, maksud saya negara kita tercinta ini).

Apa kita butuh Hitler (lagi) untuk mengendalikan orang-orang Yahudi? Tidak, saya tidak benci semua orang Yahudi. Saya cuma benci orang-orang Israel yang memerangi orang-orang Palestina dan membuat propaganda mengenai itu.

Mana yang menurut Anda lebih layak diharapkan? Apakah mengharapkan kesatuan sikap dan tindakan negara-negara Arab dan ummat muslim sedunia terhadap Israel (dan menghentikan semua perundingan kosong yang tidak menghasilkan apa-apa), atau mengharapkan Hitler hidup lagi?


NB: Ini ada lagu dari Michael Heart soal Gaza. Judul postingan ini diambil dari judul lagu ini. Video clipnya bisa dilihat di : http://jp.youtube.com/watch?v=dlfhoU66s4Y


We will not go down (Song for Gaza)
Michael Heart (www.michaelheart. com)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night

While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain

But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In Gaza tonight
We will not go down
In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In the night, without a fight
We will not go down
In Gaza tonight
***

Thursday, October 09, 2008

Selamat Lebaran

Assalamu’alaikum wr. wb.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum.

Selamat hari raya Iedul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga kita bisa menjadi insan yang semakin mencintai Allah…

Wednesday, August 27, 2008

Saya Kembali =D

Saya Kembali... :D

Apakah 5 bulan terlalu lama? Mmm... ya, mungkin terlalu lama untuk ukuran saya yang pada awal-awal pembukaan blog ini biasa mengisinya sampai 2 kali dalam seminggu, lalu mulai menurun frekuensinya menjadi 1 kali seminggu... lalu 1 kali per bulan.

Sekarang, sudah hampir sekitar 5 minggu saya tidak mengisi blog ini.

Sudah agak-agak tidak terhitung lagi berapa banyak ide atau inspirasi tulisan yang datang dan pergi. Dan seperti biasa, ketika saya akhirnya punya sedikit niat untuk duduk di depan komputer dan membiarkan jari-jari ini menari di atas keyboard, tiba-tiba saya kehilangan kata-kata untuk menulis semuanya. Saya rasa ini semacam sindrom yang aneh untuk penulis amatiran yang mengandalkan pada mood dan waktu luang dalam menulis.

Saya rasa ini sebabnya dalam hampir semua sekolah atau kursus mengenai dunia tulis menulis, salah satu hal yang dinasihatkan pada para pesertanya adalah: “Usahakan setiap hari Anda membuat 1 tulisan. Tentang apa saja. Pokoknya, menulislah tiap hari!”. Sepertinya itu akan sangat bermanfaat untuk melatih intuisi, ketajaman, dan feeling dalam menulis. Yah... mungkin saya juga sudah harus mulai melakukan hal itu. Minimal memulai kembali kebiasaan menulis seminggu sekali, dan mulai melatih intuisi dalam menjadikan apapun sebagai inspirasi yang bisa ditulis.

Bukan karena saya bercita-cita menjadikan dunia tulis menulis ini sebagai profesi... (mmm... tapi boleh juga sih...) tapi lebih karena saya sendiri mulai merasa frustasi karena tidak menulis, dan lebih frustasi lagi ketika memaksakan diri untuk menulis lalu mendapatkan hasil yang saya sendiri tidak terlalu tertarik untuk membacanya. Anda pernah mengalami hal seperti ini?

O iya, saya juga ingin berterima kasih pada semua orang yang pernah mengunjungi blog ini, dan terutama pada kawan-kawan semua yang suka berkunjung kesini secara berkala. Maaf saya belum bisa melakukan hal yang sama untuk kawan-kawan semua akhir-akhir ini.

Eniwey, untuk yang bertanya-tanya apa yang saya lakukan akhir-akhir ini (benar sekali saudara-saudara, saya tetap narsis dan ke-GR-an untuk merasa bahwa ADA yang bertanya-tanya mengenai kabar saya), bisa saya informasikan bahwa sebulan terakhir ini merupakan bulan yang cukup membuat kata “istirahat” menjadi sebuah kemewahan. Meski begitu sebenarnya cukup menyenangkan.

Saya rasa saya memang sedang banyak membutuhkan jalan-jalan. Minimal sekedar merasakan suasana baru. Maka ketika tuntutan pekerjaan memaksa saya kadang harus berada di dua daerah (kabupaten/kota) yang berbeda dalam satu minggu dalam satu bulan ini, saya menyambutnya dengan gembira. Yah, walaupun banyak hal yang terpaksa terlewati selama saya tidak berada di Jakarta atau Bandung atau Bogor, tapi mungkin saya memang membutuhkan perjalanan-perjalanan ini.

