Thursday, November 15, 2007

Keajaiban (Episode 2)



TADAAAAAAAA !!!!!!!!!


Saya kembaliii !!!! =D

PENTING banget kan? =p

Yah, tadinya memang saya berniat untuk meneruskan tulisan mengenai "keajaiban" (yang saya tulis sebelum ini). Sudah ada beberapa pikiran yang melayang-layang minta dituliskan mengenai lanjutannya.

Akan tetapi...

Yah, walau bagaimanapun, kadang-kadang kita perlu mencoba bersikap responsif.
Jadi, ada sedikit perubahan rencana. Sepertinya tulisan Keajaiban episode ke-2 tidak akan dikeluarkan sesuai rencana. Sebagai gantinya, dalam judul tulisan yang sama, tulisan ini akan berisi tanggapan balik dari semua komentar yang masuk dari para pembaca episode ke-1.
Untuk menyingkat tulisan, saya tidak akan menulis ulang komentar-komentar tersebut. Saya akan langsung tulis tanggapan baliknya. Jadi mohon maaf, kalau pembaca mau baca komentar-komentar tersebut, silahkan klik kolom komentar di tulisan sebelumnya, atau klik di SINI.

Bagaimana? cukup responsif bukan? =D

Mari kita mulai...

  1. Untuk "RoSa" : Iya bu... soal yang kemarin :D
  2. Untuk "Ipin Jangkrik!" : Iraha atuh? sibuk wae maneh mun urang ka bandung. Gw ragu kalo kita "beda arah". Cuma kita taulah bagaimana tulisan sering menimbulkan penafsiran yang salah. Kemungkinan lu salah menafsirkan tulisan gw pin.
  3. Untuk "teeka" : Dan ternyata ga jauh-jauh, kita mengalami hal yang sama :))
  4. Untuk "catuy" : Ya karena ternyata lu udah menuliskan komentar itu, berarti kita bisa yakin kalo perihal lu nulis komen itu adalah takdir lu dong tuy, dan tulisan gw cuma jalan lu buat memenuhi takdir itu :)) Ya. tentunya Allah menyebut dengan dua nama yang berbeda ("qadha" dan "qadr") itu ada alasannya kan? Tapi yang gw tangkep dari komentar lu ini sih tuy... lu juga bingung mau nulis apaan :)) Yang lu tulis di komentar lu itu udah pernah ditulis di puluhan buku kan? Dan kita tau itu ga nyambung sama pertanyaan gw. Tentu lu punya pikiran sendiri...
  5. Untuk "fathy" : Ga ada yang bilang kalo kita "tak butuh lagi berdoa" kan dra? :p saya pun ga bilang begitu kan? justru sekarang-sekarang ini saya sangat menikmati doa... :)
  6. Untuk "noel" : Sebenernya ini bukan sebuah "interpretasi lain terhadap apa2 yang udah umum". Saya ga terlalu tertarik untuk menimbang-nimbang apakah interpretasi ini sesuai dengan "interpretasi umum" atau tidak. Ya ini sekedar interpretasi yang saya rasakan. Tapi bukan berarti saya sendirian juga. Saya insyaAllah yakin ada banyak juga orang berinterpretasi seperti ini. Ya, insyaAllah dengan interpretasi ini saya malah lebih ngerasain kehadiran Allah mas... soalnya saya ga lagi mikirin apakah doa itu dikabulkan atau engga. Itu terserah Allah. Saya cuma mau ngobrol sama Allah saja. Apa itu malah bisa menjauhkan ya?
  7. Untuk "aku" : Iya... masih inget kok mbak :) apa kabar? sama-sama, selamat idul fitri... mohon maaf lahir batin ya mbak. Iya, mungkin memang hanya itu yang Allah minta dari kita... Yang jelas, konon katanya, salah satu syarat supaya do'a kita dikabulkan itu justru saat kita bener-bener pasrah, dalam pengertian udah terserah Allah aja gimana dan kapan itu dikabulkannya. Iya kan? :) Jadi ironinya disini adalah, kita boleh berharap sesuatu pada Allah, tapi kita harus benar-benar pasrah mengenai bagaimana harapan itu akan dikabulkan olehNya. Lucu juga kalo dipikir-pikir... Allah selalu memaksa kita berada dalam prinsip "jalan tengah" untuk perilaku sehari-hari. Bener nggak mbak?
  8. Untul "teqo" : Ya, dan yang tentu ada salahnya juga :))
  9. Untuk "masadi" : Salam kenal juga. Kenapa atuh ga pernah komen? :p Pertanyaannya sekarang adalah... apakah lauhil mahfudz itu bertuliskan apa-apa yang AKAN menjadi jalan hidup kita (masa depan yang akan kita jalani nanti), atau apa-apa yang SUDAH kita jalani (masa kini dan masa lalu yang akan kita pertanggungjawabkan nanti di akhirat) ?? Atau keduanya?? Sepertinya Anda terlalu saklek dalam memandang mas... termasuk dalam men-judge tulisan saya ini =) Saya bukan penganut faham bahwa manusia tidak bisa mengubah takdir (atau setidaknya, mungkin "qadr" kita ga bisa ubah, tapi "qadha" itu buat sy masih misteri). Saya juga (sudah) tidak berpikir bahwa surga dan neraka ditentukan sejak awal, karena itu tadi, qadha belum ditentukan.
  10. Untuk "ika" : iya, sepakat, perantara antara makhluk dengan Sang Khaliq. Iya, sepakat semua sama yang ika tulis, kan tulisan saya ga ada yang bertentangan sama komentar yg kamu tulis ka? =p yah, kalo kita sudah mengakui kerendahan hati dan ketidakberdayaan kita, kita memang akan jadi tenang kan? karena yakin Allah akan menjaga kita, dan memberi yang terbaik buat kita (yang belum tentu sesuai dengan keinginan kita itu). Betul? Lantas apa yang ika ga sepakati mengenai korelasi doa dengan rasa PD dan ketenangan? Apa ada tujuan lain selain itu ketika kita berdoa? Kalau ada... kenapa?
  11. Untuk "saia" : betul sekali... sepakat dengan Anda.
  12. Untuk "Rhen" : Wsw. Ah...Anda ini... komentarnya seperti menjudge saya ya? =p sayangnya... saya rasa Anda tidak membaca tulisan saya sampai tuntas. Atau setidaknya, Anda bacanya sekedar "scanning" saja kan? =p Coba Anda baca lagi pelan-pelan... ada nggak pernyataan dalam tulisan saya itu bahwa saya "sok tak perlu do'a" ? =) Kalaupun ada, bukankah itu dalam bentuk pertanyaan yang kemudian saya jawab sendiri? =p lebih jauh lagi...beberapa paragraf terakhir saya itu... apakah mengisyaratkan kalau saya tidak lagi butuh doa?
  13. Untuk "nien" : hehehe... nggak terguncang berarti sering mikir gini juga ya? =p btw, blog situ tulisannya juga keren-keren.... iya, semoga bisa lebih produktif...
Nah, demikianlah pembaca yang budiman... tanggapan saya akan komentar kawan-kawan sekalian...

Beberapa hal yang saya tangkap dari komentar-komentar yang masuk tersebut adalah...

pertama, sangat jarang yang membaca (apalagi menyimak) tulisan saya sampai tuntas :)) Tentu saja, ini adalah kesalahan saya yang sampai sekarang masih belum mampu menulis dengan efektif dan efisien :p

kedua, bahasa manusia kadang tidak mempu menuliskan apa yang benar-benar kita rasakan. Seperti orang bijak dulu yang meminta seorang muridnya untuk menuliskan bagaimana harumnya bunga. Tentu tulisan ini tidak bisa menggambarkan semua yang dirasa. Dan itu ternyata terbukti bisa menimbulkan banyak penafsiran yang berbeda-beda. Sebagian bahkan berbeda jauh dari yang saya maksudkan. Ini bisa terjadi pada mereka yang membaca sampai tuntas. Maka, apalagi yang tidak tuntas? =p

ketiga, tulisan semacam ini, apabila tidak didiskusikan dengan benar dan hanya setengah-setengah seperti ini bisa menimbulkan salah penafsiran, bahkan "menyesatkan" buat yang langsung membaca tanpa ditelaah ulang. Semoga pembaca yang budiman tidak demikian...

Dan ketiga hal itu sepertinya cukup untuk mengurungkan niat saya menuliskan episode 2 dari tulisan "keajaiban" =) --> daripada lebih menimbulkan persepsi yang makin jauh sama yang dimaksud =p


Sampai jumpa pada tulisan berikutnya =D

semoga masih mau berkunjung...



NB : Tulisan ini untuk Kita... untuk cerita Kita... untuk malam-malam yang Kita lalui dalam mencari sebentuk ridho dan keikhlasan... =)
Meski kadang lelah dan kantuk mengalahkan kerinduan... dan kadang cinta memaksa derasnya air mata...
Semoga Kita selalu bersama.

Sunday, October 07, 2007

Keajaiban (episode 1)

Agak ragu sebenarnya untuk posting kali ini....

Tapi sesuai judul blog ini, nampaknya ini juga jadi salah satu perjalanan pulang.

Nah, sebelum membaca postingan ini, sepertinya saya harus memperingatkan Anda dulu. Kalau kira-kira tidak siap untuk agak tergoncang sedikit prinsip hidup dan pemahaman beragamanya, mending jangan baca.