Paling melelahkan sebenarnya dua minggu terakhir ini. Minggu lalu setelah dua hari bekerja seperti biasa di Jakarta, saya bertolak ke Pontianak dengan pesawat pagi, langsung mengadakan rapat dengan pemerintah setempat, cari-cari data sedikit, lalu langsung melakukan perjalanan darat selama 9 jam menuju Kabupaten Melawi melalui jalan sempit berliku berbatu dan berlubang dengan supir mobil yang sepertinya selalu enggan berjalan dalam kecepatan yang hanya membutuhkan transmisi gigi dua atau satu. Saya rasa tidak mabuk darat dan muntah di tengah jalan adalah sesuatu yang pantas disyukuri.

Tiba di Melawi pukul 1 malam, saya baru bisa tidur pukul 3, dan harus kembali bangun subuh untuk mempersiapkan rapat dengan Pemda setempat di pagi harinya. Selesai rapat, dilanjutkan dengan rapat lain dan wawancara dengan berbagai instansi. Syukurlah Pemda setempat begitu memfasilitasi semua proses ini. Dan ketika semua proses selesai pukul 5 sore, saya memulai perjalanan kembali ke Pontianak pukul 6. Kembali 9 jam dalam ruang sempit beroda 4 yang melaju kencang tanpa mempedulikan lubang atau batu yang menghadang.

Tiba di Pontianak pukul 3 pagi, saya mensyukuri kesempatan untuk beristirahat sampai Jumat Siang sebelum menghabiskan waktu di Bandara Pontianak karena, lagi-lagi, pesawat yang akan saya tumpangi ke Jakarta ditunda keberangkatannya sampai lebih dari tiga jam. Tentu saja Jakarta hanya menjadi tempat menumpang tidur malam itu sebelum besok paginya saya ke Bandung. Keesokan sorenya saya sudah kembali bertolak ke Jakarta untuk mempersiapkan kepergian ke Makassar hari berikutnya.

Ketika tulisan ini dibuat, saya sedang berada di Makassar, baru tiba tadi pagi, dan akan kembali ke Jakarta besok sore untuk pergi lagi ke Kendari besok lusa. Semalam di Kendari, jadwalnya kemudian saya harus ke Kota Bau-Bau, sekitar 4 jam dari Kendari, dan baru kembali ke Jakarta dua hari berikutnya.

Setelah semua selesai, pada hari kedua Bulan Ramadhan (insya Allah), saya akan ke Jawa Tengah beberapa hari dan ke Padang pada minggu berikutnya. Berarti praktis saya dijadwalkan untuk menghabiskan dua minggu bulan Ramadhan tahun ini dalam perjalanan dinas. Menarik juga.

Oke, sepertinya saya sudah cukup membuat Anda bosan dengan tulisan yang tidak jelas tema, pangkal maupun ujungnya ini. Memang tidak bertujuan apa-apa selain memulai kembali mengisi kekosongan 5 bulan ini.

Jadi... Sudah dulu nampaknya.

Sampai jumpa :D

NB: Sayang... kamu tau apa yang paling berat dari semua perjalanan saat ini? Ternyata... berat menanggung kerinduan padamu...

Thursday, April 03, 2008

Es Krim (Seri Makanan Untuk Jiwa)


Anda suka es krim?

Saya tidak tahu sejak kapan saya menyukai benda dingin yang lumer di lidah dan menghangat setelah melewati tenggorokan ini. Tapi yang jelas, memakan es krim dalam jumlah yang lumayan banyak ternyata memang menyenangkan.

Lucunya, semua peristiwa memakan es krim yang cukup memuaskan biasanya justru terjadi tanpa saya rencanakan sebelumnya. Kalau direncanakan, biasanya malah justru tidak terlalu memuaskan, atau bahkan tidak jadi. Merencanakan makan es krim biasanya disertai dengan mengajak beberapa orang teman untuk menemani, atau merencanakan pergi ke tempat-tempat tertentu yang katanya menjual es krim. Perkaranya, saya (sebenarnya) adalah tipe orang yang penyendiri (yeah... right...), dan makan es krim yang paaaaaaling enak dan ketika (mengutip kata-kata seorang teman saya) “memang ada sesuatu yang sedang harus didinginkan”. Nah! Proses pendinginan inilah yang biasanya tidak terlalu berhasil apabila saya berada di tengah-tengah banyak orang yang saya kenal.

Lho? Mengapa?