MENYERAMKAN BUKAN PEMBUKAANNYA??? =))


Sebenarnya mungkin tidak semenyeramkan itu sih. Cuma ya... sepertinya akan banyak yang menasihati saya setelah postingan ini, terutama soal pemahaman beragama, hadits-hadits, atau mungkin ada yang menuliskan ayat-ayat Qur'an untuk saya =p
Ya kalau ada yang berbaik hati untuk melakukannya, saya akan sangat berterima kasih, walaupun mungkin belum tentu mengubah pandangan saya =D

Mari kita buka dengan sebuah pertanyaan...
Pernahkah Anda mengharapkan... begitu mengharapkan... hadirnya sebuah "keajaiban". Mukjizat. Atau apapun namanya.
Kadang bentuk keajaiban yang Anda harapkan itu sudah Anda tentukan sendiri... atau kadang Anda tidak tahu akan seperti apa keajaiban itu nantinya. Yang jelas Anda tahu bahwa Anda sangat membutuhkannya. Apapun namanya itu.

Lantas, apa yang Anda lakukan untuk itu?
Berusaha? Harus...
Tapi kalau Anda tidak tahu harus berusaha seperti apa, lantas apa yang Anda lakukan?
Tentu kembali pada langkah awal dan akhir Anda bukan?
Ya! Berdoa...

Akan mudah untuk menentukan apakah doa-doa Anda sudah "dijawab" atau belum kalau Anda sudah mengetahui bentuk pasti keajaiban itu akan seperti apa. Lha kalau Anda tidak tau apa yang Anda mau... lantas gimana?

Bingung?
Sama...
Saya meracau apa sih?

Oke, kita ambil contoh...
Menurut Anda, ketika Nabi Musa AS dulu memohon keajaiban Allah untuk menghindarkan dirinya dan ummatnya dari kejaran Firaun, apakah beliau tau kalau bentuknya adalah laut merah tiba-tiba terbelah?

Sejujurnya... saya rasa tidak.
Tapi jelas, keajaiban/mukjizat itu ternyata turun dalam bentuk menakjubkan seperti itu.


Sekarang pertanyaannya, itukah kekuatan doa?

Apakah doa-doa itu akan terjawab sesuai keinginan kita?

Atau pertanyaan mudahnya, benarkah bahwa Allah akan mengabulkan SEMUA doa?

Sekarang kalau misalnya begini....
Ada seseorang (kita sebut namanya Budi, bukan nama sebenarnya) yang punya hutang ke orang lain (kita sebut namanya Joni, juga bukan nama sebenarnya). Nah, si Budi tidak bekerja, dan tidak punya uang sama sekali untuk melunasi hutangnya itu. Padahal sudah jatuh tempo. Di lain pihak, Joni juga lagi butuh uang, dan uang tercepat yang bisa didapatnya adalah dari pembayaran hutangnya Budi.

Maka jadilah kedua orang ini berdoa, karena sudah bingung mau bagaimana lagi. Si Joni berdoa supaya Budi sadar dan cepat bayar hutang, karena dia sama sekali tidak enak kalau harus menagih. Sementara Budi berdoa supaya Joni lupa atau tidak keberatan kalau memberi perpanjangan waktu, tapi dia juga tidak enak kalau harus minta perpanjangan waktu.

Menurut Anda, doa siapa yang akan dikabulkan?

Contoh lain...
Anda tentu pernah bepergian naik kendaraan kan? Pernah naik pesawat? Anda berdoa dulu sebelum lepas landas supaya Anda selamat?

Nah sekarang... apakah doa Anda akan menyelamatkan Anda ketika Allah sudah menentukan bahwa sekarang adalah saatnya Anda pulang (pulang ke rahmatullah maksudnya) ??
Maksud saya, kalau Anda mendengar berita tentang kecelakaan pesawat yang menewaskan semua penumpangnya, apakah menurut Anda tidak ada satupun dari penumpang pesawat itu yang berdoa memohon keselamatan sebelum mereka lepas landas?

Jadi... doa seperti apa yang dikabulkan?

Atau... benarkah bahwa doa-doa itu dikabulkan?
Pertanyaan aneh bukan?

Lucunya, pertanyaan aneh itu ternyata berpotensi untuk memunculkan jawaban-jawaban aneh juga.

Maksud saya, bisa saja bahwa sebenarnya Allah tidak memberi pengabulan atas doa.
Yang diberikan adalah... HIKMAH.

Nah loh... apa pula maksud racauan si Awan ini??


Hikmah adalah pemaknaan kita atas kuasa takdir bukan? Jadi misalnya ada kejadian yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan Anda, suatu saat Anda biasanya akan bisa berkata... "ternyata semua itu ada hikmahnya". Bukankah begitu?

Tentu saja, karena manusia bisa berkehendak sesuka hatinya, tapi toh akhirnya kehendak Allah saja yang terjadi kan? Yang tersisa dari kita hanyalah bagaimana kita mengambil hikmah dari itu. Toh kita tidak perlu khawatir karena Allah saja yang maha mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Kita tau apa? Sejujurnya, kita memang tidak tau apa-apa.