Karena di tengah banyak orang yang saya kenal sebelumnya berarti saya harus berinteraksi dengan mereka. Dan ketika ada sesuatu yang harus didinginkan (di dalam tubuh saya maksudnya), pertama-tama saya harus berusaha dulu agar ke-“panas”-an itu tidak menular ke orang lain, atau setidaknya, saya tidak ingin orang lain menjadi sasaran ke-“panas”-an saya itu. Alasan lain, bisa jadi beberapa orang tidak suka es krim dan menyarankan untuk pergi ke tempat lain atau membelokkan rencana makan es krim itu.

Maka, saat-saat paling menyenangkan untuk makan es krim untuk saya adalah ketika sedang sendiri menatap langit ditemani hembusan angin yang syahdu (kadang-kadang saya ingin muntah membaca gaya bahasa saya sendiri yang seperti ini), atau sambil teriak-teriak bernyanyi ditemani suara gitar, atau bersama satu orang teman makan yang memang saya undang atau saya harapkan cukup tahan mental untuk berada di samping saya ketika sedang dalam masa-masa seperti itu. Catat bahwa semuanya akan jauh lebih baik apabila terjadi pada malam hari.

Tapi toh tidak banyak orang yang mendapat keistimewaan seperti itu, untuk bisa saya menemani saya makan eskrim ketika saya sedang membutuhkan (semacam selebriti begini ya saya? Geuleuh!). Alasannya bisa bermacam-macam. Bisa karena dia tidak suka es krim (jarang ada orang kaya gini), takut gemuk (yah, no komen, yang jelas buat saya alasan ini absurd), sibuk (no komen juga, mau gimana lagi kalo orangnya emang lagi sibuk kan?), malas jalan (karena jalan-jalan bersama saya biasanya memang berarti “jalan” secara denotatif : melangkahkan kaki banyak-banyak), atau alasan yang paling sederhana : tidak tahan untuk bersama saya (Nah! Alasan inilah yang sebenarnya paling banyak menjadi sebab utama tidak banyak yang bisa menjadi teman makan es krim saya =p).


Pertanyaannya sekarang adalah... “seberapa banyak es krim sebenarnya yang diperlukan untuk mendinginkan hari seseorang?”

Yah, jawabannya akan sangat relatif. Tapi untuk saya (tentu saja saya mengambil diri saya sendiri sebagai contoh, karena ini adalah blog saya =D), jumlah 1 liter adalah jumlah yang rasional. Tapi ya jelas, karena memakan 1 liter es krim tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu 10 menit, harus ada cara supaya esnya tidak keburu lumer. Biasanya, kalau Anda membeli es krim literan di sebuah supermarket anda bisa meminta es batu atau es serut untuk dimasukkan kedalam plastik, dan Anda membawa es-krimnya dalam plastik itu. Nah, metode ini bisa digunakan. Jangan keluarkan wadah es krim dari kantung plastik itu selama Anda memakannya.

Meski begitu, cukup jarang saya membeli es krim 1 liter ini. Selain cukup mahal, biasanya memakan 1 liter es krim sendirian membuat Anda sakit perut setelahnya (meskipun pelampiasan sakit perut itu juga adalah salah satu bagian dari kepuasan yang dapat menenangkan Anda). Jadi saya rasa, harga adalah alasan utama ya? Untuk saya, ya. Apalagi kalau saya sering panas, maka alokasi untuk es krim bisa membengkak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Sayah (APBS).

Maka di Jakarta ini biasanya kemudian saya beralih pada ukuran 350ml atau 400ml. Dimakan sendirian, volume ini seperti mencukupi ketika Anda pertama membelinya. Tapi setelah suapan terakhir, ternyata sendok yang saya gunakan masih saja belum berhenti mengais-ngais tiap tetes yang ada di wadahnya. Seandainya tidak saya kendalikan, lidah saya juga sepertinya ingin segera menjilati dasar wadah itu. Aaaahh... KURAAAAAANG !!! Tapi ya mengingat kondisi finansial, dimana eskrim 350ml atau 400ml (merk Wall’s atau Campina) masih seharga kurang lebih 15 ribu rupiah, maka saya terpaksa mencukupi diri dengan itu. Tapi apakah dapat mendinginkan hati? Dengan sangat berat terpaksa saya katakan... mmm... belum.


Sekarang kita bicara rasa.

Kalau ditanya eskrim rasa apa yang saya paling doyan, itu agak susah dijawab. Tapi standarnya, karena saya juga suka coklat (mengenai coklat akan kita bahas lain kali), maka saya juga suka eskrim coklat. Tapi saya juga terbuka untuk semua varian rasa =D

Kalau bicara merk, ini sangat tergantung dari Anda suka yang seperti apa. Campina menawarkan es krim yang padat, rasa yang kuat, dan kelebihannya, dia agak lama lumernya. Karena padat, Campina lebih mengenyangkan dibanding eskrim umum lain dengan volume yang sama.