Saya rasa, itulah mengapa doa yang sering diajarkan ke kita adalah "agar kita diberi yang terbaik" oleh Allah. Dengan kata lain, kita serahkan semua pada Allah, dan berharap agar Allah memberi yang terbaik untuk kita.
Tapi toh doa ini menurut saya tetap absurd. Mengapa? Karena menurut Anda, pernahkah Allah memberi kita sesuatu yang bukan terbaik untuk kita? Apa? coba sebutkan satu dari diri Anda yang bukan terbaik untuk Anda! Apakah Anda pernah memintanya pada Allah atau tidak, saya insyaAllah yakin bahwa Anda memperoleh semua yang terbaik untuk Anda dari Allah.

Kalau Anda merasa tidak... saya rasa Anda hanya belum menemukan hikmah dibalik itu. Dengan kata lain, Anda belum berkata... "ternyata semua ada hikmahnya ya..."
Dan biasanya, itu hanya soal waktu. Kalaupun tidak, biasanya kitanya yang tidak mencari (hikmah) itu.

Jadi kesimpulannya apa?
Apakah doa itu tidak ada gunanya?
Atau doa seperti apa yang dikabulkan itu?
Apakah ada doa yang salah dan yang benar? Siapa yang menentukan kebenaran dan kesalahan dalam hal pembicaraan kita dengan Allah?

Dalam benak saya sekarang... gunanya doa tak lebih dari memberi kita ketenangan. Kepercayaan diri. Itu saja. Kalau doa Anda tidak memberi ketenangan pada diri Anda, baru saya rasa ada yang salah dengan itu. Dan biasanya, kesalahan itu ada pada ketidak-siapan kita untuk menghadapi kenyataan kalau memang bukan kehendak kita yang akan terjadi.

Apakah itu yang namanya "Ikhlas"?

Kalau ya... mungkin itulah keajaiban terbesar yang bisa diberikan Allah dalam hati setiap manusia. Mungkin sama nilainya dengan terbelahnya laut merah. Atau kalaupun dulu Allah berkehendak lain pada Nabi Musa AS dan ternyata Nabi Musa AS beserta ummatnya kembali tertangkap oleh Firaun, maka keikhlasan dalam hati sang nabi akan kejadian ini bisa jadi lebih ajaib dibanding terbelahnya laut merah itu.

Perkaranya, hanya Allah yang bisa menentukan kapan keikhlasan itu akan diberikan pada kita. Manusia hanya punya satu senjata potensial yang secara "default" sudah dimilikinya sejak lahir. Senjata itu mungkin adalah apa yang kita sebut dengan "sabar". Saya sebut potensial karena apakah senjata itu akan digunakan atau tidak tergantung pada keputusan pemiliknya.


Jadi, apakah postingan ini sedang menyuruh Anda untuk melupakan doa karena doa itu tidak ada gunanya?

Mmmmm.... bisa diartikan seperti itu....

Atau bisa juga Anda artikan lain.
Kalau kita konsisten meminta suatu keajaiban, maka doa adalah satu-satunya yang kita punya untuk berharap pada Allah. Tapi yang jelas saya hampir sudah melupakan doa-doa "konvensional". Ketika saya berdoa memohon sesuatu... sesuatu yang sangat saya inginkan sekalipun... saya sadar bahwa pada akhirnya kehendak Allah-lah yang akan terjadi (bahkan saya jadi bingung harus berdoa seperti apa kalau mau naik pesawat, toh kalau tiba saatnya saya mati, saya akan mati). Ketika saya memohon untuk diberikan yang terbaik, saya malah tertawa karena seolah tidak yakin bahwa Allah memang SELALU memberi yang terbaik, terlepas dari apakah kita memintanya atau tidak.

Maka doa-doa saya sekarang lebih seperti sebuah perbincangan. Ngobrol. Saya akan resisten kalau ada yang memberi tahu saya bahwa cara saya ini salah, dan bahwa setiap doa seharusnya selalu penuh dengan permohonan-permohonan. Mengapa harus ada yang mengajari saya bagaimana cara saya berhubungan dengan Allah saya?

Satu hal yang jelas... saya tetap seorang manusia...
Saya jelas bukan malaikat yang terbebas dari hasrat (semoga saya tidak lebih dekat pada sifat-sifat setan). Saya belum bisa lepas dari keinginan-keinginan akan keajaiban...

Sedemikian naifnya permintaan akan keajaiban itu, terkadang saya melupakan betapa besar keajaiban yang diberikan pada setiap desahan nafas, pada setiap helai rambut, pada setiap denyut jantung, pada tiap sel di tubuh saya, pada keajaiban siang dan malam, pada keajaiban alam, pada keajaiban takdir... Saya lupa.

Saya tetap meminta terbelahnya laut merah... dan mengesampingkan keajaiban dalam bentuk keikhlasan.

Saya tetap menatap nanar pada langit dan memohon Allah untuk menuntaskan segala kebimbangan, dan terkadang tak sabar ingin segera kembali pada segala kepastian di sisiNya...


Keajaiban...

Ya Allah... kuatkanlah kami...