Wall’s, di sisi lain, lebih tepat untuk Anda yang menyukai rasa yang lebih lembut. Eskrimnya juga tidak terlalu padat (bahkan agak gembos). Kalau dibiarkan dalam suhu kamar, dia lumernya agak cepat.

Merk lain... mmmm... biasanya sy ga pilih. Hehe, jadi kaya promosi dua merk gini sayah =D

Ya ada juga merk-merk lain yang enak. Baskin-Robbins dan Haagen-Dasz (bener ga sih nulisnya dua merek ini? Bodo ah) juga enak. Saya hanya sempat mencicipi sekitar satu sendok makan untuk kedua merk itu, minta dari teman yang punya uang cukup untuk dihamburkan demi eskrim. Itulah sebabnya kedua merk itu, meskipun saya ingin sekali memakannya, belum pernah saya beli.


Singkat kata singkat cerita (karena tulisan ini memang sudah panjang), Salah satu keinginan saya yang belum terwujud mungkin adalah makan satu liter eskrim coklat sendirian di atas gunung pada malam hari, sambil bermain gitar dan bernyanyi keras-keras, ditemani sebungkus rokok kretek, satu gelas besar kopi kental panas racikan sendiri, dan seseorang untuk berbagi eskrim itu. Satu orang saja =)

Susahnya untuk mewujudkan keinginan itu adalah... kalau sudah di puncak udaranya mungkin sudah cukup dingin, tapi waktu naik gunungnya, gimana caranya menjaga supaya eskrimnya tidak lumer ya?


Eniwey...

Mungkin Anda juga bertanya-tanya mengenai judul postingan ini. Apa yang saya maksud dengan “makanan untuk jiwa”? Banyak orang mungkin akan mengartikan ungkapan ini dengan sesuatu yang berbunga-bunga dan konotatif. Akan ada yang mengartikan ungkapan ini sebagai siraman rohani, sesuatu yang religius, atau apapun yang seolah abstrak. Tapi untuk saya, makanan ini bermakna lebih denotatif. “Makanan” yang saya maksud ya makanan beneran. Sesuatu yang bisa dimasukkan melalui mulut ke perut kita. Tapi saya sebut “makanan untuk jiwa” karena efeknya. Makanan-makanan yang saya kategorikan sebagai “untuk jiwa” ini adalah makanan-makanan yang bisa memberi satu sensasi, meskipun mungkin semu, keindahan atau ketenangan. Mungkin semu, tapi saat ini bahkan keindahan yang semu saja begitu sulit untuk dicari.

Yah, sebenarnya kesukaan saya terhadap eskrim bisa jadi merupakan sebuah pelarian. Pelarian dari dunia mungkin ya? (duuuh... bahasakuuuu....)

Apakah dunia ini memang sudah begitu gila sehingga kita harus terus berlari? Atau mungkin semua orang itu waras dan kita yang gila? Kalau memang begitu, mungkin saya tidak keberatan menjadi gila, apabila melihat ukuran waras orang kebanyakan saat ini.

Di kota ini (Jakarta), orang merasa “waras” ketika mereka merasa telah berbuat apapun (APAPUN!) untuk mengejar dan mendapatkan uang. Uang, uang dan uang. Bentuk kewarasan lain bagi masyarakat urban ini mungkin adalah mereka seolah merasa bahagia apabila mereka merasa, atau mendapat kesan, bahwa ada orang lain yang hidupnya lebih tidak baik dari mereka. Saya rasa itu sebabnya begitu banyak yang mencintai gosip atau sindiran-sindiran sarkastik bukan?

Menarik.

Kita hidup di dunia dimana kejujuran dan kesederhanaan mengenai sesuatu yang sifatnya hakiki sangat sulit diterima. Kita hidup di dunia dimana manusia hanya bisa mendengar apa yang mereka mau dengar.

Maka mungkin yang bisa mendengar sebuah kejujuran, sesederhana apapun itu, memang bukan manusia. Hanya Allah? Ya, mungkin hanya Allah.

Tapi Allah juga menciptakan banyak hal untuk menjadi teman bagi manusia saat ingin meneriakkan isi hatinya. Angin malam, bulan dan bintang, gunung-gunung dan pepohonan, dan semua yang tidak akan memilih mengenai apa yang akan mereka dengar dari kita, tapi tetap setia menemani kapanpun kita butuhkan, dan bisa membuat kita tersenyum dengan berhias ketulusan.

Makanan? Ya makanan juga salah satunya =D


Sampai jumpa di seri selanjutnya =)

Selamat menikmati hidup, dalam satu liter eskrim.



NB : Sayang... adakah yang lebih sederhana dari cinta dan sebentuk mimpi?


Keterangan: gambar dari sini dan sini. Iya, ga ijin. Maap.