Wallahu'alam bish-showab


NB : tulisan ini belum selesai... tapi sudah terlalu panjang... kita lanjutkan lain kali. semoga pembuka ini tidak mengarahkan pembaca pada persepsi yang "salah".

Sumber gambar dari id.wikipedia.org

Wednesday, September 26, 2007

Pecahkan Layar Kaca Anda !!!


Yah, sekali lagi mungkin postingan tentang dunia persinetronan kita ya…

Setelah sebelumnya saya mengupas (tidak tuntas) tentang kecenderungan tiru meniru tema yang (terlihat) sukses dalam belantika sinetron Indonesia, sekarang saya ingin sedikit membahas tentang... mutu.

Ya!

Mutu! Kualitas!

Dan sedikit tentang anggaran (anggaran bikin film) juga mungkin.

Darimana mulainya ya?

O iya, sebelumnya tanya dulu, apakah Anda suka menonton sinetron-sinetron yang bermunculan di layar kaca Anda sekarang-sekarang ini? Sinetron apa kalau boleh tau?

Apakah bertema… cinta? (lebih tepatnya mungkin “keinginan bercinta yang utopis”)

Apakah para pemerannya nampak berumur dibawah 40 tahun? (bisa jadi seorang aktris yang berperan sebagai seorang ibu sebenarnya lebih muda dari aktris yang berperan sebagai anaknya… atau minimal hampir seumuran lah)

Apakah semua pemerannya (apabila diukur dengan standar pasca globalisasi) cantik-cantik dan ganteng-ganteng? “Indo” mungkin?

Apakah tidak ada cerita lain diluar cerita cintanya? Misalnya, apakah tidak ada cerita bagaimana mereka bekerja untuk mendapatkan uang guna membiayai gaya hidupnya? Kalau ada lakon yang ceritanya kaya, apakah tidak ada yang menceritakan apa tepatnya yang mereka kerjakan sehingga bisa dilimpahi kekayaan seperti itu?

Dan yang paling penting… Apakah ceritanya bertele-tele tapi akhirnya bisa ditebak dan mirip-mirip dengan puluhan sinetron yang pernah Anda tonton sebelumnya (walaupun ditambah sedikit variasi di sana-sini)?

Kalau semua pertanyaan itu anda jawab “YA”, maka sepertinya kita bisa bersepakat bahwa dunia sinetron memang hampir pasti mentok pada patron itu. Kalaupun ada satu atau dua sinetron yang tidak mengikuti patron itu, atau bahkan mungkin bertentangan sama sekali, ya sepertinya sifatnya hanya sempalan. Minoritas.

Tentu saja, ini bisa tidak berlaku kalau kita membicarakan sinetron-sinetron dengan genre komedi situasi (semacam Bajaj Bajuri, OB, dan lain sebagainya).

Dalam perkembangannya, kemudian muncul juga sinetron-sinetron yang mengaku Sinetron (sok) Religi(us). Meskipun pada awalnya bisa dibilang sebagai sebuah terobosan ”dakwah”, akan tetapi ujung-ujungnya miris juga kalau ”dakwah” itu kemudian dicitrakan dengan mayat berbelatung, dimakan ular, berdarah-darah, atau ditolak oleh bumi (tidak bisa dikubur). Setelah kurang lebih 2 tahun berjaya, sinetron semacam ini sepertinya mulai membuat mual...

Perkembangan terakhir bisa dibilang lebih membuat mual lagi.

Semenjak adanya kebijakan penyiaran yang mewajibkan stasiun-stasiun televisi untuk memperbanyak proporsi siaran produksi dalam negeri (lokal), sepertinya acara-acara dan sinetron “gak penting” mulai merajalela. Kita sepertinya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan stasiun-stasiun televisi mengenai kecenderungan ini. Mengapa? Karena sepertinya wajar kalau dari segi hitung-hitungan bisnis mereka memprioritaskan membuat sendiri tayangan-tayangan itu dengan anggaran seminim mungkin. Yang penting ada yang nonton, dan ada slot untuk pasang iklan.

Ditambah lagi, mungkin terkait juga dengan tingginya tingkat pengangguran di kalangan muda-mudi kita, tayangan ini membuat banyak sekali lapangan kerja di sektor profesi “selebritas”. Maksudnya, kalau anda muda, menarik (cantik/ganteng, lebih bagus lagi kalau indo), dan percaya diri, daripada mengantri untuk melamar kerja, lebih baik meniti karir sebagai pendatang baru dalam belantika artis Indonesia. Karena tayangan sinetron murah meriah membutuhkan pendatang-pendatang baru yang masih mau dibayar murah meriah juga. Lumayan toh untuk pengentasan pengangguran? Jangan khawatir mengenai kualitas akting. Cukup seadanya. Yang penting, diluar film yang Anda bintangi, Anda cukup laku untuk dijadikan bahan gosip di acara-acara ”infotainment”. Dijadikan bahan gosip dalam acara-acara infotainment adalah pengukuhan Anda sebagai seorang selebritas. Selain itu, semakin populer Anda, semakin besar nilai jual Anda untuk meminta honor lebih kalau ditawari main sinetron atau iklan lagi. Kualitas akting? Siapa peduli? Toh dengan saking banyaknya artis-artis baru dewasa ini, cukup kecil kemungkinan nama Anda akan diingat oleh masyarakat. Jangankan nama, tampang saja sebenarnya mirip-mirip.

Maka lengkaplah sudah semua persyaratan untuk memunculkan sinetron-sinetron atau film singkat dengan cerita alakadarnya.

Mengenai tema, toh seorang produser bisa mengambil novel-novel remaja yang baru terbit. Kalau tidak, ambil saja tema dari sinetron luar negeri. Mau yang lebih mudah, ikuti saja patron yang ada. Yang penting filmnya jadi. Kalau tidak, ambil saja cerita-cerita rakyat lokal maupun luar negeri.

Mengenai anggaran, agak luar biasa melihat kreatifitas para pembuat film untuk melakukan penghematan. Untuk cerita-cerita rakyat zaman dahulu misalnya, jangan khawatir mengenai anggaran membuat setting zaman belanda atau zaman kerajaan Majapahit dulu. Bahkan Sangkuriang dan legenda tangkuban perahunya saja sah untuk digambarkan memakai celana jeans, mobil keluaran terbaru, dan telepon selular. Siapa yang mau protes?

Padahal agak aneh juga melihat orang-orang dengan telepon selular masih minta dibuatkan candi sebagai syarat menikah, atau dibuatkan danau beserta perahunya dalam satu malam, lalu masih tertipu dengan suara kokok ayam yang menandakan datangnya fajar. Satu-satunya yang terlihat wajar justru adalah bangsa jin dan segalam macam makhluk halus yang membantu pembuatan candi atau danau itu. Mereka masih tampil konvensional dengan bertelanjang dada dan bercelana kain tanpa sepatu, lengkap dengan tampang seramnya. Diluar itu, hampir tidak ada yang wajar.

Untuk mereka yang berprasangka baik, tentu ini akan disebut sebagai sebuah kreatifitas dan usaha yang baik untuk “membumikan” kisah-kisah lama dalam konteks kekinian. Akan tetapi, untuk orang seperti saya yang terlahir dengan bakat sinisme yang agak parah (sengaja saya pakai kata “sinisme” karena “prasangka buruk” itu katanya tidak boleh), sepertinya ini sekedar upaya agar dapat memproduksi tayangan dengan cepat dan murah.

Mengenai efek visual, jangan berharap menyaksikan efek visual semacam film Transformers yang beberapa waktu lalu merambah bioskop-bioskop kita. Cukup dengan animasi komputer sederhana yang masih tampak kasar dan tidak menyatu dengan latar belakangnya, efek visual di layar kaca kita ternyata sudah dinilai baik.

Saya ingat beberapa hari lalu terpaksa menemani ibu saya menonton sinetron singkat “Legenda Pelabuhan Ratu”. Cukup menarik menyaksikan bagaimana film itu menggambarkan kepanikan ketika air laut menjelma menjadi tsunami yang menenggelamkan sebuah desa di lokasi yang sekarang disebut Pelabuhan Ratu. Cukup dengan menyuruh beberapa orang berlari-lari tidak karuan sambil teriak-teriak (walaupun masih tampak beberapa orang tersenyum karena tidak tahu harus lari kemana) dan efek ”menggoyang-goyang kamera ke kiri-kanan-atas-bawah”, nuansa kepanikan itu dianggap paripurna. Adapun tsunami digambarkan dengan gambar ombak yang di-crop lalu ditaruh diatas orang-orang yang berlari-lari itu. Luar biasa aneh.

Kemudian dimunculkan gambar rumah-rumahan yang terbuat dari karton lalu disiram air dengan teknik yang terlihat seperti sekedar menyeborkan air dengan menggunakan gayung. Persis mirip dengan film Ultraman di awal tahun 80-an (tahu Ultraman kan?). Benar-benar low-budget bukan?


Lantas bagaimana dengan dunia layar lebar?

Lagi trend horor-horor lucu ya?

Sekitar setengah tahun yang lalu saya pernah bertanya-tanya, bagaimana kalau semua setan dan makhluk halus sudah habis “digarap” oleh dunia perfilman kita. Dan sekarang saya tahu jawabannya… MEREKA MEMBUAT SEKUEL!!!

Pocong 2, kuntilanak 2, jelangkung 3, dan lain sebagainya. Kalau bukan sekuel, ya makhluk yang sama dieksploitasi di film lain. Sejauh ini, sepertinya Kuntilanak dan suster ngesot yang paling laris.

Yaaah… saya rasa inilah periode dimana tayangan-tayangan gak penting merajalela di layar kaca kita. Dan bintang-bintang muda dengan penampakan serupa membuat pusing masyarakat yang masih mencoba-coba mengingat nama-nama mereka.

Mari kita nikmati bersama saja ya…



Keterangan :

Gambar diambil dari www.tpi.tv, www.10kbullets.com, dan www.sinema-indonesia.com

Sekali lagi tanpa izin... maaf ya...

Monday, August 13, 2007

Pindah Ruangan

Wah... lebih dari sebulan blog ini ga keurus ya...

Ada yang penasaran menunggu update-nya?
Demi ego saya yang tengah memuncak ini, tolonglah, setidaknya satu orang saja, tolong katakan “YA” (haiyah! dibuka dengan narsisme yang kambuh).

Oke, yang tadi sama sekali tidak penting.

Yah, beberapa bulan terakhir ini saya kebetulan memang disibukkan oleh berbagai perjalanan dinas. Yang terakhir (yang membuat blog ini lama tidak terurus), adalah ke Bandung, Palembang, Samarinda (2 kali), dan Kendari. Yaaah, tapi, ini sekedar alasan saja sih. Alasan “malas” sebenarnya cukup dominan juga =D

Alasan lain (yang akan menjadi topik tulisan kali ini), adalah tergusurnya saya dari ruangan kantor yang telah saya tempati selama lebih dari 2 tahun terakhir ini. Sekretariat ILGR. Karena alasan yang kalau saya kemukakan disini juga sepertinya akan sulit dimengerti, ruangan itu memang dibongkar dan karenanya para penghuninya (termasuk saya) harus pindah ke tempat lain. Akhirnya saya tahu juga rasanya jadi korban penggusuran.

Nah, dalam pemindahan itulah, sampai sekarang saya belum menemukan tempat yang tetap untuk meletakkan komputer kerja saya. Jangankan tempat menaruh komputer, meja pun masih belum jelas dimana.

Selama beberapa hari (atau minggu) setelah penggusuran itu, saya tahu bahwa kondisi emosional saya akan sedikit terganggu. Lha? Mengapa?

Teman-teman yang telah mengenal saya dengan cukup baik sebelumnya mungkin akan mengetahui salah satu keanehan dalam diri saya ini. Saya orang yang cukup sentimentil dengan dimensi ruang. Dengan kata lain, sentimentil dengan “tempat”.

Maksudnya bagaimana?

Maksud saya, seandainya saya ke Bandung dan mengunjungi kampus lalu melewati Gerbang Ganesha misalnya, maka tanpa dapat dicegah, ingatan saya akan mengenang kapan pertama kali saya memasuki gerbang ini, kapan terakhir kali saya keluar dari gerbang ini dengan status “mahasiswa”, peristiwa-peristiwa apa saja yang pernah saya lalui disini, dan sebagainya. Selain gerbang ganesha, tempat lain yang akan menimbulkan kesan sentimentil itu mungkin adalah ruang himpunan mahasiswa, gedung campus center (yang dulu masih bernama student center dan menjadi tempat kos kedua saya di Bandung), lapangan basket, dan sebagainya. Jangankan ruangan-ruangan itu, bahkan pohon besar yang berdiri tegak di depan gerbang timur Mesjid Salman saja masih membuat saya tersenyum setiap kali melewatinya (jangan tanya memori apa yang pernah terjadi di bawah pohon itu ya! =P ).

Aneh kan? Tapi memang begitulah adanya.

Apakah Anda juga begitu? Maksud saya, apakah ketika Anda memasuki sebuah tempat baru, Anda berjalan dengan lambat dan memasukkan semua aspek dalam dimensi ruang itu kedalam memori anda? Dan ketika meninggalkan tempat itu, apakah Anda juga meninggalkan sebagian emosi Anda didalamnya?

Begitulah yang terjadi dengan ruang ILGR yang tadi kita singgung di awal tulisan ini.

Bagi sebagian orang, pindah ruangan kerja mungkin menjadi sesuatu yang jamak. Bagi saya juga. Tapi emosi dan memori yang menyertainya bukan sesuatu yang mudah untuk dijinakkan.

Masih teringat dengan jelas, ketika saya memasuki ruangan itu untuk pertama kali, saya langsung memilih tempat didepan pintu kaca yang bisa dibuka, agar saya bisa mendapat udara segar kapanpun saya butuhkan. Yang duduk di sebelah kiri saya adalah Amel, meja di depan saya ditempati oleh Deyla dan Eji. Meja di sebelah kanan saya ditempati oleh Mas Mahendra, di sebelah kanannya lagi ditempati Mas Perdana, dan di pojok paling kanan di tempati oleh Pak Aris. Mas Hasan biasa memakai komputer yang berada di tengah ruangan, walau hanya sesekali.

Satu bulan setelah saya masuk, Pak Aris keluar karena berselisih dengan atasan. Ia digantikan oleh Mas Tauhid, meskipun sangat jarang beliau masuk kantor dan lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di tempat lain. Mas Perdana dan Mahendra kemudian juga ditempatkan di sekretariat lain, dan hanya sesekali datang ke ruangan. Kemudian, masuklah Petty, menempati komputer yang sebelumnya biasa digunakan Mas Hasan. Mas Hasan mengungsi ke tempat yang ditinggalkan Pak Aris.

Tak lama kemudian, Eji dan Amel juga pergi karena masa Kerja Praktek mereka sudah berakhir. Petty kemudian menempati meja yang ditinggalkan Amel, di sebelah kiri saya. Maka praktis yang tinggal di ruangan tinggal berempat (Saya, Petty, Deyla, dan Mas Hasan). Setengah tahun kemudian, Deyla pergi karena mendapat kerja di tempat lain. Ia digantikan oleh Nissa, yang tiga bulan setelah itu keluar karena menjadi PNS di tempat lain. Nissa digantikan oleh Griya, yang juga hanya bertahan tiga bulan, kemudian pergi karena menerima tawaran kerja dari tempat lain. Petty kemudian juga berpindah ruangan, walaupun masih di gedung yang sama. Griya digantikan oleh Ika, dan tak lama setelah itu, masuk orang baru bernama Mas Kholid yang menempati tempat yang dulu ditinggalkan oleh Mas Perdana. Tak lama kemudian, masuklah Ervin yang menggantikan Petty. Meski begitu, Ervin hanya bertahan kira-kira 3 bulan di ruangan itu, kemudian dipindahkan ke tempat lain, meski masih sering bulak-balik ke ruangan kalau ada keperluan.

Setelah itu, masuklah Mbak A’yun, ketika itu dalam status magang, dan menempati tempat di sebelah kanan saya yang dulu ditempati Mas Mahendra. Penghuni ruangan mulai mapan lagi (Ika, Kholid, A’yun, Mas Hasan, dan saya). Kemudian, masuklah Imas, menempati meja di tengah. Setelah itu, masuklah Nissa (Nissa yang lain lagi dengan Nissa yang pertama), menempati meja yang dulu ditempati Eji. Nissa hanya bertahan 2 bulan, kemudian keluar karena menerima tawaran di tempat lain, dan digantikan oleh Dwi.

Maka, itulah dia formasi terakhir ruangan ILGR! (Ika, Dwi, Imas, A’yun, Kholid, Mas Hasan, saya sendiri, dan ditambah Pak Ucen yang masuk kantor 2-3 kali seminggu). Saya yakin, 4 paragraf terakhir terasa membosankan bagi Anda semua, karena Anda TIDAK TAHU SAMA SEKALI SIAPA ATAU APA YANG SAYA OMONGKAN =)). Maaf ya =P.

Tapi, kalau Anda mungkin sedikit memperhatikan 4 paragraf itu, akan Anda temukan bahwa saya dan Mas Hasan adalah 2 orang yang sejak saya pertama kali masuk ruangan itu (2 tahun yang lalu) MASIH TETAP =D. Yang lain sudah datang dan pergi semua. Fiuuh... kenyataan yang aneh kalau mengingat bahwa sejak awal sebenarnya saya tidak berniat untuk berlama-lama di instansi ini.

Dan, karena keanehan yang tidak terjelaskan seperti yang saya utarakan di awal tadi, beberapa hari setelah penggusuran, saya masih membawa-bawa kunci ruangan ILGR di saku celana saya, karena reflek setiap pagi untuk menyambar HP, dompet, dan kunci ruangan ketika akan meninggalkan rumah ke tempat kerja masih belum berubah. Demikian juga, bahkan sampai sekarang ini, setiap kali melihat puing-puing ruangan ILGR yang sudah rata dengan tanah, saya seolah masih melihat dengan jelas apa-apa yang dulu pernah ada disana. Semua komputer, meja kursi, semua permainan kartu, canda tawa, diskusi, tangis (lha? Tangis?), kemarahan, kebahagiaan, kesedihan, perenungan, dan semua emosi yang pernah terlepas disana.

Bukan hanya pada ruangan ILGR saja. Semua tempat lain yang pernah saya kunjungi pun akan mendapat perlakuan sama. Seolah, semua memori dan emosi yang pernah tertumpah di satu tempat selalu menyapa saya ketika kembali ke tempat itu. Dan ketika itu terjadi, maka langkah saya akan melambat, mata saya akan terpejam untuk beberapa saat, dan menunggu angin membisikkan beberapa patah kata di telinga saya : “selamat datang kembali”.

Thursday, July 05, 2007

Tak Tertebus...

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)


Aaaah... wahai Sapardi Djoko Damono, sampai sekarang belum berkurang kesukaan saya terhadap puisi Anda ini.

Mungkin karena kita berdua begitu mencintai dunia mimpi? Dunia angan-angan yang jauh menembus khayalan.

Seandainya Anda tahu,

Bagi saya, bahkan ternyata sebuah “kesederhanaan” itu kadang begitu mahal.

Kadang tak tertebus...


Keterangan : Gambar diambil dari (maaf ga minta izin dulu) www.ithb.ac.id/images/anyer/anyer_unggun1.jpg